Sejak kapan kita mulai sibuk? Pas bangun pagi dengan mata masih berat, buru-buru memilih prioritas notifikasi di hp. Lalu tiba-tiba sepuluh menit terbang begitu saja mengarungi feed Instagram dan konten TikTok, sambil menatap kehidupan orang lain dengan sedikit iri, sedikit penasaran.
Bergegaslah kita berangkat, masuk ke dalam dunia. Totebag digantung di bahu, kopi panas di tangan. Motor berseliweran di jalan, ojek online menyalip. Laptop dibuka, email, chat grup, slide presentasi, link dokumen, semua saling menumpuk.
Kita adalah mereka yang terburu-buru menuntaskan deadline. Yang baru tersadar bahwa malam telah menyelimuti hari demi hari lagi. Kita juga adalah mereka yang kesulitan membedakan self-reward, healing, atau work-life balance, dengan ideologi konsumerisme. Gantungan kunci, aksesoris hp, lunch box, hingga langganan aplikasi berbayar, jadi bagian dari printilan lucu yang katanya menghiasi hidup kita.
Dan ini bukan sekadar sitiran kecil dari narasi kehidupan modern yang padat dan hectic. Sebab ada yang membentang panjang dan menjadi biang dari semua vibes ini. Percaya atau tidak, banyak rupa hustle culture, FOMO, sampai sedentary lifestyle yang kita jalani sehari-hari datang sesuatu yang sangat serius.
Serius? Ya, dua-tiga bahkan 1000%-rius. Hal-hal yang tampak sekuler dan duniawi, seperti itu, mungkin sekarang kita kenali sebatas tren kekinian atau budaya populer. Tapi yakinlah, ia menancap pada nilai luhur yang telah dibentuk jauh sebelum kita lahir.
Sesuatu itu ialah agama. Yang kini dipandang penting di antara kita sekalian juga dinilai riskan buat terlalu diumbar. Namun begitu, suka tidak suka, ia tidak menjadi pilihan personal saja. Agama adalah kerangka luas yang menjiwai budaya, menghidupkan cara kita menjalani segalanya entah disadari ataupun cukup disikapi dengan bodo amat.
Akar Ingar-Bingar Modernitas
Lanskap pokok yang secara khusus menaruh kita di abad ini, yang deras mengalir ke setiap kebiasaan, prioritas, dan ambisi kita, dapat ditelusuri ke jantung Protestantisme yang muncul di dunia Kekristenan Barat. Ya, sebuah tradisi keagamaan yang seakan-akan jadi ghost writer buat merancang cara kerja modern kita.
Nilai-nilai Protestan tidak tersebar terbatas pada pray, praise, and worship, saat teduh, atau pola komunitas gerejawi. Max Weber lewat “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” (terjemahan bahasa Inggris, 1930) pernah bilang kalau etos Protestan itu jadi pondasi bagi kapitalisme modern. Kerja keras bukan cuma buat duit, tapi juga semacam badge moral. Dalam gagasan ini dijelaskan bahwa keberhasilan material adalah tanda integritas dan ketekunan individu.
Dikatakannya bahwa ajaran Calvinis (salah satu aliran di tubuh Protestan) menekankan doktrin predestinasi, bahwa keselamatan sudah ditentukan Tuhan sejak awal. Hal inilah yang mendorong orang di sana buat menunjukkan tanda-tanda keterpilihan lewat kerja keras, disiplin, dan kesuksesan duniawi. Dari sana, etos kerja dan pencapaian material adalah juga tentang ekspresi teologis.

Lynn White Jr. dalam “The Historical Roots of Our Ecologic Crisis” (1967) menyoroti sisi yang berbeda yang lumayan senada. Memang tidak menunjuk spesifik pada Protestan, tapi baginya Kristen Barat telah berhasil menempatkan manusia selaku penguasa alam yang bikin kita merasa dunia bisa diatur, dimaksimalkan, dan dimanfaatkan.
Mentalitas ini menyebar ke budaya Barat, masuk ke cara hidup global, termasuk kita di dalamnya. Hal ini juga yang bikin krisis ekologis terasa nyata. Kita hidup di sebuah zaman kemajuan, tapi relasi sama alam jadi kelempar.
Sola Scriptura
Semua ini bermula di tahun 1517 di Wittenberg, Jerman, saat Martin Luther menempelkan 95 tesisnya di pintu gereja. Ia menentang praktik indulgensi yang saat itu lagi nge-hype.
FYI saja, indulgensi ini terkait dengan perayaan akhir Oktober yang kita kenal sekarang sebagai Halloween. Halloween sendiri di akar Katolik dulu adalah momen doa buat arwah, tapi penjualan indulgensi membuat banyak orang merasa keselamatan bisa dibeli.
Kritik Luther bukan cuma soal uang, tapi soal otoritas. Siapa yang berhak menentukan jalan keselamatan? Kemudian di sinilah muncul sola scriptura, bahwa hanya Alkitab yang jadi panduan, bukan otoritas gereja. Prinsip ini menekankan tanggung jawab dan penalaran akal budi pribadi.
Titik inilah yang memicu gelombang perubahan besar. Ide soal tanggung jawab individu yang lahir dari Reformasi Protestan tersebar ke berbagai aspek kehidupan Barat, mempersiapkan mentalitas yang mendukung revolusi-revolusi besar. Revolusi Ilmiah (abad ke-16-17) yang menegaskan metode rasional dan empiris sebagai standar kebenaran, Revolusi Amerika (1776) menegaskan demokrasi berbasis rakyat, dan Revolusi Perancis (1789) mengokohkan kebebasan, kesetaraan, juga hak warga.
Tentu yang tidak terlewat, Revolusi Industri di akhir abad ke-18-19, dengan tokoh seperti James Watt dan mesin uapnya, mengubah produksi manual jadi industri masal. Nilai efisiensi, produktivitas, dan inovasi yang lahir dari era ini kini terasa sampai berkembang istilah 4.0 dan 5.0. Start up, Internet of Things, AI, dan lain sebagainya.
Manusia ‘Aneh’
Pola kebudayaan inilah yang kemudian pada masa belakangan diringkas dalam satu istilah yang disebut WEIRD. Kepanjangan dari Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic.
(W)estern tampak dalam cara kita menempatkan Eropa Barat dan Amerika Utara sebagai role model kemajuan. Kuliah ke luar negeri, kerja di korporasi multinasional, gaya hidup urban, jam kerja profesional, sampai bahasa yang berlagak nginggris kaya tulisan ini sendiri. (E)ducated hadir dalam obsesi pada literasi, sertifikat, skill, self-improvement, dan keharusan untuk selalu upgrade diri. Entah lewat buku, podcast, aplikasi jejaring sosial profesional, atau konten berbagi cerita di media sosial.
(I)ndustrialized tercermin dalam skincare, gym, padel, pilates, diet kalori, aplikasi pelacak aktivitas olahraga, yang semuanya diarahkan pada budaya beli dan angan tubuh yang bisa lebih produktif. Semua supaya kita bisa masuk dalam gerbang industri. (R)ich muncul sebagai kecemasan sehari-hari tentang keamanan finansial. Takut tabungan tidak cukup, takut umur bertambah tapi karier stagnan. Dorongan beli gawai terkini, misalnya, seolah jadi “investasi” produktivitas yang selalu tepat.
Sementara (D)emocratic ada dalam keyakinan bahwa setiap dari kita berhak malah dituntut buat menentukan hidupnya sendiri. Kita bebas memilih jurusan, pekerjaan, gaya hidup, pasangan, keyakinan, sampai identitas diri. Kebebasan datang bersama tanggung jawab personal. Kalau hidup terasa mandek, refleksi pertama sering kali terarah pada diri sendiri bukan sistemnya yang kacau balau.
Keseluruhan unsur ini membentuk lanskap kebudayaan yang memandang kita sebagai subjek otonom. Orang-orang yang pakai otaknya, lalu terus-menerus diminta mengelola dirinya sendiri dengan seefisien mungkin. Kita ada di dunia yang mengharuskan setiap orang buat merancang life goals-nya masing-masing. Memahami hidup sebagai proyek personal. Merasa harus “jadi versi terbaik dari dirimu sendiri”.
Joseph Henrich inilah yang dalam “The WEIRDest People in the World” (2020), menyebut cara hidup kita hari ini sebagai WEIRD. Secara literal weird berarti ‘aneh’. Sebab dalam amatannya kita adalah sekelompok manusia yang secara statistik minoritas dalam sejarah manusia. Baik pada masa lalu sebelum Reformasi Gereja maupun pada persebaran kebudayaan non-Barat kontemporer.
Kita yang terbiasa mikir kalau karier harus dipilih atau passion harus ditemukan, adalah agregat pengecualian. Selain dari kita memandang kehidupan tak sesepi itu. Orang auto-lahir ke dalam peran sosial, ke dalam komunitas keluarga besar, klan, suku, apapun. Tidak ada yang namanya krisis aku mau jadi apa.
Henrich-lah yang menelusuri akar paling dalam dari cara hidup ini, dan menemukannya pada tradisi Protestan. Sebagaimana sudah disinggung di atas bahwa ajaran soal kebenaran iman yang harus dicari sendiri lewat membaca Alkitab, juga berarti setiap orang kudu bisa baca. Harus paham. Harus mikir.
Agama tak lagi dititipkan kepada para klerus, keluarga, atau ritus bersama. Ia jadi urusan privat. Salah-benar ditanggung masing-masing.
Dari sini meledak budaya literasi. Sekolah. Buku. Catatan. Evaluasi. Perlahan, orang dilatih buat terbiasa duduk sendirian, membaca, mencerna, lalu mengambil sikap. Kebiasaan religius ini tanpa terasa berubah jadi kebiasaan hidup.
Dan dalam jangka panjang, lahirlah mentalitas yang sangat kita kenal hari ini. Individu yang harus bisa mengatur dirinya sendiri. Waktu dipantau. Target ditulis. Progress diukur. Dunia pun diperlakukan seperti sistem yang bisa di-manage. Termasuk diri sendiri. Termasuk burnout.
Inilah fondasi kebudayaan Barat modern. Cara hidup yang sekarang terasa normal bahkan keren, ternyata ia berangkat dari warisan religius yang panjang. Kita mungkin sudah tidak sadar lagi ke hulu gereja mana ia berasal, tapi logikanya masih kita pakai setiap hari. (*)