Ramadan pada masa tahun 1980-an memiliki nuansa yang sangat khas bagi masyarakat Bandung. Bulan suci tersebut tidak hanya dimaknai sebagai waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan sosial yang penuh keakraban. Setiap sudut kota seperti di kawasan Alun-alun Bandung berubah menjadi panggung kehidupan yang lebih hidup dibanding hari-hari biasanya.
Tanda geliat kehidupan awal Ramadan tiba adalah menjamurnya para pedagang kurma di pinggir jalan, misalnya di kawasan Cicadas, Kiaracondong, Pasar Baru dan Tegalega meja-meja kecil mulai dipenuhi berbagai jenis kurma. Bagi masyarakat saat itu, kurma adalah menu utama pembuka puasa.
Begitupun kolang-kaling juga mendadak populer. Di bulan puasa banyak orang membuka lapak kecil untuk menjajakan kolang-kaling segar. Ibu-ibu rumah tangga membelinya untuk campuran kolak atau dibuat olahan sekadar hidangan ringan saat berbuka. Tentu saja para pedagang kolak dan es campur adalah pembeli utama kolang-kaling. Kemudian juga para pedagang kembang api dan petasan bertebaran di kawasan-kawasan tersebut, menandakan puasa Ramadhan sudah tiba.
Terlihat pula sehari sebelumnya, tradisi ‘nganteran rantang’ sehari sebelum puasa, di tatar Sunda adalah kebiasaan saling mengirim makanan kepada keluarga, tetangga, atau kerabat menjelang datangnya bulan Ramadan. Aktifitas ini masih ada di Jawa Barat seperti Bandung, Garut, Tasikmalaya, hingga Cianjur. Makna tradisi tersebut mengandung beberapa nilai penting seperti silaturahmi, berbagi rezeki, saling memaafkan dan menguatkan hubungan sosial antar tetangga.
Kemudian ada tradisi kegiatan masyarakat Kota Bandung sambil menunggu waktu berbuka puasa yang biasa disebut ngabuburit. Banyak yang dilakukan masyarakat dari berbagai kalangan usia agar tidak terasa lama sampai ke waktu magrib. Kegiatannya seperti berkumpul di Alun-alun Bandung, main lodong karbit, berwisata, dan nonton pergelaran musik.

Di kawasan Alun-alun Bandung yang merupakan jantungnya kota memiliki suasana yang mendukung juga fasilitas berupa masjid Agung Bandung, beberapa mal dan juga pertokoan. Sehingga suasana begitu pas untuk ngabuburit ditambah dengan banyaknya sarana transportasi umum menuju Alun-alun Bandung. Masyarakat berlalu lalang dan berkumpul di tengah-tengah sentral Kota Bandung yang juga berdekatan dengan jalan penus historis yakni Jalan Braga.
Ramadan juga identik dengan dunia anak-anak. Permainan paling melegenda adalah main lodong karbit. Menjelang sore, setelah lewat salat Asar, mereka mulai berkumpul membawa potongan bambu besar. Bambu dipilih yang tua dan tebal ruasnya, kemudian dilubangi sedikit di bagian samping bawah untuk tempat menyulut api. Karbit dicampur air di dalam bambu, kemudian disulut api dan mengeluarkan bunyi…DEEEMMM yang sangat keras. aromanya juga khas, tercium bau karbit bercampur asap bambu terbakar. Tangan sering hitam, baju bau asap, tapi justru itu yang bikin seru. Meski cukup beresiko, permainan tersebut tetap menjadi bagian yang menyenangkan saat Ramadan.
Baca Juga: Refleksi Ekologis, ke Mana Perginya Jurig?
Kemudian kaum muda Bandung banyak yang memilih ngabuburit ke Curug Cinulang dengan menumpangi kereta api KRD jurusan Padalarang-Cicalengka dengan tujuan menikmati keindahan air terjun di daerah Cicalengka, tersebut lalu pulang menjelang azan magrib. Kesegaran udara nan dingin di kawasan Curug Cinulang muncul karena berada di area pegunungan serta dikelilingi tumbuhan yang rimbun. Angin yang bertiup dan suara gemuruh air terjun menciptakan suasana damai yang cocok untuk niis yang artinya menikmati udara sejuk.
Tradisi ngabuburit pada tahun 1980-an juga terasa sangat meriah dengan adanya pentas musik. Lapangan Saparua sering menjadi tempat ikonik pusat keramaian musik. Panggung musik digelar dengan menghadirkan grup-grup lokal dan nasional seperti diantaranya Jamrud, Sahara, Slank dan Grassrock. Anak muda-mudi berdatangan untuk menonton dan menikmati suasana dari siang sampai sore menjelang magrib. (*)