AYOBANDUNG.ID - Pada suatu masa nun jauh ke belakang Bandung pernah punya satu kawasan yang riuh bukan oleh azan, melainkan oleh suara kehidupan sehari-hari. Jemuran bersilang, anak-anak berlarian, obrolan warga menyatu dengan dengung kota. Di situlah sekarang berdiri Pusdai.
Orang mengenalnya sebagai pusat dakwah, padahal sebelumnya ia adalah kampung padat yang berdesakan dengan sejarahnya sendiri. Tidak banyak yang ingat, apalagi merenungkan, bahwa bangunan religius yang kini tenang itu lahir dari proses panjang yang melelahkan, penuh rapat, surat keputusan, dan kompromi khas birokrasi Orde Baru.
Seturut catatan sejarah, gagasan mendirikan Pusdai muncul pada akhir 1970 an, saat negara sedang rajin menata simbol. Di Jawa Barat, muncul keinginan untuk memiliki satu pusat kegiatan Islam yang bukan sekadar masjid, tetapi juga ruang berkumpul, berpikir, dan mengatur arah dakwah.
Kala itu, Islam tidak hanya dipahami sebagai urusan sajadah, tetapi juga sebagai urusan tata sosial. Maka lahirlah ide Islamic Centre, istilah yang terdengar modern dan agak kebarat baratan untuk ukuran zamannya.
Bandung dipilih bukan karena ia paling religius, melainkan karena ia pusat. Pusat pemerintahan, pusat pendidikan, dan tentu saja pusat lalu lintas gagasan. Lokasinya pun tidak main-main. Dekat Gedung Sate, bersebelahan dengan simbol kekuasaan dan administrasi. Pesannya jelas. Islam tidak ingin berdiri di pinggir, ia ingin hadir di jantung kota, berhadap hadapan dengan negara.
Baca Juga: Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan
Tetapi gagasan, seperti biasa, lebih mudah diucapkan ketimbang diwujudkan. Lahan yang diincar bukan tanah kosong, melainkan kawasan hidup yang sudah lama berdenyut. Proses pembebasan lahan berjalan lambat, berliku, dan kadang melelahkan. Butuh hampir satu dekade untuk menggeser kampung, memindahkan warga, dan menyelesaikan urusan yang di atas kertas tampak sederhana. Pusdai sejak awal sudah mengajarkan satu hal penting, bahwa bangunan besar sering kali berdiri di atas kesabaran orang banyak.
Ketika pembangunan fisik akhirnya dimulai pada awal 1990 an, suasana sudah berubah. Negara semakin mapan, birokrasi lebih percaya diri, dan pembangunan menjadi kata kunci. Pusdai dibangun bukan sebagai masjid biasa. Ia dirancang sebagai kompleks, lengkap dengan ruang pertemuan, aula, dan area terbuka. Ini bukan tempat singgah sebentar, melainkan tempat tinggal gagasan.
Yang menarik, masjidnya sendiri tidak mengikuti selera populer. Tidak ada kubah besar yang menjulang seperti ingin menyaingi langit. Atapnya limasan, bertumpuk, dan terasa membumi. Ada nuansa Sunda yang kental, seolah ingin berkata bahwa Islam di Jawa Barat tidak perlu meniru Timur Tengah untuk menjadi sah. Arsitekturnya memilih berdamai dengan iklim, budaya, dan kebiasaan lokal. Di sinilah Pusdai mulai menunjukkan wataknya. Religius, tapi tidak terasing.
Peresmian Pusdai pada akhir 1997 berlangsung dalam suasana optimisme. Negara merasa berhasil membangun satu lagi monumen moral. Nama Pusat Dakwah Islam Jawa Barat disematkan, disingkat Pusdai, kata yang mudah diingat dan cepat masuk ke percakapan sehari hari.
Baca Juga: Hikayat Sarkanjut, Kampung Kecil yang Termasyhur di Priangan
Sejak itu, Pusdai resmi menjadi Islamic Centre pertama di Indonesia, sebuah klaim yang jarang diperdebatkan, mungkin karena semua keburu sibuk dengan aktivitasnya masing masing.

Pusdai dan Kehidupan yang Terus Bergerak
Setelah diresmikan, Pusdai tidak berubah menjadi museum kesalehan. Ia justru ramai, kadang terlalu ramai. Dari pengajian rutin sampai diskusi besar, dari kegiatan remaja masjid sampai acara pemerintahan, semuanya pernah singgah. Pusdai hidup, dan kehidupan selalu berisik. Di sinilah bedanya bangunan yang hanya megah dengan bangunan yang fungsional. Pusdai memilih repot.
Peran Pusdai berkembang mengikuti zaman. Ia menjadi mediator, fasilitator, koordinator, dan tentu saja panggung. Ulama bertemu pejabat, jamaah bertemu kebijakan, ide bertemu kenyataan. Tidak selalu mulus, tapi justru di situlah dinamika berlangsung. Dakwah tidak lagi satu arah, melainkan percakapan panjang yang kadang melelahkan, tapi perlu.
Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan
Pada dekade 2000-an, pengelolaan Pusdai mulai ditata lebih serius. Negara kembali masuk, kali ini lewat manajemen. Lembaga pengelola dibentuk, aset ditertibkan, dan program dirapikan. Pusdai perlahan beradaptasi dengan tuntutan zaman yang semakin administratif. Ada jadwal, ada laporan, ada struktur. Kesalehan pun belajar berkas.
Kendati demikian, denyut sosialnya tidak padam. Pusdai tetap menjadi tempat orang mencari makna, bukan hanya jadwal. Programnya menyentuh hal hal praktis. Pendidikan Al Quran, pembinaan mualaf, pelayanan ibadah, hingga aktivitas sosial yang kadang lebih terasa manfaatnya ketimbang ceramah panjang.
Pada bulan Ramadan, Pusdai berubah menjadi dapur besar kesalehan, tempat ribuan orang berbuka bersama tanpa perlu saling mengenal.
Selain itu, ada juga sisi kultural yang menarik. Kehadiran mushaf bernuansa Sunda misalnya, menjadi penanda bahwa Islam di sini tidak alergi budaya. Ornamen lokal tidak dianggap bidah, melainkan jembatan. Ini pesan halus tapi penting, bahwa dakwah tidak harus mencabut akar orang dari tanahnya sendiri.
Baca Juga: Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Riwayat Panjang di Balik Ramainya Cibiru
Pergantian kepemimpinan membawa warna baru, tapi tidak mengubah arah dasar. Ada masa Pusdai rajin menerbitkan buletin, ada masa ketika remaja masjid menjadi fokus. Semua menunjukkan bahwa Pusdai bukan bangunan beku, melainkan organisme yang menua sambil belajar.
Kini, lebih dari dua dekade setelah berdiri, Pusdai telah menjadi bagian dari lanskap Bandung. Ia tidak lagi terasa asing, justru terlalu akrab. Orang janjian di Pusdai, bukan hanya shalat. Anak muda mengenalnya sebagai tempat acara, orang tua mengenangnya sebagai simbol perubahan kota. Pusdai tidak pernah benar-benar selesai, sebagai dakwah yang tidak punya garis akhir.