Sore itu dari Cirebon saya menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam menggunakan jasa travel. Armadanya cukup nyaman dan tidak ugal-ugalan.
Perbaikan Jalan Tol Cipali
Sebelum sampai di rute tol Cisumdawu, travel melewati kawasan tol Cipali yang pemandangan sebelah kirinya terdapat banyak lahan semi hutan yang masih ditumbuhi pepohonan. Menariknya pepohonan tersebut sedikit gersang karena hanya tersisa sedikit dedaunan. Beberapa bagian pohon lainnya seperti nampak terbakar karena menyesakkan warna hitam di sekujur kayunya.
Melaju kurang lebih 5 kilometer justru terdapat bahan bangunan seperti semen, batu bata yang belum jelas peruntukannya. Entah untuk memperbaiki jalan atau akan membangun pemukiman.
Kemacetan pun terjadi , beberapa mobil dengan berbagai macam plat antri untuk bisa melanjutkan perjalanan. Tak lama terdengarlah sapaan dari penumpang pasangan lansia yang berasal dari Kota Bandung.
"Macet ya pak lagi perbaikan jalan ?" Tanya seorang ibu
" Muhun Bu biasa akhir tahun"
" Hahahah biasanya pak ngabisin anggaran" timpal suami ibu
"Ah nya kitu Weh" jawab kembali sang supir
"Muhun katambih sengaja ngerjakeunna siang supados katinggal Aya buktos" timpal kembali supir
Serempak hampir seluruh penumpang tertawa mendengar itu. Seperti ada kesepakatan bersama bahwa begitulah sebagian pengerjaan jalan yang ada di Indonesia. Percakapan kembali membuka ruang diskusi ketika pekerjaan jalan dibuat sengaja berjarak agar jalan yang diperbaiki terlihat lebih panjang. Mendengar apa yang diceritakan membuat saya mengingat tulisan dari buku "Orang-orang Proyek" karya Ahmad Tohari.
Biaya Hidup Semakin Naik
Dalam pembicaraan itu pun terselip bagaimana masyarakat kecil berjuang di tengah sulitnya ekonomi hari ini. Harga bahan pokok, bahan bakar, hingga kebutuhan pendidikan semakin membengkak. Namun hal ini tidak sejalur atau sebanding dengan biaya gaji yang didapatkan selama bekerja.
Sebelum pembicaraan ini lewat saya berpikir bahwa supir travel itu mendapat gaji sehari 200-300 ribu. Namun di lapangan keringatnya dihargai dengan Rp.80.000 satu rute untuk perjalanan pendek. Sementara untuk perjalanan jauh supir diberikan uang Rp.100.000. Sejauh ini menurut penuturan sang sopir dalam satu hari dia hanya akan menarik dua rute itu pun rasanya sudah capek.
Bagi saya orang awam tentu gaji demikian tidak sebanding dengan potensi resiko kecelakaan kerja yang bisa datang kapan saja. Namun terkadang kita juga perlu melihat dua sisi karena banyak pebisnis di negara kita yang juga harus struggel dalam bisnis. Mereka mencoba terus bertahan dari para pesaing bisnis dari kondisi politik yang mempengaruhi alur ekonomi. Bagaimana terus bertahan dan beroperasi karena banyak karyawan yang bernaung di dalamnya.
Lantas kita bersama adalah korban dari sistem yang tidak selalu berpihak pada kondisi rakyat kecil. Lagi dan lagi para pekerja dan pengusaha di bentrokkan dengan kondisi sosial politik yang terjadi di negara kita.
Masihkan worth it untuk memiliki anak ?
Masih menjadi pembicaraan yang menyambung dari topik yang tadi adalah bagaimana kemampuan seorang kepala keluarga untuk memberikan kebutuhan yang layak untuk kenyamanan dan masa depan anak-anaknya. Dari cerita yang saya dengar bapak sopir memiliki tiga anak yang jaraknya sangat berpengaruh terhadap ketersediaan dana pendidikan.
Menurut penuturan, anak pertamanya sedang duduk di kelas 3 SMA, anak keduanya sedang mengenyam di bangku SMP sementara anak bungsunya baru sedang duduk di kelas 6 SD. Bisa kita bayangkan bagaimana tahun depan bapak tersebut harus menyediakan uang untuk masuk perkuliahan, masuk tingkat pertama SMA dan tingkat pertama SMP.
Dengan segala kebutuhan yang luar biasa itu tentu sangat sulit dengan apa yang beliau kerjakan. Meski kita tidak pernah tahu kalau rezeki bisa datang darimana saja. Namun secara logika berpikir tentu kondisi yang mungkin masih banyak dialami oleh sebagian anak dalam keluarga di Indonesia yaitu kesempatan mengenyam pendidikan yang jauh lebih tinggi.
"Saya sih pasrah minta tolong aja sama yang maha Kuasa"
Sekilas tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut. Namun kondisi ini juga terjadi tidak hanya berdasarkan satu faktor yaitu keputusan untuk menikah dan memiliki anak.
Menikah dan memiliki anak tidak hanya dianjurkan oleh agama tapi juga oleh tuntutan eksistensi agar manusia tetap hidup berkesinambungan mewariskan keturunan.
Faktor lain juga berasal dari sistem negara kita yang masih membiarkan banyak ketimpangan. Solusi klasiknya hanya memberikan bantuan sosial kepada masyarakat yang biasanya banyak yang tidak tepat sasaran. Sebetulnya masyarakat kita lebih banyak yang membutuhkan pekerjaan untuk terus menyambung hidup bukan bantuan yang hanya sesekali dan bisa habis dalam waktu yang singkat.
Jadi bagi saya memiliki banyak anak di zaman sekarang tidak bisa dibilang sepadan atau tidak. Hal ini bisa disesuaikan dengan kondisi mental dan ekonomi seseorang. Juga kita perlu mengukur batas diri untuk tahu apakah kita bisa memiliki anak banyak atau secukupnya. Karena saat anak dilahirkan ke dunia yang perlu diberikan tidak hanya makanan tapi juga pendidikan dan rasa akan. Lalu bagaimana rasa aman itu akan datang jika kita terus-menerus hidup dalam keadaan ekonomi yang tidak stabil. (*)