Ayo Netizen

Sampah yang Menumpuk Setiap Pagi, Pemandangan Rutin di Pasar Cicaheum

Oleh: Firza Adzkia Rizky Jumat 02 Jan 2026, 12:37 WIB
Tumpukan sampah pada 10 Desember 2025 di kawasan Pasar Cicadas, JL. Jenderal Ahmad Yani, Cikutra, Cibeunying Kidul, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Firza Adzkia Rizky)

Setiap pagi, warga di sekitar Pasar Cicaheum harus menghadapi bau sampah yang benar-benar menyengat. Saat pedagang memulai buka lapak, tumpukan sampah di pinggir jalan tidak pernah hilang, seolah jadi pemandangan wajib di pasar.

Selama ini Bandung terkenal sebagai kota wisata dan kuliner dengan suasana yang sejuk dan membuat banyak orang ingin berkunjung ke kota kembang ini. Tetapi di balik citra positif tersebut, masalah lingkungan termasuk soal sampah masih terus menghantui ruang publik di kota ini.

Salah satunya di pasar Cicaheum ini. Hampir setiap pagi, warga berhadapan dengan timbunan sampah di pinggir jalan yang memunculkan aroma tidak sedap sekaligus menghambat lalu lintas orang maupun kendaraan. Aghisna Dinnar, warga sekitar, mengaku terganggu. “Baunya menyengat, padahal ini area jual beli makanan. Harusnya bersih supaya orang nyaman,” ujarnya. Kondisi ini, katanya, sudah berlangsung lama tanpa perubahan berarti.

Pastinya tidak sedikit dari para pedagang mengeluh dan menyampaikan aspirasinya, namun respons yang diterima belum menunjukkan langkah nyata dari pihak terkait. Aghisna Dinnar Kausara mengatakan “Bukan hanya aroma nya saja yang menggangu,tetapi sampah yang menumpuk juga mengganggu aktivitas di jalan,”.

M. Farhan, menyampaikan bahwa pemerintah telah menyediakan insinerator di tingkat RW untuk memperkuat pengelolaan sampah dari sumbernya. Dalam Talkshow INNOVIBES Vol. 3 di Innercourt ITB Innovation Park pada 13 November 2025, Farhan menilai masih rendahnya kesadaran masyarakat menjadi hambatan utama.

Namun, warga merasa masalah ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan pada perilaku masyarakat. Minimnya pengawasan, lemahnya kontrol, dan tidak adanya evaluasi berkala membuat kondisi tak banyak berubah.

Baca Juga: Libur Akhir Tahun: Berkah Ekonomi, PR Sampah, dan Kemacetan Kota Wisata

Pengamatan lapangan juga menunjukkan bahwa sejauh ini belum ada program rutin yang memastikan apakah insinerator digunakan secara benar atau apakah pemilahan sampah sudah dijalankan masyarakat. Tanpa kontrol yang jelas, upaya circular economy yang dicanangkan pemerintah tidak berjalan efektif.

“ Semoga pemerintah lebih aktif turun ke lokasi rawan sampah, terutama pasar tradisional. Pemerintah juga bisa mengadakan kampanye atau edukasi lebih kepada masyarakat mengenai sampah, terutama di lingkungan sekitar,” Ujar perempuan tersebut. Masalah sampah di Pasar Cicaheum menjadi gambaran bahwa upaya menjadikan Bandung sebagai kota kreatif dan ramah wisata masih memiliki tantangan besar.

Sejak dulu, Bandung dijuluki “Kota Kembang” karena keindahan alamnya. Namun dalam beberapa tahun ini, pesatnya perkembangan kuliner dan tempat wisata membuat aktivitas kota meningkat drastis. Hal tersebut akhirnya mendorong mobilitas dan pola konsumsi warga yang ikut menambah volume sampah. (*)

Reporter Firza Adzkia Rizky
Editor Aris Abdulsalam