AYOBANDUNG.ID - Di Garut bagian utara, ada sebuah kampung yang namanya kerap lebih dulu membuat orang tersenyum sebelum bertanya letaknya. Kampung Sarkanjut. Bukan Sukamaju, bukan Mekarsari, apalagi Harumwangi. Sarkanjut berdiri dengan nama yang terasa terlalu blak blakan untuk zaman yang gemar membungkus segalanya dengan istilah ramah telinga. Banyak orang datang ke Garut membawa daftar tempat indah. Sedikit yang datang membawa kesiapan mental untuk menyebut Sarkanjut tanpa salah tingkah.
Padahal Kampung Sarkanjut tidak pernah berniat lucu. Ia ada jauh sebelum kamus populer dan sensor sosial bekerja terlalu keras. Kampung ini tumbuh di Desa Dungusiku, Kecamatan Leuwigoong, wilayah yang lebih sering berbicara lewat sawah, bukit, dan aliran air daripada papan nama. Sarkanjut hidup sebagai kampung agraris biasa. Pagi dimulai dengan langkah ke sawah. Siang diisi kerja sunyi. Sore ditutup dengan obrolan ringan yang lebih sering membahas cuaca daripada masa depan.
Soalnya hanya satu. Nama Sarkanjut.
Bagi telinga hari ini, nama itu terdengar seperti candaan yang lupa diedit. Banyak pendatang menahannya di ujung lidah, mengulang pelan pelan, lalu tertawa sendiri. Ada pula yang memilih singkatan agar tetap sopan. Warga Sarkanjut sudah hafal pola ini. Mereka tahu, kampungnya sering kalah sebelum cerita dimulai. Nama sudah lebih dulu mencuri perhatian.
Baca Juga: Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak
Tapi justru di situlah daya pikatnya. Dalam dunia toponimi, nama tempat bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah arsip ingatan, catatan budaya, dan kadang juga lelucon yang diwariskan turun-temurun. Sarkanjut adalah contoh sempurna bagaimana sebuah kampung di Garut menyimpan lapisan sejarah, mitologi, dan humor lokal dalam satu kata yang nyeleneh.
Kampung Sarkanjut kini tercatat sebagai salah satu kampung terbesar di wilayah Desa Dungusiku. Jumlah penduduknya terus bertambah dari tahun ke tahun, didorong oleh arus pendatang yang menetap. Tetapi jauh sebelum menjadi kampung padat penduduk, Sarkanjut lebih dulu hidup sebagai cerita. Cerita tentang situ, tentang kantong, tentang warisan yang kecil tapi dijaga mati-matian.
Berdasarkan risalah toponimi Kampung Sarkanjut yang ditulis Hadianto, dosen Sekolah Tinggi Teknologi Bandung, wilayah ini memiliki hubungan erat dengan tetangganya, Kampung Panunggangan dan Kampung Nenggeng. Hubungan itu bukan hubungan administratif, melainkan hubungan emosional dan mitologis yang dibentuk oleh cerita rakyat.
Cerita Kelahiran Sarkanjut
Dalam cerita yang dituturkan Abah Karya, salah satu sesepuh, Kampung Sarkanjut lahir setelah sebuah peristiwa peperangan pasukan berkuda dari Panunggangan. Seusai perang, Eyang Dipajaya atau Eyang Aub berkeinginan menghubungkan lahan kosong tempat hilangnya jimat dengan Kampung Dungusiku di sebelah barat. Masalahnya, lahan kosong itu dipisahkan oleh sebuah situ, kolam besar dan dalam, yang dalam istilah Sunda disebut balong jero jeung lega sebagaimana dicatat R A Danadibrata dalam Kamus Basa Sunda.
Baca Juga: Sejarah Jatinangor, Perkebunan Kolonial yang jadi Pabrik Sarjana di Timur Bandung
Berbagai cara dilakukan untuk menaklukkan situ itu. Urugan dari kapur dan cadas dicoba, namun selalu gagal. Seolah-olah alam punya kehendak sendiri untuk mempertahankan jarak. Sampai akhirnya Eyang Dipajaya mendapat wangsit untuk menggelar sayembara. Siapa pun yang mampu menghubungkan lahan kosong dengan Kampung Dungusiku akan diangkat menjadi menantu.
Datanglah seorang santri dari Cirebon bernama Eyang Sura. Ia berhasil menyambungkan dua wilayah yang terpisah itu. Hadiahnya bukan sekadar pernikahan dengan anak Eyang Dipajaya, tetapi juga tempat tinggal lengkap dengan situ sebagai sumber penghidupan. Sebagai bekal hidup, Eyang Sura diberi sebuah kanjut kundang berisi benih ikan. Dari sinilah Sarkanjut bermula, bukan dari istana, bukan dari pasar, melainkan dari sebuah kantong kain.
Sarkanjut kemudian tumbuh menjadi penanda ruang dan makna. Menurut Hadianto dalam risalahnya, kata sarkanjut berasal dari dua unsur bahasa Sunda, sar dan kanjut. Sar berarti asup atau masuk, sedangkan kanjut adalah kantong kecil dari kain untuk menyimpan uang receh. Dalam pengertian lain, kanjut juga merujuk pada kanjut kundang, wadah untuk menyimpan panglay dan jaringao yang biasa digunakan ibu pascamelahirkan. Panglay dan jaringao sendiri dikenal sebagai tanaman beraroma kuat yang dipercaya mampu menolak gangguan gaib, sebagaimana dicatat R A Danadibrata dan R Satjadibrata.
Dari segi arti, nama Sarkanjut dengan demikian dapat dimaknai sebagai sesuatu yang dimasukkan ke dalam kantong. Sebuah frasa yang secara semantik sederhana, tetapi secara simbolik rumit. Kanjut bukan sekadar wadah, melainkan simbol harta warisan. Isinya boleh sedikit, bahkan receh, tetapi harus dijaga agar tidak tercecer. Harta itu tidak untuk dihamburkan, apalagi dijual keluar, melainkan untuk menopang kehidupan keluarga dan keturunan.
Baca Juga: Hikayat Jejak Kopi Jawa di Balik Bahasa Pemrograman Java
Jejak makna itu hidup dalam kisah Situ Sarkanjut. Situ ini diwariskan sebagai sumber pangan utama warga. Ikan di dalamnya selalu tersedia, terutama saat musim hujan. Tetapi ada kepercayaan tak tertulis bahwa ikan di situ hanya untuk warga Sarkanjut. Tidak ada larangan memancing bagi orang luar, tetapi cerita rakyat menyebutkan ikan-ikan itu enggan dijual keluar kampung. Hadianto mencatat kisah yang beredar di masyarakat tentang ikan yang dibawa ke Majalaya untuk dijual, namun tak satu pun laku hingga akhirnya dibagikan kembali kepada warga Sarkanjut.

Dalam bahasa Sunda, Hadianto menyebut keadaan ini disebut dikanjutan. Ditempatkan dalam kantongnya sendiri. Tidak untuk dipamerkan, tidak untuk diperdagangkan, hanya untuk bertahan hidup. Sarkanjut dengan demikian bukan hanya nama tempat, tetapi konsep ekonomi tradisional yang sederhana dan keras kepala.
Pakar toponimi Titi Bachtiar menawarkan pembacaan yang lebih geomorfologis. Mengutip Kamus Basa Sunda karya R Satjadibrata, kanjut berarti kantong kecil. Sementara unsur sar di depan kata kanjut bukan hanya berasal dari bahasa Sunda, tetapi juga dari bahasa Kawi. Menurut S Wojowasito dalam Kamus Kawi Indonesia, sar atau sâr bermakna sebar atau terserak. Zoetmulder dalam Kamus Jawa Kuna Indonesia juga mencatat makna serupa, yaitu tersebar.
Dengan demikian, menurutnya Sarkanjut dapat diartikan sebagai kantong-kantong yang tersebar. Bukan satu kantong, melainkan banyak. Dalam cara berpikir karuhun Sunda, wilayah yang cekung dianalogikan sebagai kantong. Jawa Barat penuh dengan toponim serupa, seperti Cikampék, Salopa, Cikandé, atau Cikadut. Semua merujuk pada bentuk alam yang menampung sesuatu.
Titi Bachtiar menjelaskan bahwa toponim Sarkanjut pada awalnya tidak menunjuk pada satu situ saja. Ia menamai sebuah kawasan yang memiliki banyak cekungan berair. Hal ini diperkuat oleh peta topografi lama, antara lain Peta Topografi Lembar Leles terbit 1886 dan 1908, serta Lembar Cibatu dan Cikawao terbit 1908. Dari peta-peta itu tercatat sedikitnya 13 situ dan ranca di kawasan tersebut, mulai dari Situ Cangkuang, Situ Sarkanjut, Situ Sarjambe, Situ Bagendit, hingga Ranca Kukuk dan Ranca Gabus. Jumlahnya mungkin lebih banyak, tetapi tidak semua tergambar karena keterbatasan skala peta.
Baca Juga: Sejarah Julukan Garut Swiss van Java, Benarkah dari Charlie Chaplin?
Karenanya, Sarkanjut adalah lanskap, bukan sekadar kampung. Ia adalah gugusan kantong air yang tersebar, sebuah dapur alam raksasa yang menopang kehidupan manusia sejak lama. Nama yang terdengar konyol itu justru lahir dari pengamatan ekologis yang tajam.
Di sisi lain, Sarkanjut juga bertetangga dengan Kampung Nenggeng, kampung dengan nama yang tak kalah jenaka. Menurut Hadianto, ada dua pendapat tentang asal-usul nama Nenggeng. Salah satunya berasal dari kata tenggeng, ejekan untuk orang dengan bokong menonjol. Pendapat lain mengaitkannya dengan konflik rumah tangga dan rasa tersinggung yang diwariskan menjadi nama tempat. Dalam legenda yang dituturkan Abah Karya, ejekan itu berkembang menjadi sentimen laten antara dua kampung yang sesekali memicu gesekan.
Dalam perkembangan waktu, interpretasi populer terhadap nama Sarkanjut mulai bergeser. Seiring dengan perkembangan bahasa dan perubahan sosial, kata "kanjut" yang dalam bahasa Sunda modern memiliki konotasi vulgar, membuat nama danau ini terdengar nyeleneh dan bahkan jorok di telinga masyarakat luas. Ditambah lagi dengan munculnya berbagai mitos dan cerita rakyat yang mengaitkan nama tersebut dengan simbol kejantanan pria, semakin memperkuat persepsi yang salah kaprah terhadap makna sebenarnya.
Seperti banyak tempat bersejarah lainnya di Jawa Barat, Situ Sarkanjut juga diliputi oleh berbagai mitos dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Salah satu cerita yang cukup populer adalah tentang seorang sesepuh kampung yang mendapat bisikan gaib saat tengah berhadapan dengan pasukan Belanda. Bisikan tersebut menginstruksikan sang sesepuh untuk memegang kemaluannya sebanyak tiga kali agar masyarakat kampung tersebut selamat dari serangan. Konon, setelah ritual tersebut dilakukan, warga setempat berhasil selamat dan terhindar dari ancaman Belanda.
Selain itu, ada pula kepercayaan lokal yang berkaitan dengan penunggu situ. Masyarakat setempat mempercayai bahwa Situ Sarkanjut dijaga oleh dua makhluk halus yang dikenal dengan nama Keling dan Dongkol. Keling dipercaya sebagai siluman ular, sementara Dongkol adalah siluman kerbau. Konon, beberapa warga pernah melihat penampakan kedua makhluk tersebut, terutama Dongkol yang sering menampakkan diri saat hujan besar terjadi di kawasan danau. Ada cerita tentang warga yang melihat Dongkol berenang dengan cepat lalu menenggelamkan diri di tengah-tengah danau.