Ayo Netizen

Habis Lebaran, Tibalah Sampah

Oleh: Ibn Ghifarie Senin 23 Mar 2026, 05:17 WIB
Darurat sampah di Bandung Raya menyusul peristiwa kebakaran di TPA Sarimukti. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat asyik mencari referensi tentang idulfitri di Bandung, tiba-tiba muncul postingan di beranda (Facebook) dari akun @bdg.kecamatan.kiaracondong bertajuk "Idulfitri Tanpa Sampah? Bisa Banget!"

Memang sudah menjadi kebiasaan habis (salat) lebaran (idulfitri), tibalah (darurat) sampah.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan darurat sampah di Bandung Raya menyusul peristiwa kebakaran di TPA Sarimukti. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Darurat Sampah Saat Lebaran

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyiagakan sebanyak 2.266 personel kebersihan selama periode libur Idulfitri 1447 Hijriah.

2.266 personel ini disebar di 263 titik pantau guna memastikan kondisi kota tetap bersih di tengah meningkatnya aktivitas masyarakat.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menetapkan status darurat sampah. Akibat dipicu penutupan sementara TPA Sarimukti.

Pasalnya, persoalan sampah sebagai tantangan serius yang dihadapi Kota Bandung, bertepatan dengan momentum Idulfitri 1447 Hijriah.

Usai Salat Id di Plaza Balai Kota Bandung, Farhan menjelaskan produksi sampah harian di Kota Bandung mencapai 1.600 hingga 1.800 ton.

Tingginya volume sampah merupakan konsekuensi dari aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat yang dinamis.

Darurat Sampah, Farhan Ajak Warga Ubah Budaya di Momentum Idulfitri (Sumber: Istimewa Diskominfo Kota Bandung)

“Sampah adalah residu dari kehidupan kita. Maka, pengelolaannya menjadi tanggung jawab bersama,”

Persoalan sampah di Kota Bandung telah menjadi perhatian pemerintah pusat, sehingga diperlukan langkah serius dan berkelanjutan.

Pengembangan berbagai program berbasis partisipasi masyarakat, mulai dari tingkat kewilayahan hingga penguatan petugas kebersihan.

Solusi utama terletak pada perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam memilah dan mendaur ulang sampah.

“Kebersihan adalah bagian dari iman. Maka mari kita mulai dari hal sederhana, seperti memilah sampah dari rumah,”

Momentum Idulfitri dapat menjadi titik awal perubahan budaya menuju kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

“Dengan kebersamaan dan kesadaran kolektif, kita optimistis Kota Bandung mampu mengatasi persoalan ini,”

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto, mengatakan, pengelolaan sampah saat Lebaran dilakukan dengan skema khusus.

Salah satunya dengan penghentian sementara pengangkutan sampah ke TPA Sarimukti pada H-1, Hari H, hingga H+1 Idulfitri.

Warga Kota Bandung diimbau untuk menahan sampah organik selama tiga hari, yakni H-1, Hari H, dan H+1 Idulfitri, karena tidak ada pengangkutan ke TPA Sarimukti,”

Meski pengangkutan dihentikan sementara, DLH tetap melakukan pemantauan intensif di 263 titik yang meliputi pasar, ruas jalan utama, hingga pusat keramaian.

Dari total 2.266 personel yang dikerahkan, sebanyak 926 petugas bertugas pada H-1, 211 petugas saat Hari H, 640 petugas pada H+1, dan 1.025 petugas pada H+2.

Ratusan armada pendukung disiagakan, mulai dari truk pengangkut, kendaraan operasional, hingga alat berat untuk memastikan penanganan sampah tetap berjalan optimal.

Tumpukan sampah di sekitar Pasar Cicadas, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Keterlibatan Masyarakat, Tanggungjawab Bersama

Peran masyarakat menjadi kunci dalam pengendalian sampah selama periode Lebaran.

Usai memonitor TPS di kawasan Pasar Kiaracondong, Farhan membeberkan jumlah petugas yang disiagakan masih belum cukup jika tidak diiringi partisipasi aktif warga.

“Petugas kita ribuan, tapi tetap tidak akan cukup tanpa peran warga. Percuma kalau masyarakat tidak ikut mengurangi dan memilah sampah dari rumah,”

Mari warga untuk memisahkan sampah organik dan non-organik sejak dari sumbernya.

Sampah organik dapat dikelola lebih lanjut, sampah anorganik seperti plastik bisa disalurkan melalui bank sampah, dan residu diserahkan kepada petugas pengangkut.

Pengawasan langsung ke sejumlah titik rawan timbulan sampah, khususnya di kawasan pasar, guna memastikan aktivitas tetap berjalan lancar tanpa mengganggu kebersihan dan ketertiban.

Dengan menata posisi lapak PKL di Pasar Kiaracondong yang sampai memenuhi ruas jalan, sehingga berpotensi menimbulkan kemacetan.

"Selain memantau TPS, kami juga memastikan ketertiban di Pasar Kiaracondong. Beberapa pedagang yang berjualan hingga ke ruas jalan, kami minta memindahkan lapaknya, agar tidak menghalangi jalan. Pak Camat dan unsur kewilayahan akan memonitor. Kami mendukung ekonomi kerakyatan, namun jangan sampai mengganggu jalan. Ketertiban tetap yang utama,"

Dengan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, Pemkot Bandung optimis kebersihan kota selama libur Idulfitri dapat tetap terjaga. (www.bandung.go.id).

Ilustrasi salat Idulfitri (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Masih segar dalam ingatan, bila salat Idulfitri di lapangan (Alun-alun), fasilitas umum, serambi masjid yang meluber keluar hingga menutup jalan. Pasca salat Ied itu selalu menyisihkan sampah yang berserakan, koran, plastik bekas amparan sujud bersimpuh menghadap Illahi.

Untuk di era 1990-an di Kandang Wesi. Bisanya warga Darussalam, Pasar Lama melaksanakan salat Idulfitri, Iduladha dengan menggelar sajadah di pojok selatan Alun-alun Bungbulang, tepatnya di depan SDN Bungbulang II (Sekarang SDN Bungbulang I).

Bila sudah penuh bergeser ke sebelah utara, tepat di depan Kawadanaan (sekarang Kantor Kecamatan Bungbulang yang berdampingan dengan Kantor Desa Bungbulang) belakang GOR, Pasar Ceplak.

Alun-alun menjadi tempat syiar dan berbagai kegiatan dakwah Islam, termasuk saat salat Id. Sejak pagi warga Sabilissalam, Babussalam, Sukamanis, Warung Gantung mulai berdatangan, mengenakan pakaian baru, ginding, yang berwarna cerah, serba putih.

Tentunya dengan membawa keluarga, sanak saudara di kota yang berbaris rapih di depan Puskesmas, Pasar Ceplak. Untuk warga Pasantren, Panyingkiran, Kaum yang lebih awal hadir biasanya menempati posisi tepat di depan Masjid Agung, KAU Bungbulang.

Sungguh indah, sangat meriah, penuh kebersamaan suasana salat Id di wilayah selatan yang terkenal dengan Leuwi Jurig, Puncak Guha. Sebelum salat Id dimulai, sayup-sayup terdengar suara takbir yang menggema melalui pengeras suara (toa), bedug yang menandakan hari kemenangan telah tiba.

Warga yang hadir biasanya sudah menyebar di sekitar Alun-alun, membawa sajadah, tikar, samak untuk salat berjamaah.

Selesai salat, suasana menjadi penuh kehangatan, rasa kebahagiaan dengan saling bermaaf-maafan, berjabat tangan, dan berpelukan. Suasana kebersamaan, keakraban semakin terasa, sebab banyak orang di dayeuh (dong sih, di gedong beberesih) pada mudik yang saling bertegur sapa dan berbagi cerita masa lalu, hingga meraih keberhasilannya.

Saking sering numpuk sampah koran, pelastik bening, Pasapon (tukang bersih-bersih) pernah berkata, "Meni hese hirup berseka! Masih nganggap beberes mah ku tukang kabersihan!"

Idulfitri Vibes Tetap Eco-Friendly (Sumber: Instagram @bdg.kecamatan.kiaracondong)

Yuk Mulai dari Diri Sendiri

Rupanya, setelah gema takbir mereda, ada suara lain yang pelan-pelan meninggi dari gesekan koran, derit plastik, bau sisa makanan, dan tumpukan sampah (dapur) yang menggunung di sudut-sudut kota, pojok Alun-alun, pusat belanja.

Memang kita merayakan kemenangan, tetapi apa yang sebenarnya kita menangkan?

Hanya berhasil menahan lapar, tetapi belum sepenuhnya menahan hasrat, masih buang sampah sembarang, hatta setelah salat Ied, bekas amparan sujud dibiarkan saja, tidak diambil untuk dibuang pada tempatnya.

Sejatinya Lebaran menjadi momen yang tepat untuk kembali kepada kesederhanaan yang jernih, suci. Fitrah bukan sekadar status spiritual, melainkan sikap hidup yang secukupnya, sewajarnya, dan sepantasnya.

Ingat, dalam fitrah, tidak ada yang berlebihan. Justru kebahagiaan hadir dari keberhasilan yang dimulai dari diri sendiri, sejak dini, dimulai dari yang terkecil dengan tanpa perlu ditumpuk-tumpuk dan mengandalkan petugas pemerintah.

Tumpukan sampah menjadi cermin kita dari wajah konsumtif yang seakan-akan disembunyikan (ditahan selama satu bulan Ramadan), tibalah hari Lebaran kembali ke setelan awal buang sampah sembarang.

Mari kita renungkan dan ikuti ajak dari wargi Kircon, yuk mulai kebiasaan baik di hari yang suci ini:

- Tinggalkan koran sekali pakai, dan beralih ke yang lebih ramah lingkungan.

- Bawa sajadah / tikar / alas kain sendiri.

- Kurangi sampah sekali pakai.

- Jaga kebersihan area Salat Ied bersama-sama.

Karena kebersihan adalah bagian dari iman, dan bumi yang bersih adalah tanggung jawab kita bersama.

Less Sampah, More Berkah. Rayakan kemenangan dengan cara yang lebih bijak dan peduli lingkungan.

Selamat Hari Raya Idulfitri 1447 H Mohon maaf lahir dan batin. (*)

Reporter Ibn Ghifarie
Editor Aris Abdulsalam