Omset pedagang bunga saat lebaran meningkat. Seperti terjadi di pasar bunga Wastukencana kota Bandung. Perayaan lebaran dan hari-hari istimewa seperti Valentine, penjualan mawar bisa menembus seribu tangkai per hari per toko. Harga bunga mawar naik 100%, dari Rp5 ribu menjadi Rp 10 ribu per tangkai, dengan harga rangkaian bunga berkisar Rp 75 ribu hingga jutaan rupiah.
Usaha bunga potong di Bandung berpusat pada suplai bunga segar langsung dari kebun di area Lembang dan Bandung Barat, dengan sentra penjualan utama di Pasar Bunga Wastukencana. Jenis bunga yang menjadi pilihan populer saat lebaran antara lain mawar, krisan, dan sedap malam.
Usaha florist saat Lebaran 2026 sangat potensial dengan fokus pada parsel/hampers kombinasi bunga dan hadiah (tea set, home decor). Tren 2026 menekankan eksplorasi warna dan bunga segar dengan pendekatan sensorik, serta penggunaan bunga lokal yang dirangkai elegan.

Prospek usaha bunga potong atau Florikultura saat lebaran dan momentum lain nya bisa reinventing atau menimbulkan kembali predikat Bandung sebagai kota kembang. Bahkan kawasan Bandung Raya bisa juga menjadi kota kembang. Seperti misalnya Jatinangor Sumedang yang saat ini memiliki destinasi wisata terkait bunga.
Setidaknya ada tiga sentra bunga di kota Bandung yang masih bertahan. Pasar Bunga Wastukencana. Pasar Bunga Wastukencana didirikan sekitar tahun 1980 sebagai wadah terpadu para pedagang di kawasan Pasar Bunga Wastukencana. Pada tahun 1987, pasar bunga ini direnovasi menjadi bangunan baru bergaya khas priangan dan dibuka oleh Pemerintah Kota Bandung sebagai simbol kota Bandung, ibu kota kembang. Komplek pasar bunga terdiri dari tiga blok bangunan dan terdapat 30 toko bunga di kawasan pasar bunga Wastukencana.
Masyarakat sudah akrab dengan Palasari sebagai pasar buku, baik bekas atau baru. Ternyata disini juga terdapat para penjual bunga potong yang cukup ramai.

Reinventing kota kembang sebaiknya diperluas untuk kabupaten di sekitar Kota Bandung. Seperti halnya Kota Sumedang tepatnya di Kecamatan Jatinangor yang telah memiliki destinasi yang tak hanya memikat dari segi alam, tetapi memiliki eksotisme tentang bunga. Destinasi tersebut adalah Jans Park.
Destinasi wisata Jans Park dan Kiara Payung di Sumedang juga memiliki potensi usaha florikultura yang masih terpendam.Dua destinasi itu bisa bersinergi dan menciptakan pasar lokal hingga global.
Jatinangor yang merupakan wilayah Kabupaten Sumedang memiliki destinasi wisata flora bernama Jatinangor National Flower Park atau biasa disebut Jans Park. Destinasi tersebut bisa menjadi pendorong tumbuhnya usaha florikultura bagi masyarakat disekitarnya. Potensi florikultura tidak mengenal istilah resesi sehingga perlu segera dikembangkan.
Jans Park menyuguhkan tempat wisata dengan konsep taman bunga beserta bangunan ikonik ala negeri dongeng. Menjadi salah satu pelopor wisata flora di Indonesia dengan luas mencapai 7.5 hektar. Kawasan Jans Park terlihat mencolok dari kejauhan karena bangunannya yang warna-warni. Saat mulai memasuki kawasan Jans Park, pengunjung dapat melihat bangunan menyerupai model istana di eropa dan bangunan masjid ala Rusia yang berwarna-warni. Di depan bangunan tersebut, terdapat hiasan menara putih berbentuk menyerupai jamur. Suasana depan Jans Park ini sangat ikonik dan instagramable.
Sesuai dengan namanya, daya tarik Jatinangor National Flower Park berada pada taman bunganya yang luas dan memiliki berbagai varian jenis bunga. Jans Park juga dihiasi oleh gedung bangunan warna-warni seperti di negeri dongeng. Oleh karena itu, terdapat banyak sekali spot foto instagramable. Selain berfoto, pengunjung juga dapat membawa pulang bunga krisan sebagai oleh-oleh.

Potensi usaha florikultura khususnya bunga potong (cut flower) di Kawasan sekitar Jans Park dan Kiara Payung perlu ditumbuhkan. Program untuk mengembangkan sektor usaha florikultura khususnya bunga potong tidak cukup hanya dengan bantuan permodalan. Dibutuhkan juga pengetahuan praktis seperti proses kreatif, manajemen mutu, pencitraan produk, jaringan pemasaran dan teknik pengemasan.
Baca Juga: Habis Lebaran, Terbitlah Hajatan
Selain itu pentingnya pola kemitraan usaha yang saling menguntungkan antara para petani dan pengusaha, karena pada umumnya pengusaha besar bunga potong selain menguasai pasar juga menguasai teknik budidaya. Pola kemitraan mengarah kepada simbiosis mutualisme dimana pengusaha besar akan mendapatkan pasokan bunga yang bermutu dengan volume yang cukup, sehingga pengusaha tidak perlu harus mengeluarkan dana untuk membuka kebun sendiri. Sementara bagi para petani, pemasaran hasil produksinya akan lebih terjamin dan juga adanya pembinaan untuk alih teknologi budidaya yang lebih maju. Selain itu pengusaha besar tersebut juga dapat bertindak sebagai avalis kredit bagi para petani sebagai mitra usahanya.
Pengusaha bunga potong juga dituntut untuk dapat memperdagangkan produknya dalam keadaan segar. Konsumsi bunga potong lokal, nasional dan global semakin meningkat. Namun tantangannya juga semakin kompleks, untuk itu diperlukan teknologi yang bisa menghasilkan bunga potong berwarna-warni, bentuk yang menarik, tahan lama dan harganya kompetitif. Juga adanya segmen pasar untuk masyarakat golongan tertentu yang mempunyai selera eksklusif dan fanatik terhadap jenis bunga tertentu yang belum dapat dihasilkan di dalam negeri, hal itu menyebabkan semakin meningkatnya impor bunga potong. Di lain pihak, lembaga-lembaga penelitian dan para nursery di dalam negeri telah mengembangkan varietas-varietas baru yang mempunyai daya saing yang kuat dengan produk impor, juga dengan adanya teknologi budidaya yang semakin dikuasai dan efisien menyebabkan harga jual bunga potong mampu bersaing dengan produk impor. (*)