Ayo Netizen

Trah Sumedang, Belajar Mangkas Rambut ke Orang Garut dan di Bandung Sukses Buka Barbershop

Oleh: Dudung Ridwan Kamis 02 Apr 2026, 20:42 WIB
Pemangkas rambut asal Garut. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

LEBARAN telah usai. Baju baru sudah dipakai, saling bermaaf-maafan sesama keluarga dan sahabat pun sudah dilakukan. Bagi-bagi THR, makan opor ayam dan ketupat pun sudah. Semoga kita kembali ke fitri. Akhirnya, kita kembali ke kehidupan normal. Yang tertinggal barangkali rasa capek dan tumpukan sampah di belakang rumah.

Tapi bagi mereka yang bisnisnya—saat menjelang Lebaran—marema seperti bisnis konveksi, bisnis kue, jualan baju, termasuk, bisnis barbershop alias tukang pangkas rambut--mereka mah selain menyisakan rasa capek, tapi sekaligus menyisakan kegembiraan karena banyak cuan telah mereka dapatkan. Mereka tinggal menikmati keuntungan. 

Salah satu yang beruntung itu adalah Kardia Kusman (63), pemilik barbershop di kawawan  Parahyangan Kencana Soreang, Kabupaten Bandung. Menjelang Lebaran kemarin, orang berbondong-bondong mengunjungi gerai barbershop-nya. Wajar, di momen seperti ini, memotong rambut bukan sekadar soal penampilan, melainkan bagian dari kesiapan menyambut momen sakral yaitu bertemu keluarga, bersilaturahmi, hingga menghadiri berbagai acara.

Di “Barbershop Bagus”, milik duda beranak dua itu—keduanya sudah sarjana--suasana menjelang Lebaran terasa lebih sibuk daripada hari-hari biasa. Kardia dari pagi hingga malam tak berhenti memotong rambut. Pelanggannya datang silih berganti. Saat mendekati Lebaran, jumlah pelanggannya meningkat drastis.

Tarif pangkas rambut. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

“Dua hari menjelang malam Lebaran rata-rata saya memangkas 20 orang. Puncaknya adalah malam takbir. Jujur, saya memangkas hingga 70 kepala,” kata Kardia Kusman sambil tersenyum saat ditemui di barbershop-nya.

Soal tarifnya memang di malam takbir mengalami kenaikan. Tarif dewasa yang semula Rp20.000 naik jadi Rp25.000 dan tarif anak-anak dari Rp18.000 menjadi Rp20.000. “Saya naikkan tarifnya karena ada libur panjang setelah Lebaran dan mungkin hitung-hitung mereka memberi hadiah Lebaran kepada saya. Di saat seperti ini, usaha pangkas rambut sudah umum menaikkan tarif,” katanya.

Menurutnya, setelah Lebaran memang sepi dari pengunjung, tapi alhamdulillah masih ada satu dua orang yang datang ke gerainya. Mereka adalah anak-anak yang mau masuk sekolah lagi atau mungkin ada yang terlewat dipangka saat malam takbir.

Kardia Kusman, pada awalnya, tidak punya niat dan cita-cita jadi tukang pangkas rambut. Trah-nya pun Cipaku, Sumedang asli. Ia bukan asli Garut—ilahar-nya tukang rambut berasal.

Ceritanya panjang. Ia pun berkisah:

“Pada 2014, ada yang mengontrak ruko saya. Kabarnya, ia ingin membuka salon wanita. Namanya salon untuk wanita, tentu saja tidak menerima ‘pasien’ laki-laki. Ya, akhirnya saya mendatangkan tukang pangkas rambut dari Garut. Kami bekerja sama. Saya menyediakan tempat dan alat-alat cukurnya. Tapi kebanyakan mereka tidak mampu bertahan lama. Mereka tak betah. Alasan mereka tempatnya belum ramai. Dan pergantian tukang pangkas ini saya hitung hampir ganti 18 kali. Tapi, dalam waktu selama itu saya diam-diam belajar dari mereka--belajar ilmu mencukur ke orang Garut. Dan saya bertekad suatu hari saya harus bisa jadi tukang pangkas rambut yang andal seperti mereka,” katanya.

Menurutnya, ia tidak punya latar belakang kerja sebagai tukang pangkas rambut. Ia pernah jadi tenaga honorer di geologi, BP 7, lalu kerja di Bank BPR selama 10 tahun. “Saya enggak betah dan kemudian bank itu bangkrut. Kemudian saya mencari peluang lain dan menemukan di bidang pertamanan. Saya punya lapak taman di Taman Cibeunying, Kota Bandung.”

Kardia mengatakan, dalam mencari pekerjaan, ia selalu berdasarkan Insting. Apa pun pekerjaannya yang ada di hadapannya yang sifatnya menguntungkan dan halal akan ia kerjakan. Sebab, manusia dilahirkan haus akan belajar dan akan bisa karena ada niat dan kebutuhan. (*)

Reporter Dudung Ridwan
Editor Aris Abdulsalam