Udara siang yang menguncangkan dedaunan, tak menyurutkan niatku untuk berkunjung di objek wisata Taman Langit Pangalengan. Terletak di kawasan pegunungan yang sejuk, tempat ini menawarkan pemandangan indah perbukitan hijau, hamparan kebun teh, dan lautan awan yang sering muncul di pagi hari.
Tak heran, wisata ini disebut juga “surga di atas awan” oleh para pengunjung, Lokasinya berada di Kampung Cukul, Desa Sukaluyu, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (05/11/2025)
Elvan Muhammad, admin Taman Langit, mengungkapkan bahwa Taman Langit hadir sebagai salah satu destinasi wisata favorit dibandung selatan yang menawarkan panorama sunrise terbaik.
Sejak dibuka pada Desember 2020, tempat ini langsung menarik perhatian karna keindahan pemandangan 360 derajat dan udara sejuk khas dataran tinggi.
Dengan tiket masuk yang terjangkau, pengunjung dapat menikmati pemandangan Kota Bandung, hamparan kebun teh, hingga laut selatan jawa pada hari yang cerah.
Lebih dari sekedar tempat menikmati matahari terbit, Taman Langit mengusung konsep yang natural dan ramah lingkungan. Awalnya, area ini hanya difungsikan sebagai lahan camping tanpa penginapan permanen, mempertahankan keasrian alam sebagai daya tarik utama. Kini, pengunjung juga dapat menemukan jembatan kayu yang Panjang menjadi spot foto populer serta area santai yang di rancang selaras dengan lanskap pegunungan
Menariknya, Pengelolaan Taman Langit di lakukan hampir sepenuhnya oleh masyarakat sekitar. Sekitar 90% tenaga kerja berasal dari warga lokal, mulai penjaga area, petugas kebersihan, hingga pengelola warung dan penyediaan jasa sewa peralatan camping. Selain membuka lapangan kerja, pengelolaan juga memberikan donasi lingkungan rutin kepada RW setempat sebagai bentuk pemberdayaan dan tanggung jawab sosial.
“Promosi Taman Langit tidak bergantung pada iklan besar, melainkan mengandalkan media sosial sebagai sarana utama menarik wisatawan. Instagram menjadi platform paling efektif berkat potensi visual yang kuat; banyak foto dan video yang menampilkan keindahan sunrise di Taman Langit berhasil viral dan meningkatkan kunjungan wisatawan, terutama kalangan muda,” papar Elvan Muhammad.
Dari sisi opsional, destinasi ini buka setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 18.00 WIB bagi untuk yang berkunjung dengan akses khusus bagi pengunjung yang ingin menikmati sunsrise. Harga tiket yang bersahabat-– Rp 15.000 untuk dewasa dan Rp 5.000 untuk anak anak-–menjadikan tempat ini inklusif bagi semua kalangan. Pengunjung yang membawa kendaraan dikenai biaya parkir terjangkau, Rp5.000 untuk motor dan Rp10.000 untuk mobil.
“Namun, pengelolaan wisata alam tentu tidak lepas dari tantangan. Cuaca ekstrem, terutama hujan terus-menerus, seringkali mengurangi minat kunjungan. Selain itu, faktor ekonomi nasional turut memengaruhi daya beli wisatawan, sementara potensi konflik internal antara pengelola dan pemilik lahan menjadi perhatian tersendiri yang perlu penyelesaian bijak,” lanjutnya.
Meski demikian, pengelola Taman Langit terus melakukan evaluasi dan pengembangan tahunan. Rencana ke depan mencakup pembangunan fotospot baru, gazebo, dan peningkatan keamanan wisatawan. Pengembangan dilakukan secara bertahap agar tetap mempertahankan keseimbangan antara kenyamanan pengunjung dan kelestarian alam
Elvan Muhammad pun menjelaskan, keberadaan Taman Langit terbukti membawa dampak positif bagi ekonomi masyarakat Pangalengan. Banyak warga yang kini memiliki usaha kuliner, penyedia jasa wisata, dan warung kecil di sekitar area wisata. Hal ini tidak hanya memperkuat ekonomi lokal tetapi juga membangun rasa memiliki masyarakat terhadap destinasi ini.
Lebih dalam lagi, aspek kebersihan dan kelestarian lingkungan menjadi perhatian utama. Setiap hari ada petugas khusus yang menjaga kebersihan area, di bantu oleh tim tambahan saat akhir pekan. Sistem pengelolaan sampah dilakukan dengan cara memilah plastik untuk daur ulang dan mengolah sampah organik di lokasi. Pengelola juga memasang papan imbauan agar pengunjung turut menjaga kebersihan lingkungan.
Melalui berbagai upaya tersebut, Taman Langit Pangalengan tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga contoh nyata bagaimana destinasi alam dapat dikelola secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat. Keindahan alam, pemberdayaan warga, serta kesadaran lingkungan menjadikannya salah satu ikon wisata alam Bandung Selatan yang patut dikunjungi.(*)