Cahaya matahari menembus sela bambu dan alunan gamelan mengiring boneka kayu yang menari di bawah kendali tangan seorang dalang yang penuh semangat. Kesenian Wayang Golek menyatukan tradisi Sunda dan mengikuti perkembangan zaman di panggung Saung Angklung Udjo, Jl. Padasuka No.118, Pasirlayung, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (06/11/25).
Ko Dalang Irfan, bernama asli Irfan Azhar, adalah seorang dalang muda asal Bandung. Julukan “Ko” ia pilih sebagai bentuk branding pribadi sekaligus penanda garis keturunan Tionghoa, berbeda dari gelar tradisional “Ki” bagi dalang laki-laki. Ia mulai mendalami pedalangan sejak sebelum TK, belajar secara otodidak melalui VCD sebelum akhirnya berguru kepada Bapak Wawan Dede Amung Sutarya. Dalam tradisi pedalangan, penamaan dalang diteruskan melalui nama gurunya, sehingga nama lengkapnya dalam dunia pedalangan menjadi Irfan Wawan Dede Amung Sutarya. Sebagai seorang dalang, ia bertanggung jawab untuk menjaga keberlanjutan tradisi Sunda di tengah derasnya modernisasi budaya.
Ko Dalang menyadari bahwa generasi muda kerap merasa bosan terhadap wayang karena kendala bahasa, durasi, dan alur yang panjang.
“Jadi, saya tuh melakukan beberapa inovasi besar seiring dengan perkembangan zaman, seperti memperpendek durasi pertunjukan, menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris, bukan bahasa Pramakawi yang sulit dipahami, dan juga menyusun alur seperti film modern, sering memakai flashback dan narasi langsung ke inti cerita,” ujarnya.
Tujuannya adalah membuat pertunjukan lebih komunikatif, kontekstual, dan menarik bagi publik luas, termasuk penonton non-Sunda dan luar negeri.
Dalam setiap pertunjukan, Ko Dalang berupaya menghidupkan karakter-karakter tersebut dengan sentuhan seperti masa kini. Tokoh seperti Cepot dan Gatotkaca tidak hanya menjadi simbol kebaikan, tetapi juga wajah manusia modern yang berjuang menghadapi perubahan zaman. Dalam pertunjukannya, beliau membicarakan tentang kejujuran, kesetiaan, hingga krisis moral yang dihadapi masyarakat. Dengan begitu, penonton tidak hanya menonton pertunjukan, tetapi juga bercermin pada realitas yang sedang mereka jalani.
“Wayang golek adalah kehidupan itu sendiri,” ujar Ko Dalang.
Melalui kalimatnya tersebut meyakinkan bahwa, seni tradisional mampu menjadi media pembelajaran yang lembut dan mendalam. Di setiap tawa dan adegan, tersimpan pesan-pesan bijak yang menggugah kesadaran penonton akan nilai-nilai kemanusiaan, serta setiap gerak wayang, terselip keberanian, cinta, dan pengharapan. Pertunjukan di Saung Angklung Udjo menjadi bukti bahwa tradisi bisa tetap hidup di tengah modernitas kota Bandung.
Adapun tantangan terbesar menurutnya bukan hanya dari minat penonton, tetapi juga tekanan dari kalangan dalang tradisional yang menilai inovasinya melanggar pakem. Ia juga menyoroti stigma negatif akibat film horor yang sering menggambarkan wayang atau sinden secara mistis, sehingga masyarakat menganggap seni ini menakutkan. Dengan begitu ia memanfaatkan media digital sebagai ruang baru untuk memperkenalkan wayang kepada publik yang lebih luas. Baginya, teknologi bukan ancaman, tetapi jembatan bagi seni agar bisa berbicara dalam bahasa yang dimengerti generasinya. Dalam semangatnya, tradisi dan modernisasi tidak saling meniadakan, melainkan saling menghidupkan.
Sebagai seniman muda, Ko Dalang tidak hanya mempertunjukkan seni, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap warisan leluhur.
“Saya ingin mengubah persepsi bahwa wayang itu kuno, seni tradisional bisa tetap relevan jika kita tahu cara menyampaikannya,” ujarnya.
Setiap pementasan menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa kini, antara tradisi dan teknologi. Baginya, inovasi bukan tentang meninggalkan akar, tetapi menumbuhkan rasa baru agar budaya tetap bertahan.
Kesenian akan mati bukan karena waktu, tapi karena manusia berhenti mencari tahu dan melestarikannya. Oleh karena itu, Ko Dalang menampilkan dan mendokumentasikan setiap pertunjukan agar tidak hilang dari ingatan. Tak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menyalurkannya kepada generasi penerus. Karena, wayang bukan sekadar tontonan, tetapi tuntunan kehidupan. (*)