Ayo Netizen

Ngopi Tahun 1980-an

Oleh: bram herdiana
Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung)

Menyeruput secangkir kopi atau ngopi pada tahun 1980-an tentu sangat kontras dengan tempat ngopi masa sekarang. Banyak kenangan tentang Kota Bandung dekade 1980-an yang bisa saja tidak ditemukan lagi dalam kehidupan kota sekarang.

Pada masa itu, menikmati kopi bukan sekadar kegiatan untuk menghilangkan tunduh, namun merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Warung kopi menjadi tempat singgah bagi banyak kalangan, mulai dari tukang becak, sopir angkutan kota, pedagang, buruh, pegawai hingga orang-orang yang ingin menghabiskan waktu berbincang-bincang dengan siapapun yang ada di warung kopi, sambil bermain catur, gapleh atau remi.

Kalau membayangkan nuansa Bandung tahun 1980-an, warung kopi biasanya berdiri di tempat yang strategis. Tidak perlu bangunan permanen atau ruangan nan sejuk. Cukup sebuah bangunan kecil dengan tiang kayu, dinding dari papan, bilik atau anyaman bambu, dan atap sederhana. Lokasinya sering berada di perempatan jalan, dekat pangkalan becak, terminal, pasar tradisional, atau persimpangan tempat orang banyak berlalu-lalang.

Ketika pagi udara Bandung masih terasa dingin dan sering berkabut, warung kopi sudah mulai buka. Di depan warung, beberapa tukang becak biasanya sudah berkumpul. Ada yang sedang menunggu penumpang, ada yang baru selesai mengantar seseorang ke pasar, dan ada pula yang sekadar ingin menikmati kopi sebelum kembali mengayuh becaknya mencari penumpang.

Meracik kopinya juga masih sederhana. Peralatan dan bahan hanya kompor minyak tanah, teko besar atau panci, gelas-gelas kaca, stoples kopi bubuk dan gula pasir. Kompor minyak tanah menjadi bagian penting, api kecilnya menyala untuk menjaga air selalu panas. Teko besar atau panci yang digunakan untuk merebus dan menyimpan air panas.

Kopi yang disajikan umumnya kopi hitam. Tidak banyak pilihan seperti sekarang. Tidak ada istilah espresso, latte, americano, atau kopi dengan berbagai campuran rasa. Cukup kopi bubuk, air panas, dan gula pasir, karena saat itu belum populer kopi es. Pemilik warung memasukkan beberapa sendok kopi, gula ke dalam gelas, kemudian menuangkan air panas. aroma kopi langsung menyebar terasa. Bagi para penikmatnya, aroma itu mampu membangkitkan kembali gairah hidupnya.

Ada pelanggan yang meminta kopi pahit tanpa gula. Ada pula yang menyukai kopi dengan gula pasir cukup banyak. Sebagian memilih tambahan susu kental manis agar rasa kopi menjadi lebih lembut dan manis. Takaran penggunaannya disesuaikan dengan selera pelanggan. Kopi kemudian diaduk menggunakan sendok kecil hingga gula dan susu tercampur rata.

Biji kopi Arabika asal Jabar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Pelanggan biasanya memegang bagian atas gelas dengan hati-hati karena panas. Ada yang langsung menyeruput sedikit demi sedikit, ada pula yang menunggu beberapa menit sampai suhunya lebih nyaman diminum. Menariknya, kopi di warung seperti ini sering kali terasa lebih nikmat ketika diminum sambil duduk di bangku panjang dan menyaksikan kesibukan masyarakat sekitarnya.

Obrolan biasanya dimulai dari hal-hal sederhana. Tentang cuaca Bandung yang dingin, kondisi jalan yang mulai ramai, harga beras, harga minyak tanah, atau kabar tentang pasar yang sedang ramai pembeli. Warung kopi bukan hanya tempat minum. Di sinilah berbagai macam materi percakapan berlangsung. Ketika suasana mulai ramai, pembicaraan bisa berkembang ke mana-mana.

Ada yang membicarakan pertandingan sepak bola, terutama klub kesayangan mereka. Persib Bandung menjadi salah satu bahan pembicaraan yang menarik. Kemenangan atau kekalahan Persib bisa menjadi topik yang diobrolkan cukup panjang. Tidak jarang pula muncul perdebatan kecil mengenai politik, kebijakan pemerintah, keadaan ekonomi, atau berita yang masyarakat ketahui melalui TVRI, radio dan surat kabar.

Menariknya, percakapan di warung kopi berlangsung tanpa harus membuat janji. Siapa pun boleh bergabung. tidak terhalang oleh jabatan, pekerjaan, atau status sosial. Seorang pedagang bisa duduk berdampingan dengan pegawai kantor, tukang becak, atau sopir angkutan kota.

Ngopi tentu terasa kurang lengkap tanpa makanan kecil. Warung kopi Bandung pada masa itu biasanya menyediakan berbagai jenis kue tradisional dan gorengan seperti bakwan. Untuk pilihan kue, ada bolu kukus, kue lapis, onde-onde, nagasari, lemper, dan beberapa jajanan pasar lainnya. Jenis makanan yang tersedia bergantung pada pemilik warung dan pemasok kue dari pasar sekitar.

Cara orang menikmati kopi juga berubah, kopi pun punya filosofi. Kopi tidak lagi sekadar minuman hitam dengan gula pasir atau susu kental manis. Kopi telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup perkotaan. Namun, ada sesuatu yang mungkin tidak bisa digantikan oleh berbagai kemewahan kedai kopi masa kini yaitu suasana obrolan dan kebersamaan yang tumbuh secara alami di warung kopi sederhana. (*)

Reporter bram herdiana
Editor Aris Abdulsalam