Ayo Netizen

Tradisi ‘Nglabur’ Rumah saat Ramadan, Filosofi Bersih Diri dan Mencerahkan Suasana Hati

Oleh: Totok Siswantara Kamis 12 Feb 2026, 11:18 WIB
Ilustrasi melabur rumah dengan batu kapur atau gamping. (Sumber: Pexels | Foto: Sergey Meshkov)

Tradisi membenahi, mempercantik  dan menyehatkan rumah dengan mengecat secara tradisional dilakukan oleh nenek moyang kita dengan cara ‘nglabur’ atau melabur bagian rumah agar kelihatan putih bersih dan sehat.

 Masyarakat Sunda dan Jawa sama-sama menyebut istilah nglabur sebagai aktivitas mengecat dinding atau tembok secara tradisional dengan memakai batu kapur atau gamping.  Melabur menurut nenek saya memiliki filosofi bersih diri dan bisa membawa suasana hati yang putih seperti fitrahnya ketika dilahirkan.

Masih terbayang dalam ingatan ketika saya dahulu diberi tugas orang tua untuk melabur rumah. Supaya ngirit biaya, ortu sengaja tidak mempekerjakan tukang. Tugas ini diberikan kepada anak laki-laki. Lumayan, biaya untuk ongkos tukang bisa berpindah ke kantong saya untuk membeli keperluan lebaran hingga membeli mercon agar tidak tertinggal dalam pergaulan anaka-anak.

Kegiatan melabur ini biasanya pada pertengahan bulan Ramadan. Setelah melabur di rumah sendiri kelar, saya juga mendapat order melabur rumah saudara atau tetangga yang kebetulan tidak punya anak laki-laki. Penghasilan dari beberapa kali melabur cukup lumayan untuk memberi baju lebaran dan bisa dipakai jalan-jalan dan nonton bioskop.

Bidang yang dilabur mulai dari tembok, pagar, plafon, hingga wuwungan genting. Agar semua tampak putih bersih. Proyek melabur rumah saya awali dengan membeli batu kapur (gamping) dan merang atau jerami yang sudah diikat seperti sapu lidi di toko bangunan.

Jerami yang sudah dipilih ditata seperti sapu lidi lalu di tumbuk ujungnya agar bisa menggantikan fungsinya sebagai kuas yang besar.

Batu gamping kemudian dicampur dengan air terjadi reaksi pengeluaran panas hingga air yang merendam gamping mendidih dan batu gamping meleleh. Setelah gamping meleleh temperatur masih tinggi dan bisa melukai tubuh. Perlu menunggu sekitar dua jam agar menjadi dingin dan bisa digunakan untuk melabur.

Ilustrasi tembok yang dilabur dengan gamping lebih atistik dan sehat (Sumber: Pexels | Foto: Engin Akyurt)

 Tembok yang Dilabur dengan Gamping Lebih Artistik dan Sehat

 Melabur alias mengecat tembok dengan gamping (limewash) menciptakan hasil akhir yang artistik, bertekstur, alami, dan ramah lingkungan. Prosesnya melibatkan pencampuran gamping dengan air (seringkali ditambah pigmen warna), lalu dioleskan tipis-tipis menggunakan kuas besar dari jerami dalam gerakan menyilang. Teknik ini bisa menutup permukaan dan tahan jamur atau lumut. 

Cat dinding gamping menimbulkan estetika yang unik untuk aplikasi interior dan eksterior. Terbuat dari mineral alami yang bisa menyerap CO2, dan meningkatkan kualitas udara dalam ruangan sekaligus mencegah pertumbuhan jamur.

Cat gamping telah digunakan selama berabad-abad untuk menciptakan hasil akhir dinding yang indah dan alami. Saat cahaya mengenai permukaan yang dilapisi kapur, kombinasi tekstur yang tidak rata dan unsur mineralnya akan menyebarkan sinar cahaya. Penyebaran ini menyebabkan cahaya mengalami pembiasan ke segala arah, yang menghasilkan luminositas halus yang membuat dinding tampak bersinar lembut.

Setiap dinding yang dicat dengan gamping dan kadang dicampur pigmen mineral menjadi elemen dinamis dari desain interior, bisa berubah secara halus seiring dengan cahaya alami sepanjang hari. Cat tembok kapur ramah lingkungan karena hanya mengandung bahan-bahan alami yang berasal dari bumi.

Cat gamping melindungi ruangan dan bisa mencegah kelembapan dan uap air terperangkap di dalam dinding. Memiliki pH basa yang membuat permukaan higienis. Cat ini juga tahan terhadap jamur dan bakteri.

Cat gamping sangat serbaguna, menjadikannya pilihan yang sangat baik untuk berbagai aplikasi. Kemampuan adaptasinya berasal dari komposisi alaminya, yang memungkinkannya untuk berikatan secara efektif dengan berbagai jenis permukaan.

Mesin untuk menciptakan jenis warna tertentu pada cat dengan cara pencampuran warna dasar di toko bangunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

 Warna Cat Favorit saat Ramadan

 Zaman sudah berubah. Namun tradisi mengecat rumah saat lebaran masih ada. Tetapi dengan teknologi cat masa kini yang warna warni. Dari tahun ke tahun, warna cat yang paling laris saat bulan Ramadan cenderung bernuansa cerah, menenangkan, dan memberikan kesan bersih (fitrah) untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Menurut survey industry cat, warna-warna yang populer saat Ramadan meliputi putih, putih gading (ivory), hijau, biru pastel, krem, abu-abu muda, hingga sentuhan emas atau kuning keemasan yang memberikan kehangatan dan kemewahan.

Warna-warni untuk menghapus kekumuhan di Lembur Katumbiri (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Momentum Ramadan Bisa Mengubah Bangunan Kumuh

Bulan Ramadan mestinya bisa mengubah suasana bangunan kumuh di kota. Apalagi infrastruktur perkotaan kini sedang dilanda cuaca ekstrim membuat warga kota menjadi gerah dan  tidak nyaman di mata. Kondisinya semakin menyebalkan jika warga kota melihat bangunan kota atau infrastruktur publik kondisi temboknya kumuh dan kusam. Semakin banyak bangunan di kota yang tembok dan lokasinya kumuh. Hal ini mestinya bisa diatasi dengan cara melakukan pengecatan tembok bangunan oleh pemda. Karena hal itu bisa mendatangkan persepsi positif dari para pemudik lebaran yang pulang ke daerah asalnya.

Momentum Ramadan saatnya membenahi bangunan publik dan gedung pemerintah dengan program pengecatan massal sekaligus menjadi program padat karya untuk menanggulangi masalah ketenagakerjaan dan kemiskinan.

Cuaca ekstrim menyebabkan kondisi permukaan fisik bangunan gedung dan berbagai macam infrastruktur mengalami gangguan berat. Kondisi diatas sebaiknya diatasi secara baik oleh kalangan industri cat dengan cara memperbaiki mutu dan inovasi produk yang ramah lingkungan dan lebih berdaya tahan menghadapi gangguan alam.

Baca Juga: 3 Jejak Heroik K.H. Anwar Musaddad yang Terlupakan 

Sudah saatnya industri cat yang berskala besar, menengah dan kecil menerapkan kaedah ekoefisiensi. Yakni mewujudkan rasio yang ideal terkait produk yang dihasilkan dengan dampak lingkungan yang diakibatkan adanya produk tersebut. Ekoefisiensi menjamin produksi yang berkelanjutan karena penggunaan sumber daya alam dan pengelolaan limbah dapat dikendalikan. Buah dari ekoefisiensi adalah sosio efisiensi yang bisa menjamin konsumsi yang berkelanjutan karena adanya kepercayaan masyarakat terhadap produk tersebut.

Industri cat masih dihadang dengan masalah mutu dan proses standardisasi. Penerapan SNI produk cat masih bermasalah. Sehingga masyarakat belum terlindungi dari produk-produk yang kurang berkualitas. Selain itu juga ada beberapa produk cat yang tidak ramah lingkungan dan bisa mengganggu kesehatan. Seperti misalnya belum ada langkah yang serius untuk mengurangi kandungan Volatile Organic Compound (VOC) yang bisa mengganggu lingkungan. Mestinya industri cat ditekan untuk segera mengurangi kandungan VOC yang masih tinggi. Karena tren dunia menunjukkan pentingnya produk cat refinish dengan tingkat emisi rendah yang dirancang untuk memenuhi persyaratan ambang batas VOC yang aman. (*)

Reporter Totok Siswantara
Editor Aris Abdulsalam