Bandung selalu punya cara unik untuk menumbuhkan semangat anak mudanya. Di tengah riuh kafe dengan obrolan sore, ada satu komunitas yang pelan tapi pasti mulai mencuri perhatian banyak anak muda. Suara itu bergetar pelan. Tangannya sedikit gemetar, tapi matanya menatap yakin ke arah audiens.
“Selamat sore semuanya...” Sorak kecil terdengar, bukan karena penampilan yang sempurna, tapi karena keberanian yang akhirnya lahir setelah sekian lama tersembunyi. Itulah pemandangan yang nyaris setiap pekan terjadi. Di sinilah “Teman Bicara” komunitas yang mengubah suara menjadi jembatan karier, tempat anak muda belajar satu hal sederhana yang tak semua orang berani lakukan, bicara di depan umum.
Bagi Ripaldi, pembawa acara profesional yang menjadi founder Endikat Teman Bicara, perjalanan ini dimulai dari satu pengamatan sederhana, banyaknya anak muda yang sibuk mencari kerja. Ia membangun Teman Bicara sebagai wadah belajar public speaking yang sudah menelurkan 17 batch peserta dar berbagai latar belakang. Tujuannya sederhana, tapi berdampak besar.

Teman bicara bukan kursus formal, bukan pula lembaga pelatihan berbayar. Komunitas ini lebih mirip ruang nyaman untuk mereka yang ingin belajar mengenal suaranya sendiri. Menyediakan pelatihan public speaking, MC, announcer, hingga voice over yang dibangun atas dasar niat berbagi dan semangat kebersamaan.
“Tantangan terbesar aku adalah banyak anak muda yang masih malu-malu untuk belajar public speaking, sedangkan public speaking itu sangat dibutuhkan di dunia kerja. Nah gimana caranya aku meng influence anak muda untuk belajar dari basic dan ngga takut untuk berbicara di depan umum,” ujar Ripaldi.
Di setiap kelas Teman Bicara. Setiap kata yang keluar adalah proses. Kadang terbata, kadang terlalu cepat, tapi selalu ada tepuk tangan hangat setelahnya. Dari sanalah, keberanian perlahan tumbuh, bukan karena sempurna, tapi karena selalu didukung oleh rasa kekeluargaan yang ada.
Kini Teman Bicara telah mencapai batch ke-17 dengan ratusan anggota aktif dan banyaknya alumni yang sudah berani tampil di berbagai panggung mulai dari MC acara resmi, announcer, hingga voice over.
Menariknya, Teman Bicara bertahan tanpa sponsor besar. Semua kegiatan berjalan dari donasi sukarela dan kolaborasi antar anggota.
“Pelatihan berbayar udah banyak di luar sana. Aku mau ini tetap gratis, selama niatnya baik, insyaallah berkah dan ada manfaatnya untuk banyak orang,” kata Ripaldi Ia berharap semakin banyak anak muda yang bisa menjadikan keterampilan berbicara sebagai peluang baru yang bisa mengubah arah hidup.

Teman Bicara membuktikan satu hal, kadang keberanian tidak datang dari panggung besar, tapi dari ruangan kecil di mana orang-orang belajar percaya pada dirinya sendiri.
Di sana setiap suara dihargai, setiap langkah di rayakan. Krena di dunia yang sibuk mencari siapa yang paling keras berbicara, Teman Bicara justru mengajarkan arti dari berbicara dengan hati.
Teman Bicara bukan sekadar tempat belajar, tapi juga sebagai perjalanan menuju versi terbaik diri sendiri, tempat dimana suara kecil menjadi besar, dan keberanian yang dulu sembunyi akhirnya pulang. Karena kadang, yang kita butuhkan bukan panggung besar, tapi satu ruang kecil yang membuat kita percaya bahwa suara kita berarti. (*)