Transformasi Curug Tilu Leuwi Opat Menjadi Wisata Favorit untuk Dikunjungi

Najmi Zahra Aulia
Ditulis oleh Najmi Zahra Aulia diterbitkan Kamis 27 Nov 2025, 16:56 WIB
Pesona curug yang jernih mengundang pengunjung untuk turun merasakan kesegaran airnya pada Rabu siang, 5 November 2025 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Najmi Zahra)

Pesona curug yang jernih mengundang pengunjung untuk turun merasakan kesegaran airnya pada Rabu siang, 5 November 2025 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Najmi Zahra)

Deru lembut air terjun berpadu dengan alunan sungai di balik pepohonan, menciptakan harmoni yang menenangkan telinga dan menyejukkan hati. Di balik pesona itu, tersimpan kisah perubahan Curug Tilu Leuwi Opat yaitu destinasi yang dulunya hanyalah lahan pribadi, kini menjadi wisata alam favorit masyarakat untuk menenangkan diri dari roller coaster kehidupan. Curug Tilu Leuwi Opat terletak di Desa Ciwangun, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.

Menurut Tantan Kurnia, Pengelola Curug Tilu Leuwi Opat, kawasan ini mulai dibuka untuk umum sejak tahun 2006. “Dulunya tempat ini hanya lahan untuk bertani. Tapi kami melihat potensi alamnya besar, jadi kami mulai membuka akses jalan agar pengunjung bisa melihat curug lebih dekat,” ujarnya pada Rabu (05/11/2025).  

Seiring berjalannya waktu, minat wisatawan terhadap wisata alam terus meningkat. Curug Tilu Leuwi Opat pun bertransformasi menjadi destinasi populer tanpa mengubah keaslian lingkungannya.

“Kami tetap menjaga keasrian kawasan ini. Hewan seperti monyet masih sering turun ke area curug karena habitatnya masih alami. Kami hanya menambah akses yang aman dan beberapa wahana seperti flying fox, rappelling, rock climbing, dan kegiatan alam lainnya,” tambah Kang Tantan.  

Nama Curug Tilu Leuwi Opat juga bukan sekadar sebutan biasa. Dalam bahasa Sunda, curug berarti air terjun, leuwi berarti kolam alami, sedangkan tilu dan opat berarti tiga dan empat. Sesuai namanya, sekali melangkah tiga curug dan empat leuwi dapat ditemui.   

Selain memiliki tiga curug dengan pesona berbeda, kawasan Curug Tilu Leuwi Opat juga menyimpan satu leuwi yang menjadi spot tersembunyi atau sering disebut hidden gem karena keindahannya, yakni Leuwi Rakit.

“Tapi aksesnya belum dibuka untuk umum karena jalurnya yang belum cukup aman, hanya warga dan komunitas pecinta alam yang sesekali mengunjunginya,” ungkap pria bertopi hitam.

Bagi wisatawan yang ingin menjelajahi seluruh curug dan leuwi, tak perlu khawatir soal jarak dan keamanan. Jalur tracking dari pintu masuk menuju area utama hanya memakan waktu sekitar 10–15 menit dengan track yang ramah, bahkan untuk anak-anak dan orang tua.  

Setiap area curug dijaga oleh tim pengelola yang siap membantu pengunjung. Untuk mendukung kenyamanan wisatawan, pengelola Curug Tilu Leuwi Opat juga menyediakan berbagai fasilitas, mulai dari area camping ground, penginapan berkapasitas sepuluh orang, hingga fasilitas outbound dan wahana permainan adrenalin.  

Spot foto alami yang ikonik dan populer di kalangan pengunjung Curug Tilu Leuwi Opat  
yang diambil pada Rabu, 5 November 2025 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Najmi Zahra)
Spot foto alami yang ikonik dan populer di kalangan pengunjung Curug Tilu Leuwi Opat yang diambil pada Rabu, 5 November 2025 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Najmi Zahra)

Secara legalitas, Curug Tilu Leuwi Opat ini telah berbadan usaha resmi. Sekitar 70 hingga 80 persen lahannya merupakan milik pribadi, sementara sisanya termasuk kawasan Perhutani karena berada di area aliran sungai milik negara. Namun sejak awal, Almarhum Ai sebagai pendiri kawasan ini, memiliki visi agar Curug Tilu Leuwi Opat tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga sarana pemberdayaan masyarakat sekitar agar roda ekonomi desa ikut berputar.  

Keterlibatan warga juga menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan ini. Banyak di antara mereka kini membuka usaha kecil seperti warung makan, dan penyewaan alat camping. Dari awal masuk daerah Ciwangun hingga pintu masuk curug, kehadiran masyarakat setempat menjadi bukti bahwa tempat ini tumbuh bersama dan memberikan kehidupan bagi warga sekitarnya.   

Meski pengunjung terus berdatangan, pengelola tetap berkomitmen menjaga keaslian dan keseimbangan lingkungan. Sehingga tak ada bangunan besar yang mengubah lanskap alami, hanya jalur-jalur sederhana yang memudahkan pengunjung menikmati setiap sudut curug.

Alam dibiarkan berbicara dengan caranya sendiri melalui deru lembut air terjun, semilir angin, dan kesejukan yang menenangkan hati. Curug Tilu Leuwi Opat bukan sekadar destinasi alam, melainkan ruang untuk kembali merasakan harmoni antara manusia dan alam.

Di tempat inilah, kesunyian menjadi irama, dan kesejukan menjadi pelukan bagi siapa pun yang datang mencari kesenangan serta ketenangan.  (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Najmi Zahra Aulia
Mahasiswa S1 Digital Public Relations, Telkom University

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Jan 2026, 17:18 WIB

Belajar dari Buku 'Broken Strings': Berhenti Berharap Dia Berubah

Jangan biarkan 'dawai' hidupmu putus karena terlalu berharap dia berubah.
Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Jelajah 14 Jan 2026, 15:12 WIB

Sejarah Rumah Sakit Cicendo Bandung, Lawan Kebutaan Sejak 1909

Sejarah RS Mata Cicendo Bandung sejak era kolonial hingga menjadi Pusat Mata Nasional. Dari wabah trachoma sampai teknologi operasi mata modern.
RS Mata Cicendo, Bandung. (Sumber: rsmatacicendo.go.id)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 15:01 WIB

Melipir dari Kota: Pesona Magnetis Pinggiran Bandung

Mengajakmu 'melipir' ke 4 penjuru Bandung. Dari karst Barat hingga kabut Selatan, temukan pesona alam pinggiran yang melengkapi jiwa Bandung sejati.
Situ Cileunca di Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Jelajah 14 Jan 2026, 15:00 WIB

Hikayat Banjir Gedebage Zaman Kolonial, Bikin Gagal Panen dan Jalan Rusak

Dahulu sawah dan kampung yang tenggelam, kini perumahan dan jalan. Sejarah banjir Gedebage telah tercatat sejak kolonial.
Ilustrasi banjir zaman baheula.
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 12:46 WIB

24 Jam Versi Risky Aly: Gaya Hidup Sang Peraih Double Degree dalam Satu Waktu

Tulisan ini menceritakan tentang gaya hidup disiplin Risky Aly, pemuda asal Bondowoso yang berhasil meraih double degree.
Foto Risky Aly ketika wisuda double degree. (Sumber: Dari Risky Aly setelah sesi wawancara selesai)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 10:19 WIB

Tes Kemampuan Akademik sebagai Perbaikan Mutu Pembelajaran

Seyogianya kualitas pendidikan di negeri ini harus terus ditingkatkan dari tahun ke tahun.
Ilustrasi sekolah di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: el jusuf)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 08:31 WIB

Dari Pinggiran Jalan: Menyambung Hidup untuk Kebutuhan Harian

Ketika kas tak lagi mampu menjaga kompor tetap menyala, kios kecil namun penuh makna.
Kios distro Dimas Angga menawarkan berbagai pakaian dan aksesori bergaya streetwear di pinggir jalan kawasan Pasar
Ciwastra pada malam hari di Kota Bandung (4/11/2025). (Sumber: Tito Andrean | Foto: Tito Andrean)
Beranda 14 Jan 2026, 07:30 WIB

Modal Kolaborasi dan Relasi, Cerita SeputarSoettaBdg Bertahan di Tengah Riuhnya Media di Bandung

Kisah SeputarSoettaBdg menjadi bukti bahwa di tengah riuhnya media besar di Bandung, kedekatan personal dan relasi antarwarga masih menjadi modal utama untuk bertahan.
Rezza Radian Zulfikar (kanan) dan Muhammad Saeful, pengelola homeless media seputarsoetta.bdg. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 19:48 WIB

Kenapa Americano Jadi Favorit Baru Anak Muda? Ini Manfaatnya!

Americano lagi viral karena rasanya ringan, dan kalorinya rendah.
Ini dia manfaat dari kopi Americano yang perlu kamu ketahui! (Sumber: Freepik)
Ayo Jelajah 13 Jan 2026, 18:47 WIB

Riwayat Bandung Tiris, saat Hawa Dingin Kepung Kota Cekungan

Letak geografis Bandung membuat udara dingin mudah terperangkap dan menciptakan sensasi sejuk hingga menggigil sejak dulu.
Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Profesi dan Hobi Harus Seimbang: Seorang Guru SMA Membuktikan Ambisinya

Guru SMA Lisda Nurul Romdani sukses menaklukkan maraton dan trail run (35 km) di tengah jadwal padat, membuktikan ambisi, mental, dan konsistensi.
Lisda Nurul Romdani seorang guru SMA membuktikan hobinya sebanding dengan rutinitas mengajar saat mengikuti Half Marathon Pocari Sweat Run 2024 di Bandung. (Sumber: @lisdaanr | Foto: @fotoyu_official Pocari Sweet RUN 2024)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Kekurangan Vitamin D, Masalah Nutrisi Anak yang Masih Mengakar di Indonesia

Kekurangan vitamin D masih cukup sering ditemukan pada anak usia sekolah dan dapat berdampak pada kesehatan tulang dan gigi.
Ilustrasi kekurangan vitamin D masih menjadi masalah nutrisi yang cukup umum pada anak dan remaja, termasuk di Bandung. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 17:19 WIB

Resolusi 2026 Warga Bandung: Berharap Transportasi Umum yang Lebih Terintegrasi

Keluhan warga Bandung mengenai transportasi umum yang dinilai belum efisien dan kurang terintegrasi.
Suasana metro jabar trans dipenuhi penggunana di sore hari sepulang kerja (03/12/2025). (Sumber: Pribadi | Foto: M. Kamal Natanegara)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 16:18 WIB

Penyairan Masa Kini: Bahasa yang Mencari Rumah Baru

Penyair masa kini menjaga kedalaman di tengah riuh digital, merawat bahasa, melampaui klise, dan menghadirkan ruang hening saat dunia bergerak terlalu cepat.
Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 16:06 WIB

Gen Z dari Scrolling ke Running, Gaya Hidup Baru yang Menggerakkan Pasar Kebugaran

Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru.
Ilustrasi. Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 14:34 WIB

'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Mengapa anak muda memilih "kebahagiaan kecil" yang mahal saat impian besar seperti rumah makin mustahil dicapai gaji UMR.
Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 09:34 WIB

Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang.
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)