Beranda

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Oleh: Nisrina Nuraini Selasa 03 Feb 2026, 07:12 WIB
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)

AYOBANDUNG.ID - Tuntutan kehidupan sudah selayaknya mewarnai setiap musim kehidupan selama hayat masih dikandung badan. Himpitan hidup kian membengkak dari berbagai aspek, mulai dari dinamika sosial, ekonomi, hingga gaya hidup. Situasi tersebut perlahan menjadi “makanan sehari-hari” yang seolah tak kunjung usai. Perkembangan teknologi pun turut memperkeruh keadaan, sebab generasi saat ini kerap menetapkan standar hidup berdasarkan gambaran yang terus digaungkan melalui media sosial.

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini. Ketidakpastian dalam menghadapi siklus kehidupan kerap dianggap sebagai ancaman eksternal yang paling berpengaruh terhadap kesehatan mental.

Fenomena kecemasan tentang kehidupan—yang mayoritas berakar pada kekhawatiran akan masa depan—kemudian membuka ruang bagi Komunitas Temu Tumbuh untuk menyediakan wadah diskusi bebas yang berpusat di kawasan Antapani.

Meski bersifat home-based dalam pelaksanaan kegiatannya, lokasi komunitas ini tidak serta-merta membatasi keanggotaan hanya bagi warga Antapani atau mereka yang memiliki kriteria tertentu.

Handry Sidrata selaku pendiri Temu Tumbuh mengatakan komunitasnya menerima siapa pun yang berminat untuk ikut bergabung. "Mari kita saling berbagi dan terbuka satu sama lain di ruang aman Temu Tumbuh,” ungkap Handry sambil menyambut setiap anggota baru yang datang.

Temu Tumbuh hadir di tengah masyarakat Antapani untuk membuka ruang diskusi yang aman, nyaman, dan tenteram. Ruang ini diharapkan dapat menjadi peluang untuk saling mengenal satu sama lain, sekaligus berdiskusi mengenai topik-topik yang telah disesuaikan setiap minggunya oleh tim konten dan pengelola.

Salah satu topik yang paling diminati warga Kota Bandung, khususnya masyarakat sekitar Antapani, adalah seminar yang berkaitan dengan self-improvement dan self-development. Topik ini kerap bermuara pada pembahasan soft skill dan hard skill, termasuk isu kesehatan mental serta konten self-help yang relevan dengan pengalaman mayoritas generasi Z dan milenial saat ini.

Kelas diskusi diawali dengan pemaparan konsep kecemasan secara sederhana, yang dapat langsung dirasakan oleh para partisipan. Nadhira Meindy, M.Psi., selaku pembicara sekaligus Psikolog Klinis dari Palamarta Psychological Center, memimpin sesi awal dengan memancing sisi “kecemasan” audiens secara tidak langsung. Ia mengawali sesi dengan mengajak audiens memainkan permainan sederhana, yakni suit, untuk menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Metode tersebut terbukti menjadi pemantik yang efektif. Seusai permainan, beberapa audiens mengaku merasakan gejala kecemasan dalam diri mereka. Ada yang merasakan jantung berdebar kencang, bahkan telapak tangan menjadi basah karena terlalu gugup mengikuti ritme permainan.

“Kecemasan, atau yang sering kita sebut sebagai anxiety, dewasa ini merupakan sebuah peringatan layaknya fitur ‘alarm’ dalam handphone yang kita pakai. Keberadaannya sebagai respons alami tubuh bisa terjadi secukupnya pada manusia,” jelas Nadhira.

Ia melanjutkan bahwa ‘alarm’ kecemasan akan muncul setiap kali manusia menghadapi situasi yang memicu adrenalin atau peristiwa yang dirasa mengancam. Namun, pada seseorang yang mengalami anxiety disertai overthinking, respons tersebut kerap terasa berlebihan, bahkan ketika tidak ada ancaman nyata di sekitarnya.

Temu Tumbuh secara selektif memilih narasumber yang kompeten di bidangnya agar audiens dapat mengenali dan memahami proses munculnya rasa cemas, sekaligus mempelajari cara menyikapinya. Pendekatan ini tidak menekankan penolakan atau penghilangan rasa cemas secara instan, melainkan pengelolaan yang sehat. Hal tersebut selaras dengan penjelasan Nadhira melalui perumpamaan yang mudah dipahami.

“Kita pasti punya alarm pagi setiap hari. Ketika alarm berbunyi, hal pertama yang kita lakukan biasanya menekan tombol ‘snooze’ di ponsel. Setelah itu, kita tidur lagi dan menunggu alarm berbunyi lima menit kemudian, bukan?

Sama halnya dengan anxiety dan overthinking. Kita tidak seharusnya mematikan gejala yang dirasa secara keseluruhan secara mendadak atau terpaksa. Sebaliknya, kita bisa memangkasnya sedikit demi sedikit agar gejalanya tidak semakin parah dan frekuensinya tidak terlalu sering hadir dalam keseharian,” ungkap Nadhira dengan lugas.

Salah satu metode yang dinilai relevan dan dapat dilakukan secara mandiri di rumah adalah teknik pernapasan 5-4-3-2-1. Metode ini berfokus pada prinsip grounding, yakni mengajak individu untuk kembali menyadari keberadaannya di masa kini sambil mengaktifkan pancaindra.

Angka lima merujuk pada lima hal yang dapat dilihat oleh mata, angka empat pada benda di sekitar yang bisa diraih atau disentuh saat cemas, dan angka tiga pada suara-suara yang dapat didengar ketika pikiran negatif mulai muncul.

Selanjutnya, angka dua merujuk pada aroma yang dapat dicium di sekitar, sementara angka satu mengacu pada hal yang dapat dirasakan melalui indera pengecap. Pada tahap ini, Nadhira menjelaskan bahwa minum air putih secara perlahan atau menggunakan aroma seperti lilin aromaterapi maupun inhaler sudah cukup membantu indera dalam merasakan tekstur dan bau saat kecemasan muncul.

Tidak berhenti di situ, Nadhira juga membagikan berbagai alternatif lain selain teknik pernapasan untuk membantu seseorang tetap hadir di masa kini dan mengelola kecemasan.

Menurutnya, individu dengan gejala anxiety dan overthinking berlebih dapat meluangkan waktu sekitar 15–30 menit untuk merilis kecemasan melalui journaling, self-talk, melakukan butterfly hug pada diri sendiri, atau berbagi perasaan dengan teman sebaya—tanpa disertai unsur adu nasib kehidupan.

Di akhir sesi, Nadhira menyampaikan harapannya agar para peserta yang masih merasakan gejala anxiety dapat berangsur pulih.

“Teman-teman bisa mendekatkan diri dengan rasa optimisme agar lebih peka. Seiring berjalannya waktu, jika kita melihat lebih jauh dan mendalam, ternyata ada lebih banyak kesempatan baik yang hadir di dunia nyata dibandingkan berbagai kemungkinan buruk yang kita pikirkan secara berlarut-larut, padahal belum tentu satu pun terjadi,” pungkasnya di akhir sesi berbagi.

Reporter Nisrina Nuraini
Editor Andres Fatubun