AYOBANDUNG.ID - Langit Bandung mulai bercahaya jingga saat orang-orang memasuki gedung merah mencolok yang berdiri di pinggir Jalan Tamblong. Dinding dan tiangnya dihiasi ornamen Tionghoa yang khas, membuat bangunan itu mudah dikenali dan berbeda dari masjid pada umumnya. Setiap orang yang melintas nyaris tak bisa menahan pandangan.
Di tempat ini, tak ada yang mempertanyakan asal-usul, pekerjaan, atau latar belakang seseorang. Mungkin suasana semacam ini juga bisa ditemui di masjid lain. Namun di sini, lebih dari sekadar ucapan, gestur dan sorot mata pun tak menunjukkan sedikit pun sikap menghakimi.
Siapa pun dipersilakan duduk, menunggu azan magrib, lalu menikmati satu kotak makanan lengkap dengan takjil untuk berbuka puasa.
Di sinilah, di Masjid Lautze 2, tradisi itu berjalan konsisten. Masjid ini berdiri sejak 2017, dan kegiatan berbuka bersama rutin digelar dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak 2022 ketika jumlah jemaah kian bertambah.
Setiap Ramadan, masjid ini mengadakan kajian sore yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama. Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.
Noneng (48), salah satu pengunjung setia, merasakan suasana itu sejak Ramadan tahun lalu. Ia bekerja sebagai penjual kopi pada malam hari. Menjelang magrib, ia kerap memilih singgah ke Lautze 2.
“Tahun kemarin juga saya sering ke sini, tiap hari,” katanya pelan.
Bagi Noneng, berbuka puasa di masjid bukan sekadar menikmati makanan gratis. Ada rasa kebersamaan yang membuatnya terus kembali.
“Senang, banyak teman,” ujarnya sambil tersenyum.
Ramadan menjadi kesempatan baginya memperluas pergaulan. Ia biasanya datang bersama seorang teman, mengikuti kajian, lalu berbuka bersama. Namun di balik kebersamaan itu, ia juga menyimpan alasan yang sederhana.
“Menghemat uang. Kalau beli kan sekitar lima belas ribu,” tuturnya.
Penghematan itu berarti besar. Bagi pekerja informal seperti Noneng, lima belas ribu rupiah per hari bukan jumlah kecil. Meski begitu, alasan ia terus datang bukan semata soal biaya. Saat ditanya harapannya tentang kegiatan ini, ia menjawab singkat, “Semoga selalu ada.”
Harapan sederhana itu seakan menjadi energi bagi mereka yang menjaga program ini tetap berjalan.

Menjaga Pintu Tetap Terbuka
Di balik rutinitas setiap sore, ada sosok Abah Oting, pendiri sekaligus penggerak utama masjid. Di usianya yang telah menginjak 80 tahun, ia masih aktif menyambut jemaah dan memantau berbagai kegiatan.
“Minimal dia (ojol) ada air di motornya. Ada yang enggak, ya kita siapkan. Kira-kira seribu lebih boks sehari,” ujarnya.
Masjid ini merupakan cabang dari Masjid Lautze di Jakarta. Sejak beroperasi mandiri pada 2017, Abah Oting bersama para pengurus perlahan memperluas bangunan, dari tempat pembinaan sederhana menjadi ruang ibadah yang lebih memadai. Identitas Tionghoa yang melekat bukanlah pembatas, melainkan simbol keterbukaan.
“Tidak ada sekte. Tidak fanatik. Siapa pun boleh masuk,” tegasnya.
Semangat itu pula yang membuat Lautze 2 dikenal sebagai tempat pembinaan mualaf. Tahun ini saja, sekitar 47 orang tercatat bersyahadat. Secara keseluruhan, sekitar 350 mualaf pernah mendapatkan pembinaan di sini, berasal dari beragam latar belakang—Tionghoa, Batak, hingga warga negara asing.
Bagi Abah Oting, prinsipnya sederhana: Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
“Di Al-Qur’an, Allah menciptakan bermacam-macam bangsa untuk saling mengenal. Itu yang kita pegang,” katanya.
Dalam perjalanannya, tentu ada rintangan. Pernah muncul komentar negatif terkait identitas Tionghoa atau kecurigaan bernuansa politis. Namun ia memilih menyikapinya dengan tenang.
“Kita punya dua telinga. Yang baik masuk ke sini,” tuturnya sambil menunjuk telinganya, “yang buruk dikeluarkan.”
Selain Noneng, seorang warga Bandung yang enggan disebutkan namanya mengaku baru pertama kali datang ke Masjid Lautze 2.
“Pertama kali ke sini. Awalnya mau ke Kosambi, tapi enggak keburu. Lihat ada kajian ini, jadi penasaran. Ya sudah sekalian buka puasa di sini,” ujarnya, ditemani seorang teman.
Seorang backpacker juga singgah karena merasa tempat ini menerima siapa saja tanpa melihat penampilan.
“Karena hati, Lautze punya itu,” ucapnya sambil tersenyum dan menunjuk dadanya.
“Di sini enggak lihat tampilan luar siapa yang datang. Mereka merangkul siapa pun yang hadir,” tambahnya.
Di antara mereka, Noneng kembali duduk seperti biasa. Sore itu mungkin tak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya: kajian singkat, doa bersama, lalu hidangan sederhana dibagikan.
Namun di dalam ruangan bercat merah itu, pertemuan demi pertemuan terus terjadi. Pengendara ojek yang singgah di sela waktu, pedagang kopi yang ingin menghemat pengeluaran, musafir yang tergerak hatinya—semuanya berkumpul tanpa pertanyaan tentang latar belakang.