Bandung selalu punya wajah yang berubah-ubah setelah hujan. Rintik yang mereda seringkali menyisakan aroma tanah basah, gemuruh lalu lintas yang kembali hidup, dan denyut keresahan yang tidak pernah benar-benar hilang. Di antara celah-celah itu, enam seniman muda dari Universitas Pendidikan Indonesia mencoba membaca ulang kota ini. Tidak dari apa yang tampak indah, tetapi dari apa yang berada dibalik tabir.
Pameran "Selepas Reda", yang berlangsung di Sanggar Olah Seni Jl. Siliwangi No.7, Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat pada tanggal 2-7 Desember 2025, lahir dari sebuah percakapan antara kota dan warganya. Bukan percakapan yang lembut, melainkan dialektika yakni benturan gagasan, perasaan, dan kenyataan yang pada akhirnya menemukan titik tenang. Titik "reda".
Dialektika yang Melahirkan Pameran
Assabiq G. Dawud, kurator pameran, menyebut bahwa gagasan Selepas Reda berangkat dari tema besar Contrast X Harmony dalam proyek lima tahunan "Bandung Rhizome Project". Subtema yang dipilih adalah "Dialektika Alter Ego" sebuah pertarungan kecil antara diri dengan diri yang lain.
“Selepas reda itu momen ketika dialektika itu sudah menemukan pemahaman bersama,” ungkap Assabiq.
Baginya, alter ego bukan sekadar sisi gelap atau misterius. Itu adalah suara yang jujur, yang muncul ketika euforia kota metropolitan yang indah dan megah mulai dipertanyakan oleh warganya sendiri.
Bandung, menurutnya, sering dirayakan dari sudut yang terlalu cerah: estetik, kreatif, romantis. Padahal kenyataan tidak sesederhana itu.
“Bandung itu punya sisi lain. Tidak selalu sepositif itu,” tegasnya.
Dari sana, kurasi berlangsung. Para seniman mengirimkan dokumentasi karya berikut deskripsinya. Assabiq membaca, menafsirkan, lalu merangkai benang merah antara tema dan karya. Bukan untuk menilai benar atau salah, tetapi membangun dialog visual yang menggambarkan denyut Bandung yang cantik sekaligus getir.
Bandung sebagai Ruang Pertarungan Identitas
Setiap karya dalam pameran ini adalah potret kecil dari Bandung yang jarang diceritakan. Ada kucing-kucing jalang dalam seri grafis Assabiq yang bukan sekadar hewan kota, tetapi metafora tentang pedagang kaki lima, pemulung, dan pengamen yang berkeliaran seperti bayangan di antara megahnya kota.
Ada patung-patung kecil karya Fadhila Ratna Kamila yang menempatkan harimau mitologis Siliwangi di tengah gedung tinggi, seolah ingin bertanya: apakah modernitas bisa berdamai dengan akar tradisinya?

Gilang Raspati menghadirkan bentuk-bentuk tubuh yang saling menopang dan melepaskan, sebuah perjalanan batin tentang rindu, tekanan, dan keteguhan untuk kembali bangkit.
Nirmala Aprilia membawa penonton ke lanskap visual yang jujur dari lampu taman yang menyala di antara bunga liar, cermin yang bertanya “masih waras?”, hingga kolase tiket perjalanan yang mencatat riwayat perantau.
Dan Wisnu Hendrika, ketua pelaksana sekaligus salah satu senimannya, menghadirkan grafis yang menampar: kartu-kartu judi sebagai simbol jalan hidup yang meleset, visual kemiskinan yang tersembunyi di balik estetika kota, dan kerinduan untuk melupakan segalanya, walau mustahil.
Setiap karya memuat fragmen kota yang bertabrakan. Namun dalam benturan itu, harmoni kecil justru lahir.
Cerita dari Balik Penyelenggaraan: Tahun Pertama dari Lima Babak
Bagi Wisnu Hendrika, ketua pelaksana Setelah Reda Exhibition, Pameran ini bukan sekadar tugas akademik. Ia membuka percakapan dengan nada yang jujur.
“Pameran ini instruksi dari dosen, bagian dari proyek lima tahunan Bandung Rhizome Project. Ini tahun pertama," jelasnya.
Meski lahir dari instruksi, perjalanan kreatif yang mereka jalani justru membuka ruang baru. Ada antusiasme yang tak disangka.
“Dikiranya cuma mata kuliah biasa. Ternyata dikembangkan. Kita senang, karena bisa menilai karya kita lebih dalam dan lebih kritis,” tambahnya.
Para seniman yang terlibat merupakan pilihan dosen dari rumpun seni murni yang meliputi seni patung, lukis, dan grafis. Setiap kelompok menanggung beban representasi dan harapan: bagaimana mereka membaca kota, menyuarakan kegelisahan, dan menawarkan makna baru atas Bandung.
Wisnu berharap pameran ini dapat membuka mata banyak orang.
“Semoga karya seni bisa didorong lebih jauh, bukan hanya dinilai sebagai pajangan,” katanya.
“Tapi jadi ruang berpikir kritis bahkan bagi masyarakat awam.”
Selepas Reda, Kota Bicara Lagi
Saat pengunjung melangkah masuk ke ruang pamer, mereka tidak hanya melihat karya, tetapi memasuki ruang refleksi. Ada yang terdiam lama di depan cermin bertuliskan “masih waras?”, ada yang tersentuh oleh figur-figur rapuh dari kardus, ada pula yang tertawa kecil ketika mengenali simbol-simbol khas Bandung: kopi, kafe, lampu jalan, gunung, dan harimau putih.
Pameran ini bukan dokumentasi kota. Ia adalah cermin yang diletakkan di hadapan publik untuk melihat Bandung tanpa filter.
Baca Juga: Berhenti Sejenak karena Jalan Rusak dan Memimpikan Transportasi Publik Lebih Baik
Pada akhirnya, Selepas Reda adalah upaya enam seniman muda untuk berkata bahwa kota ini tidak hanya berdiri di atas estetika dan romantisasi. Bandung berdiri di atas harapan, kekacauan, luka-luka kecil, dan pertanyaan yang tidak kunjung selesai.
Dan seperti hujan yang mereda, selalu ada waktu yang tenang untuk menatap kembali. Untuk berdamai dengan alter ego kota—dan alter ego diri kita sendiri. (*)