AYOBANDUNG.ID - Data BPS berjudul Luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) Berdasarkan Kelurahan di Kecamatan Arcamanik Kota Bandung mencatat pergerakan luas RTH di kecamatan yang terkenal dengan sarana olahraganya itu sepanjang 2019–2024. Di balik angka-angka tersebut, ada cerita tentang taman RW yang tumbuh, kebun warga yang menjamur lewat program Buruan Sae, dan kesenjangan luas RTH antarkelurahan yang masih menganga.
Setiap sore, warga di Kelurahan Sukamiskin yang merupakan bagian dari Arcamanik, masih bisa menikmati udara segar yang berasal dari taman seluas 5.000 meter persegi yang tercatat sejak 2019 sebagai salah satu titik RTH terluas yang pernah didata di kecamatan ini. Salah satunya terpusat di kawasan SOR Arcamanik, tempat warga berolahraga dan menghabiskan waktu senja.
Tak jauh dari sana, di Kelurahan Cisaranten Bina Harapan, sepetak lahan yang dulu kosong kini berubah jadi kebun kolektif bernama "Buruan Sae Lohjinawi", tempat warga menanam sayur dan buah di sela padatnya permukiman.
Dua potret ini adalah sebagian kecil dari 184 titik ruang terbuka hijau yang tercatat Badan Pusat Statistik di Kecamatan Arcamanik antara 2019 hingga 2024. Dari taman RW, lapangan futsal, kebun buah, hingga gerakan urban farming Buruan Sae, data ini merekam bagaimana wajah ruang hijau kota terus bergerak. Kadang bertambah, kadang sekadar berpindah bentuk.


Sukamiskin Terluas, Cisaranten Kulon Paling Sempit
Dari empat kelurahan di Arcamanik, Sukamiskin tercatat memiliki akumulasi luas RTH terbesar, dengan total sekitar 41.911 meter persegi dari seluruh titik yang pernah didata sepanjang 2019–2024. Disusul Cisaranten Endah dengan sekitar 36.389 meter persegi.
Sementara Cisaranten Kulon mencatatkan akumulasi luas RTH paling kecil, hanya sekitar 8.770 meter persegi. Kurang lebih seperempat luas RTH Sukamiskin, meski jumlah titik RTH yang tersebar di kelurahan ini justru cukup banyak dan merata. Misalnya mulai dari kebun mangga-petai di RW 01 hingga kebun alpukat-jeruk di RW 09.
Namun ketika dibandingkan dengan luas wilayah masing-masing kelurahan, ceritanya malah berbalik.
Data BPS soal luas wilayah tahun 2019 mencatat Sukamiskin sebagai kelurahan terluas se-kecamatan (196,16 hektare, setara 32,29% dari total wilayah Arcamanik), sementara Cisaranten Endah adalah yang terkecil (106,01 hektare, atau 17,45% dari total).
Begitu luas RTH "ditimbang" terhadap luas wilayahnya masing-masing, urutannya berubah total. Sukamiskin, yang tadi tampil sebagai kelurahan dengan RTH terluas secara absolut, ternyata hanya menyisihkan sekitar 0,21% dari total wilayahnya untuk ruang hijau. Luas RTH-nya justru lebih kecil dari Cisaranten Endah, yang wilayahnya paling sempit se-kecamatan Arcamanik tapi justru punya rasio RTH tertinggi, sekitar 0,34%.
Di sisi lain, Cisaranten Kulon tetap berada di posisi paling bawah baik dalam luas RTH absolut maupun rasio terhadap luas wilayahnya sendiri.
Secara keseluruhan, rasio RTH terhadap luas wilayah se-Kecamatan Arcamanik baru sekitar 0,16% masih jauh di bawah standar ideal RTH publik minimal 20% dari luas wilayah kota sebagaimana diamanatkan UU Penataan Ruang. Sebagai catatan, data BPS ini kemungkinan besar belum mencakup seluruh kategori RTH (seperti pekarangan rumah tangga atau RTH privat) yang turut disyaratkan dalam perhitungan tersebut.

Titik Balik 2024
Pada tahun 2024, Kecamatan Arcamanik mengalami lonjakan penambahan luas RTH. Tahun itu, Sukamiskin sendirian menyumbang 13.361 meter persegi RTH baru. Penyumbang terbesarnya adalah taman di kawasan Lapas Wanita seluas 6.650 meter persegi, disusul taman di Jalan AH Nasution seluas 2.892 meter persegi, dan Simpangsari seluas 1.521 meter persegi.
Kehadiran taman-taman besar ini menarik karena berbeda pola dari RTH pada tahun-tahun sebelumnya yang didominasi taman kecil skala di lingkup RT/RW dengan luas pada umumnya di bawah 500 meter persegi. Taman berskala besar seperti ini biasanya melekat pada fasilitas publik atau koridor jalan protokol, sehingga dampaknya terhadap kualitas udara dan ruang publik kecamatan cenderung lebih terasa dibanding taman-taman kecil yang tersebar.
Menjamurnya Buruan Sae
Sebelumnya pada tahun 2021, data mencatat kemunculan jenis RTH baru yang sebelumnya tidak ada yaitu Buruan Sae. Program ini adalah pemanfaatan pekarangan dan lahan kosong warga Kota Bandung untuk urban farming. Dari 2021 hingga 2024, program ini tersebar terutama di Cisaranten Bina Harapan dan Cisaranten Kulon, dengan nama-nama kebun yang akrab di telinga warga: Buruan Sae Sedulur, Buruan Sae Bima Mandiri, Kebun Asik, hingga Rumpi.
Total luas Buruan Sae yang tercatat mencapai sekitar 6.960 meter persegi, ditambah kebun buah-buahan konvensional (mangga, alpukat, jambu air) seluas sekitar 4.500 meter persegi. Buruan Sae ini mayoritas terkonsentrasi di Cisaranten Kulon.
Macam ragam RTH di Arcamanik ini tidak melulu berupa taman luas untuk bersantai dan berolahraga, tapi juga mulai bertransformasi menjadi ruang produktif yang menghasilkan pangan bagi warga sekitar. Buruan Sae sendiri adalah program urban farming yang digagas oleh Dinas Pangan dan Pertanian Kota Bandung untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian warga dari tingkat keluarga.


Naik dan Turun yang Perlu Dibaca Hati-Hati
Data BPS berjudul Luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) Berdasarkan Kelurahan di Kecamatan Arcamanik Kota Bandung ini perlu dibaca dengan hati-hati. Alasannya bila akumulasi luas RTH per tahun dijumlahkan, angkanya berfluktuasi cukup tajam. Dari sekitar 29.440 meter persegi pada 2019, turun ke 14.430 meter persegi pada 2021, sempat naik lagi ke 23.050 meter persegi pada 2022, lalu turun ke 12.789 meter persegi pada 2023, sebelum naik kembali ke 17.441 meter persegi pada 2024.
Misalnya sejumlah titik RTH seperti taman-taman di RW 01 hingga RW 12 Cisaranten Endah tercatat berulang dengan luas yang persis sama pada 2021 dan 2022. Hal ini bisa saja merupakan proses verifikasi ulang data eksisting, bukan penambahan taman baru. Sebaliknya, penurunan angka pada tahun tertentu lebih mencerminkan lebih sedikit lokasi baru yang berhasil didata tahun itu. Penurunan bukan berarti taman-taman yang sudah ada ikut hilang atau menyusut.
Secara mata telanjang, hal yang bisa dipegang sebagai indikator pertumbuhan nyata adalah kemunculan lokasi RTH baru yang belum pernah tercatat sebelumnya di tahun-tahun terakhir. Seperti taman Lapas Wanita dan di Jalan AH Nasution pada 2024, atau menjamurnya titik Buruan Sae sejak 2021. Kemunculan ini menunjukkan ekspansi ruang hijau kota masih terus berjalan, meski tidak merata di setiap kelurahan.
Sesekali bila saat sore melintas kawasan Arcamanik, cobalah singgah di RTH Taman Arcamanik Endah. Istirahat sejenak sambil jajan camilan dan menyaksikan matahari terbenam.