Ayo Netizen

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Oleh: Muhammad Assegaf Kamis 05 Mar 2026, 12:06 WIB
Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)

Senin, 2 Maret 2026 Padepokan Kirik Nguyuh menyigi komunitas Tionghoa di Majalengka dalam membentuk wajah daerah membaca sejarah dengan hati yang teduh, dan memaknai dialog sebagai jembatan, bukan sekat yang memisahkan. Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga. Komunitas Tionghoa ini sering dipandang sebagai kelompok yang esklusif, tertutup dan sulit berintegrasi dengan masyarakat sekitar. Kehadiran tokoh Auw Tjoei Lan menunjukkan bahwa di balik cerita ekslusif, terdapat tradisi kepedulian sosial yang kiat dalam komunitas Tionghoa.

Ruang Dialog bertempat di Vihara Dharma Ratna, Jatiwangi dipandu oleh Rifki Komara sebagai pembawa acara:

“Hari ini kita tidak hanya berkumpul untuk berdiskusi, tetapi untuk menyigi serta menelusuru dengan jernih dan jujur peran komunitas Tionghoa di Majalengka dalam ruang sosial, politik ekonomi, dan budaya. Di Pundak para peserta, tersemat selendang batik merah, ia bukan sekadar pelengkap bersama, melainkan Bahasa symbol yang kita pilih untuk berbicara. Merah adalah warna keberanian, harapan, dan semangat hidup. Dalam tradisi Tionghoa, merah melambangkan kebahagiaan dan kemakmuran; dalam semangat kebangsaan, merah adalah warna perjuangan dan daya hidup. Ketika warna itu berpadu dengan batik warisan Indonesia yang diakui dunia oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Penyerahan Selendang (Foto: Penulis)

Selendang adalah pengikat. Ia menghangatkan, merangkul, dan menyambungkan. Seperti itulah dialog yang kita bangun hari ini: bukan untuk menyeragamkan, melainkan untuk saling memahami”.

Ruang Dialog Suara Tionghoa dihadiri Bpk. Rachmat Kartono, S.STP, M.Si. sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka. Ia menyampaikan bahwa menyigi itu mengusut, mencari, kemudian menautkan titik sejarah khususnya tentang Tionghoa, melansir dari buku yang pernah dibaca ia memaparkan biografi tokoh Tionghoa yaitu Tan Jin Sing salah tokoh Tionghoa yang singgah di Nusantara tepatnya di Sriwijaya hingga membawa kebudayaan dari Cina. Peraturan mengenai masyarakat Tionghoa di Indonesia mengalami pergeseran drastis dari diskriminatif (orde baru) menjadi pengakuan hak asasi (reformasi) setalah terjadinya reformasi masyarakat Tionghoa jadi boleh melaksanakan ibadah dan melaksanakan hari-hari besar salah satunya yaitu Imlek yang telah ditetapkan sebagai hari libur nasional.

"Dialog adalah budaya perdamaian" - Abdurrahman Wahid. (Sumber: Instagram/pamerandialogperadaban)

Kilas balik mengenai Tionghoa ada sosok peran penting yaitu KH. Abdurahman Wahid/Gus Dur sebagai Presiden Ke-4 Republik Indonesia menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 6 Tahun 2000 pada 17 Januari 2000, yang mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang pembatasan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa. Kebijakan ini melegalkan perayaan Imlek secara terbuka, mengakui Konghucu, dan mengembalikan hak sipil warga Tionghoa, menjadikannya "Bapak Tionghoa Indonesia” Kompas.com Peran Gus Dur di Balik Merakan Imlek di Indonesia.

Gelar itu bukan tanpa alasan atas peran pentingnya menghapus deskriminasi terhadap masyarakat Tionghoa di Indonesia yang terjadi semenjak zaman orde baru. Dengan keberaniannya Gus Dur mengambil sikap untuk membuka kembali ruang tradisi, budaya, dan kepercayaan Tionghoa yang selama bertahun-tahun telah di tekan. Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang membela kelompok minirotas dan menjaga nilai-nilai toleransi untuk saling menghargai, selain menjadi Bapak Tionghoa Indonesia Gus Dur juga disebut sebagai Bapak Pluralisme karena konsistensinya memperjuangkan hak minoritas, kesetaraan warga negara, dan keberagaman di tengah kemajemukan sampai sekarang jasa Gus Dur selalu di ingat tertutama dalam perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

Sesi Ruang Dialog didampingi oleh Moga Yudha Prawira dalam memaparkan mengenai perkembangan komunitas Tiong hoa di Majalengka disampaikan oleh Nana Rohmana atau disapa akrab Mang Naro sebagai Aktivis Sejarah dan Ketua Galur Rumpaka Madjalengka Baheula (GRUMALA), Drs. H. Ono Haryono, M.P. sebagai Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Majalengka, dan Koh Olong sebagai Perwakilan dari Kelenteng Vihara Dharma Ratna, Jatiwangi.

ASPEK SOSIAL DAN BUDAYA TIONGHOA

Etnis-etnis tionghoa memberi warna-warni, alkulturasi masyarakat asli bersatu hingga berbaur dalam mengembangkan nilai-nilai sosial, dan budaya tionghoa itu sendiri. Kebudayaan tidak hanya lahir dari satu kelompok, akan tetapi lahir dari sebuah dialog dan pertemuan yang membentuk sebuah komunitas Tionghoa di Majalengka.berbicara budaya juga berbicara soal tradisi yang terus menerus diulang, Mang Naro mengungkap bahwa : komunitas Tionghoa sendiri sudah ada sejak zaman VOC ( Vereenigde Oostindische Compagnie).

Yayasan Hati Suci. (Sumber: hatisuci.or.id)

Auw Tjoei Lan (Nyonya Lie Tjian Tjoen) adalah sosok pendiri Yayasan Hati Suci awalnya bernama Perkoempoelan Ati Soetji atau Po Liang Kiok pada tahun 1914 di Batavia. Yayasan ini berfokus pada perlindungan anak perempuan, pendidikan yatim piatu, serta melawan perdagangan manusia dan prostitusi Hatisuci.or.id.

Sampai saai ini Yayasan Hati Suci masih bergerak yang pendanaannya oleh Pemerintah Belanda langsung dan hingga saat ini tidak tahu sudah keturunan yang keberapa.

Fungsi sejarah merupakan sebuah history yang bisa di tulis dalam perjalanan sosial dan kebuyaan di berbagai media supaya tidak hilang. Drs H. Ono Haryono, M.P. memberitahu bahwa: Naskah-naskah kuno juga bisa di arsipkan melalui peran Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah.kelamahan kita dalam tulis menulis sejak dulu, sejarah kita masyarakat Sunda/Tionghoa masih kahal oleh Belanda ketika datang ke Nusantara memiliki sebuah catatan. Dialog yang disampaikan menjadi bahasa alami melalui pikiran-pikiran yang jernh dan menghangatkan. Budaya Tionghoa adalah salah satu tradisi tertua di dunia yang berfokus pada penghormatan leluhur, harmoni keluarga, dan nilai moral konfusianisme.

SENI DAN KESENIAN TIAONGHOA

Bertahan dengan seni tradisional, kelompok barongsai Long Qing membuktikan bahwa budaya bisa jadi fondasi bisnis yang berkelanjutan dan berdampak luas. (Sumber: dok. kelompok barongsai Long Qing)

Berbicara mengenai seni masyarakat Tionghoa memiliki penampilan khas yaitu Barongsai dan Naga. Barongsai sendiri adalah tarian singa yang digerakkan dua orang memegang kepala dan ekor dengan gerakan yang sangat lincah, dan Naga (Liang Liong) digerakkan belasan orang menggunakan tongkat, menciptakan sebuah gerakan meliuk-liuk yang harmonis.

Koh Olong sebagai perwakilan Tionghia Jatiwangi, Majalengka menyampaikan: di Kelenteng Vihara Dharma Ratna pernah ada tradisi Wayang Potehi yang dipertunjukkan selama 30 hari, dan ada juga orang Jatiwangi yang pernah membuat Barongsai tapi sudah Almarhum yang bernama Lily Hambali salah satu pengrajin Barongsai lokal yang mendunia. Keahliannya dalam membuat Barongsai membawa nama Jatiwangi dikenal sebagai tempat produksi kerajinan Barongsai berkualitas di Indonesia. Selain Barongsai dan Naga ternyata banyak sekali karya seni dari Tionghoa termasuk seni kaligrafi, keramik porselen, arsitektur klenteng, bela diri Kung Fu, dan masih banyak lagi.

Namun.. tak kalah menarik dari Tari Jaipong, Tari Topeng, masyarakat Tionghoa di Indonesia juga memiliki Tari Cokek kesenian tradisional hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Betawi yang populer di Tangerang dan Jakarta, biasanya diiringi musik gambang kromong. Tarian ini menampilkan gerakan gemulai, anggun, dan lincah, seringkali melibatkan penari perempuan mengalungkan selendang ke tamu untuk menari bersama sebagai simbol keramah-tamahan Indonesia.travel/wonderful Indonesia.

SUMBER EKONOMI MASYARAKAT TIONGHOA

Sumber eknomi masyarakat Tionghoa secara historis dan kontemporer berpusat pada sector perdagangan, distribusi, jasa , dan keweriusahaan. Masyarakat Tinghoa di Indonesia mendominasi perdagangan perhiasan, toko bangunan, elektronik, serta memiliki peran penting dalam jaringan distrubusi dari Kota sampai Desa, dan juga di sektor industri seperti pabrik-pabrik. Koh Olong salah satu dari keluarga Tionghoa di Jatiwangi membuka usaha rumah makan demi ketahan basis ekonomi Tionghoa bernama Rumah Makan Swieke Chandra Jatiwangi Anno 1957.

Kecap Majalengka (Foto: Sumber: Majalengkatiheula)

Kecap CapTjian Tjuen Teng merupakan produksi kahas Majalengka dan mungkin satu-satunya. Kapan kecap masuk ke Majalengka ? , kalau melihat secara umum kedatangan orang Tiongkoklah yang membawa “cairan hitam” ke Nusantara begitu pula ke Majalengka . Orang Tiongkok masuk ke Majalengka melalui jalur Cirebon. TJia Tjuen Teng pada tahun 1920 memulai merintis usaha pembuatan kecap dibantu saudaranya dan warga setempat dijalan Raya Barat Jl. KH. Abdul Halim tetanggaan sama gedong jangkung Majalengka , kecap yang mengusung logo “Matahari” ini menampilkan citarasa yang khas yang berbeda dengan kecap kecap yang ada saat itu bahkan sampai saat ini masih menjadi ikon khasnya rasa kecap asli Majalengka Majalengkatheula.blogspot.com . Produksi kecap cap tjunteng ini masih tetap dijalankan oleh keturunannya di daerah Ciputis kadipaten.

Acara ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan, LPDP, dan Dana Indonesiana. Ruang dialog ini lahir dari kepercayaan, dari kepercayaan tumbuh kolaborasi, dan dari kolaborasi harapannya terbangun masa depan Majalengka yang lebih inklusif dalam pemajuan sosial, politik, dan kebudayaan di Majalengka. (*)

Reporter Muhammad Assegaf
Editor Aris Abdulsalam