AYOBANDUNG.ID - Sebelum dikenal sebagai kampus biru di Tamansari, Unisba lebih dulu hadir sebagai pertanyaan. Pertanyaan yang mengganggu banyak tokoh Islam di Jawa Barat. Ke mana anak-anak muda Muslim harus berkuliah agar tidak hanya pulang membawa gelar, tetapi juga tetap membawa iman.
Pertanyaan itu muncul pada akhir 1950-an, masa ketika republik masih sering tersandung oleh urusannya sendiri. Indonesia memang sudah merdeka, tetapi belum benar-benar selesai dengan persoalan dasar. Konstitusi diperdebatkan tanpa henti, kabinet silih berganti, dan kata stabilitas masih terdengar seperti janji yang belum tentu ditepati. Pendidikan tinggi ikut berada dalam pusaran itu.
Perguruan tinggi mulai tumbuh, terutama di kota-kota besar. Bandung termasuk salah satunya. Namun bagi sebagian tokoh Islam Jawa Barat, peta pendidikan tinggi terasa timpang. Kampus ada, fakultas ada, ijazah juga ada, tetapi mereka melihat jarak yang makin lebar antara ilmu dan iman. Pendidikan tinggi dinilai terlalu sibuk mencetak tenaga kerja, sementara pembentukan manusia sering tertinggal di belakang.
Tokoh-tokoh yang gelisah ini bukan orang-orang yang kekurangan pekerjaan. Sebagian duduk di Konstituante, sebagian aktif di organisasi sosial dan keagamaan, sebagian lagi berkecimpung di dunia akademik dan kesehatan. Mereka terbiasa berdebat soal masa depan negara. Maka ketika bicara soal pendidikan umat, perdebatan pun tidak pernah singkat.
Baca Juga: Hikayat Jejak Kopi Jawa di Balik Bahasa Pemrograman Java
Dari rangkaian diskusi panjang itulah lahir gagasan mendirikan perguruan tinggi Islam di Jawa Barat. Bukan sekolah agama yang menutup diri dari dunia modern, tetapi lembaga pendidikan tinggi yang sanggup mengajarkan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan arah nilai. Gagasan ini terdengar ideal, bahkan berisiko, mengingat situasi ekonomi dan politik yang jauh dari stabil.
Walau begitu, pada 15 November 1958, gagasan itu tetap diwujudkan. Perguruan Islam Tinggi resmi berdiri di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam. Namanya sederhana, disingkat PIT, seolah ingin mengatakan bahwa yang penting bukan kemasan, melainkan isi.
PIT memulai perjalanannya di Gedung Muslimin Jalan Palasari Bandung. Gedung ini bukan dirancang sebagai kampus. Tidak ada halaman luas atau bangunan megah. Tetapi sejarah pendidikan Indonesia memang akrab dengan tempat-tempat semacam ini. Banyak institusi besar lahir dari ruang-ruang pinjaman dan fasilitas seadanya.
Di Palasari, PIT menyelenggarakan perkuliahan dengan segala keterbatasan. Mahasiswa datang dengan semangat, dosen mengajar dengan keyakinan, dan pengelola kampus bekerja sambil belajar mengelola institusi yang masih sangat muda. Tidak ada jaminan PIT akan bertahan lama. Tetapi justru ketidakpastian itulah yang membentuk wataknya.
Dalam peta pendidikan Islam, PIT termasuk datang lebih awal. Jauh sebelum kampus Islam negeri berdiri di Bandung, PIT sudah lebih dulu mengisi ruang itu. PIT berdiri satu dekade lebih awal dibandingkan institusi Islam negeri yang kemudian dikenal luas. IAIN (kiniUIN) Sunan Gunung Djati Bandung baru berdiri pada 8 April 1968, sepuluh tahun setelah PIT didirikan dan setahun setelah PIT bertransformasi menjadi Universitas Islam Bandung.
Baca Juga: Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Riwayat Panjang di Balik Ramainya Cibiru
Setahun kemudian, pada 1960, kegiatan akademik PIT berpindah ke Jalan Abdul Muis. Perpindahan ini mencerminkan dinamika perguruan tinggi yang masih mencari bentuk. Kampus muda harus lentur, berpindah jika perlu, dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.

Dari Perguruan Islam Tinggi ke Universitas Islam Bandung
Perubahan besar terjadi pada 1967. Perguruan Islam Tinggi bertransformasi menjadi Universitas Islam Bandung. Nama ini membawa konsekuensi yang tidak kecil. Status universitas berarti cakupan keilmuan yang lebih luas, tuntutan akademik yang lebih berat, dan ekspektasi publik yang meningkat.
Transformasi ini terjadi di tengah perubahan nasional. Orde Lama berakhir, Orde Baru mulai menata ulang negara, dan pembangunan dijadikan kata kunci. Dalam suasana seperti itu, perguruan tinggi swasta harus pandai menempatkan diri. Terlalu idealis bisa tersingkir, terlalu pragmatis bisa kehilangan arah.
Unisba memilih jalur tengah yang tidak selalu nyaman. Ia membuka diri terhadap ilmu pengetahuan modern, tetapi tetap menegaskan identitas keislamannya. Kampus ini tidak ingin menjadi universitas umum yang kebetulan berlabel Islam, melainkan universitas Islam yang sungguh-sungguh menjalankan fungsi universitas.
Baca Juga: Sejarah Universitas Padjadjaran, Lahirnya Kawah Cendikia di Tanah Sunda
Langkah penting berikutnya terjadi pada 1972 ketika seluruh aktivitas Unisba dipusatkan di Jalan Tamansari nomor 1. Lokasi ini kelak dikenal sebagai kampus biru. Tanahnya merupakan bantuan dari pemerintah kota, sebuah pengakuan bahwa Unisba telah menjadi bagian dari ekosistem pendidikan Bandung.
Pembangunan kampus Tamansari dilakukan dengan cara yang jauh dari glamor. Tidak ada dana raksasa. Yang ada adalah swadaya dan swadana masyarakat muslim. Bangunan awal bersifat semi permanen. Ruang kuliah, kantor, perpustakaan, masjid, dan aula dibangun sedikit demi sedikit.
Kemudian Masjid Al Asy’ari berdiri sebagai pusat kehidupan kampus. Bukan sekadar tempat ibadah, tetapi ruang sosial dan intelektual. Di sanalah denyut Unisba terasa paling hidup. Kampus ini sejak awal menolak memisahkan kegiatan akademik dan spiritual sebagai dua dunia yang bertentangan.
Pertumbuhan mahasiswa berjalan konsisten, meski tidak spektakuler. Unisba tidak tumbuh dengan lonjakan besar, melainkan dengan langkah-langkah kecil yang stabil. Pada 1980, kebutuhan ruang tambahan tidak bisa dihindari. Maka dibangunlah kampus kedua di kawasan Ciburial Dago.
Lokasi Ciburial menawarkan suasana yang berbeda. Lebih sejuk, lebih tenang, dan relatif jauh dari hiruk pikuk kota. Lahan kampus ini berasal dari sumbangan tokoh masyarakat, sekali lagi menegaskan bahwa Unisba tumbuh lewat dukungan kolektif, bukan semata kebijakan institusional.
Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis
Pengembangan fakultas pun mengikuti kebutuhan zaman. Fakultas Psikologi berdiri pada awal 1970-an, ketika profesi ini masih jarang dibicarakan. Fakultas Teknik hadir untuk menjawab tuntutan pembangunan. Fakultas Ilmu Komunikasi tumbuh dari akar sinematografi, sebuah jalur yang tidak lazim bagi kampus Islam, tetapi justru memperlihatkan keterbukaan Unisba.
Program Pendidikan Agama Islam bahkan sudah ada sebelum Unisba resmi menjadi universitas. Fakta ini menunjukkan bahwa akar keislaman kampus ini bukan tambahan belakangan, melainkan fondasi awal yang terus dipelihara.
Secara kelembagaan, Unisba juga terus menyesuaikan diri. Pada 2007, Yayasan Pendidikan Islam berubah menjadi Yayasan Universitas Islam Bandung. Hingga kini, Universitas Islam Bandung telah memiliki beberapa kompleks kampus, ribuan mahasiswa, dan alumni yang tersebar di berbagai bidang.