Islam yang aku hayati adalah Islam yang tidak pernah selesai. Ia tumbuh ala kadarnya, dari perenungan yang berantakan dan laku sehari-hari yang sering kali biasa saja. Aku memulainya sebagai cara memandang dunia. Kutemukan tanpa sengaja, ketika aku sedang sibuk bertanya, sebenarnya apa itu agama?
Pertanyaan itu kujalani bersama banyak orang dan banyak tradisi. Bersama kawan Katolik, buddhis, penghayat, juga sesama muslim dari latar yang berbeda-beda. Islam, dalam percakapan itu, hanyalah satu di antara banyak agama dunia yang dibandingkan, diuji, bahkan dipercakapkan dengan akrab dan riang gembira. Dari Sunni, Syi’i, Ahmadi, pesantren tradisional, tarekat, hingga muslim urban, diskusi-diskusi dengan mereka itu perlahan menampakkan pola tentang Islam yang bekerja dalam kehidupan.
Pola yang paling menonjol bagiku adalah dimensi politis Islam yang sangat kuat. Bukan politik elektoral yang sempit, namun cara mengatur kehidupan bersama. Islam punya dorongan besar untuk mengurus dunia seperti relasi sosial, distribusi keadilan, dan pengelolaan kekuasaan. Ia hadir melalui disiplin fikih, syariah, dan aturan-aturan yang membumi lainnya. Karakter ini memang kerap jatuh menjadi kaku dan legalistik, tapi justru di sanalah tersimpan potensi transformasinya.
Dimensi politis ini berkelindan dengan sifat Islam yang sejak awal relatif non-spekulatif. Meskipun kemudian berkembang tradisi kalam dan tasawuf yang rumit, kerangka awal Islam cenderung konkret dan material. Ia bekerja di level tubuh, tindakan, dan praktik yang bisa dipertanggungjawabkan. Dalam pengertian ini, Islam terasa embedded, hadir di dalam dunia bukan melayang di atasnya.
Dari sanalah aku menemukan wajah sosial Islam yang begitu kuat. Sejak kelahirannya, Islam berbicara fasih tentang dunia yang timpang dan upaya menatanya ulang. Tentang yatim, fakir miskin, perempuan, hamba sahaya, dan kekerasan struktural. Jejak itu terus berulang dalam sejarah kontra-kolonialisme dan gerakan sosial umat. Rasanya bukan sebagai romantisme tapi sebagai sesuatu yang logis. Karena kekuatan inilah juga Islam sering dicurigai baik lewat orientalisme, islamofobia, maupun realitas problematis di negara-negara muslim. Namun bagiku, di situlah ketegangan Islam berada. Di antara disiplin yang kaku dan dorongan etis untuk terus berpihak pada yang ringkih.
Kembali Ke Level Dasar

Islam bekerja lewat kebiasaan yang diulang-ulang. Terlihat menjemukan, mengekang, tapi penganutnya bilang itulah jalan yang lurus, penghambaan yang benar. Meskipun di antara mereka yang mengatakannya ada yang bolong-bolong salat, ada yang godin saat puasa, ada yang belum sempurna menutup aurat, dan ada yang masih minum alkohol.
Secara fisik, syahadat diucapkan dengan lisan, menegaskan dua kalimat inti bahwa “Tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad utusan Allah”. Ucapan ini sering dilakukan di momen formal maupun informal, misalnya ketika masuk agama atau dalam doa harian. Tubuh ikut serta, meskipun secara sederhana. Bibir bergerak, dada naik-turun mengikuti napas, suara menembus ke ruang sekitar.
Syahadat mengajarkan kita untuk menyangkali ego dan terbebas dari obsesi diri, menegaskan bahwa hanya Allah yang menjadi pusat dominasi, dan segala bentuk hirarki palsu adalah manifestasi kesyirikan. Dalam konteks sekarang, hal ini kiranya bisa kita refleksikan dengan isu eksploitasi yang diwariskan kolonialisme, patriarki-heteronormatif, favoritisme agama, atau antroposentrisme yang kian merongrong.
Gerak tubuh dalam salat pun begitu sangat fisik. Sikap berdiri sempurna, rukuk, sujud, duduk, diulang lima kali sehari, dibilas air wudu. Rutinitas ini memerlukan kesadaran penuh, menggerakkan tubuh secara disiplin, rinci, dan tepat aturan. Salat didorong secara berjamaah menegaskan kesetaraan. Semua berdiri sejajar tanpa memandang status sosial. Tubuh jelas menjadi media latihan kehadiran, menghentikan aktivitas rutin, dan menandai jeda dalam arus kesibukan.
Etisnya, salat melatih sikap disiplin kita. Pengelolaan waktu pribadi dan mendorong solidaritas sosial. Kita didorong hadir penuh di tengah kesibukan. Gerakan menundukkan kepala seperti para budak di masa Arab pra-Islam, mengajarkan kerendahan hati di hadapan Allah, sekaligus menantang ilusi kekuasaan dan status sosial. Kita boleh membawanya sebagai usaha menyeimbangkan dinamika kuasa, mengingatkan bahwa prestise, posisi karir, kelas, dan pencapaian seharusnya menumbuhkan kesetaraan bersama.
Berikutnya zakat yang melibatkan pemberian harta, biasanya berupa uang atau makanan pokok kepada mereka yang berhak. Prosesnya tentu membutuhkan tindakan nyata, menghitung, menyerahkan, mengorganisasi, atau menyalurkan bantuan. Tubuh dan pikiran bersatu pada dalam memastikan distribusi tepat sasaran, menjadikan ibadahl yang konkrit dan bisa dirasakan.
Zakat menekankan keadilan distributif dan pelepasan kepemilikan. Zakat membangun pengertian bahwa harta bukan hanya untuk diri sendiri sebab ada hak orang lain yang melekat di dalamnya, melatih kepedulian, dan mengurangi ketamakan. Ini adalah kritik terhadap akumulasi kapitalistik yang berlebihan. Termasuk eksploitasi buruh dan konsumerisme tanpa batas. Langkah yang tidak mudah.
Kemudian shaum Ramadan dengan menahan diri dari makan, minum, aktivitas seksual, dan kadang ucapan atau perilaku tertentu selama matahari belum tenggelam. Tubuh merasakan kelelahan dan gejolak hasrat. Pola tubuh berubah, jadwal makan dan tidur diatur. Akibatnya kesadaran sensorik meningkat, rasa haus dan lapar menjadi pengingat alamiah.
Puasa adalah latihan pengendalian nafsu dan konsumsi. Di ranah sosial, perannya sangat penting untuk menumbuhkan empati terhadap mereka yang kekurangan. Dalam konteks modern, puasa juga mengajarkan kesadaran terhadap batas sumber daya seperti makanan, energi, dan lingkungan. Mengajak kita meminimalkan limbah dan hidup lebih selaras dengan alam di tengah tuntutan serba instan dan target produksi.
Terakhir adalah naik haji yang menuntut aktivitas fisik yang lebih intens. Berjalan kaki panjang, antre, tawaf mengelilingi Ka’bah, sai antara Safa dan Marwah, berdiri di Arafah, dan lain-lain. Tubuh sungguh terlibat dalam perjalanan spiritual. Fisik bertemu dengan medan kesabaran dan ketahanan. Semua jamaah berada dalam kondisi yang sama, memakai pakaian seragam, dan menghadapi panas, keramaian, serta satu titik fokus yang melampaui rupa dan suara.
Melalui ziarah ini kita melepaskan identitas dan bayang-bayang primordial. Haji menegaskan bahwa semua manusia, terlepas dari status, bangsa, atau latar belakang, sama di hadapan Allah. Perjalanan ini menumbuhkan kesadaran akan keterbatasan diri sekaligus memunculkan rasa persaudaraan universal, menyatukan kita sebagai bagian dari kesemestaan dan kewajiban etis terhadap sesama makhluk-Nya, juga menegaskan pentingnya kesederhanaan dan tanggung jawab sosial-material.
Amal Makruf Nahi Munkar

Setelah melewati kelas-kelas teologi abstrak dan praktik di akar rumput yang penuh tantangan, akhirnya terlihat jelas bahwa lakon Islam bisa dirangkum dalam satu prinsip sederhana ialah amal ma’ruf nahi munkar. Perbuatan baik dilakukan, perbuatan yang zalim dicegah. Semua amal ini tidak lepas dari iman dan ilmu. Itulah yang kadang disebut jihad, aktivitas fisik sekaligus juga penaklukan hawa nafsu yang berjalan seiringan.
Inti Islam adalah sejauh mana kita mampu mewujudkan nilai itu dalam amal nyata. Di tengah dunia yang penuh hierarki, kasta sebagai feodalisme tradisional atau rasisme kontemporer. Islam hadir dengan ide yang tampak sederhana, tapi dengan pelaksanaan yang tidak mudah. Spiritnya selalu menekankan pembebasan dari perbudakan, dari eksploitasi, dari ketidakadilan. Sejarah Nabi dan para sahabat menunjukkan kisah pembebasan budak, perhatian pada fakir miskin.
Spirit itu kiranya yang menjadi napas umat Islam dalam sejarah modern. Ketika kolonialisme Barat merangsek masuk ke kawasan negeri-negeri muslim. Aktualisasi imannya tidak diam, umat vokal menolak penjajahan. Di Bandung, spirit itu muncul dalam banyak cara. Dari gerakan dakwah dan hijrah hingga kelompok kontekstual. Uniknya satu sama lain bergerak dalam medan aktivisme lewat prinsip amal ma’ruf nahi munkar yang sama.
Kasus yang menarik adalah bagaimana umat muslim di Bandung terpolarisasi karena mazhab akidahnya. Syiah, teologi yang dimarginalisasi dalam sejarah. Tradisi Syiah ini terejawantah melalui berdirinya Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) pada 2000 di Gedung Merdeka. Begitu juga oposisinya, Aliansi Nasional Anti-Syi’ah (ANNAS) dideklarasikan pada 2014 di Masjid Al-Fajr. Keduanya boleh saja bersebrangan, tapi tahukah kalau keduanya disatukan dalam panji membela Palestina, atas nama saudara seiman ataupun sekemanusiaan. Ternyata pengalaman sebagai kelompok terjajah mampu menghubungkan dua kutub spektrum Islam.
Baca Juga: Bandung Menjelang Lebaran Era 1990-an dalam Arsip Bandung Pos
Inti yang bisa ditarik sederhana. Islam, dalam segala rupa praktik dan interpretasinya, selalu menempatkan Allah sebagai pusat. Dari situ muncul etika, tanggung jawab sosial, dan kesadaran universal. Agama ini memperlakukan manusia lain dengan adil, menolak penindasan, dan membebaskan mereka yang terjajah. Di dunia yang modern, kompleks, dan sering timpang, prinsip ini tidak kehilangan relevansi. Ia tetap menjadi pijakan untuk menegakkan keadilan, merawat kemanusiaan, kesemestaan, dan menjaga keberpihakan etis terhadap yang lemah.
Jadi, Islam itu agama yang main fisik, ya? Iya, main fisik. Terutama kalau dilihat dari konteks Bandung, yang dipersepsikan sebagai mayoritas. Kita sering melihat dia yang suka turun ke jalan untuk aksi penolakan terhadap minoritas. Tapi di sisi lain, main fisik itu juga dipraktikkan untuk melindungi, seperti Banser yang menjaga gereja malam Natal, atau basis santri pengajian yang menolak pengusuran di kampungnya. Jadi fisik di sini bukan sekadar agresi, tapi juga pelindungan.
Kiranya begitu refleksiku di pertengahan jalan Ramadan kali ini, di momen Nuzululquran, di bulan yang lengkap untuk membumikan Rukun Islam, dengan huru-hara isu perang Iran dan Amerika Serikat, Palestina dan Israel yang lagi-lagi mencuat. Hanya Allah-lah yang Maha Besar, sesama manusia dan ciptaan-Nya, kita sama-sama kecil. Takbir, Allahu Akbar! (*)