Minggu terakhir bulan Maret 2026, burung kuntul kerbau (Bubulcus ibis) beterbangan di belakang traktor yang sedang menyungkal tanah sawah. Hamparan persawahan kelas satu di Desa Cingcin, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, yang sedang menghitung hari akan ditimbun. Kuntul berbulu putih berdiri di atas tanah yang disungkal matabajak traktor. Dengan jeli kuntul-kuntul itu mengamati setiap sungkalan tanah, apakah ada cacing, belut, larva capung, ikan, atau binatang air lainnya, jangkrik, bahkan kadal, semua biasa dimakannya. Kuntul kerbau dewasa terlihat seluruh bulunya putih, karena masih ada yang belum memasuki musim berbiak, yang berlangsung hingga Juli. Kuntul yang mulai memasuki musim berbiak, bulu kepala, leher, dada, dan punggunnya menjadi berwarna jingga keemasan. Boleh jadi, inilah cara alam mempersiapkan kuntul agar menarik bagi pasangannya, sehingga proses pembiakan dapat terus berlangsung.
Burung ini sering terlihat berdiri di punggung kerbau, banteng, atau sapi di padang rumput. Terdapat hubungan saling menguntungkan di antara keduanya. Kerbau diuntungkan karena lalat penggigit kerbau yang dipatuki oleh kuntul. Begitu pun burung kuntul, di selebar punggung kerbau, ia mendapatkan asupan pakan yang banyak.
Di seluruh Pulau Jawa dan Pulau Bali terdapat kuntul kerbau, yang hidup di lahan basah, di persawahan, dan di padang rumput yang lembab. Burung ini hidup berkoloni, bersarang di pohon atau di rumpun bambu yang dekat dengan persawahan atau lahan basah, dan pada saat mencari makan. Karena hidupnya berkoloni inilah, burung kuntul terlihat menonjol. Pada saat terbang, pada saat akan bersarang, dan pada saat mencari pakan.
Para karuhun Sunda dapat mengamati lingkungan alam, burung, dan kehidupan sosial masyarakatnya dengan jeli. Hasil amatannya yang berulang kali tentang burung kuntul, misalnya, lalu disebandingkan dengan perilaku warga kampung dalam bermasyarakat. Kristalisasi perilaku burung dan kegiatan manusia di huma atau kebun, melahirkan peribahasa, pur kuntul kari tunggul, lar gagak kari tunggak. Peribahasa ini menggambarkan keadaan seseorang yang hartanya habis tak bersisa, kecuali kerugian, hutang, penyesalan, dan derita, karena perbuatannya yang salah.
Demikian juga para pinisepuh masyarakat Jawa yang melihat burung kuntul putih terbang di langit biru. Tampak berarak dengan formasi seperti serdadu yang berbaris rapi. Melihat hal itu, lalu dimaknainya sebagai perlambang kekompakan dalam satu gerakan yang sama, terbang dalam satu kesatuan, dan merupakan usaha bersama untuk mencapai tujuan. Keadaan formasi kuntul terbang itu lalu dikristalkan menjadi peribahasa holopis kuntul baris, yang bermakna ajakan untuk bekerja sama, bergotong-royong, dan bahu-membahu dalam menyelesaikan pekerjaan.
Sementara di pantai utara Jawa Barat, di Kabupaten Karawang yang menjadi habitat burung kuntul, kawasan lahan basah dan sawah tempat burung kuntul berburu pakan itu menjadi khas. Kemudian menjadi penanda kawasan, lalu masyarakat menamai kawasan itu Kampung Cikuntul. Ada dua kampung dengan toponim Kampung Cikuntul, yaitu di Desa Cikuntul, Kecamatan Tempuran, dan di Desa Sindangkarya, Kecamatan Kutawaluya.

Bagaimana keadaan Kecamatan Tempuran dan Kecamatan Kutawaluya sampai daerah itu ada daerah yang diberi nama Cikuntul? Untuk mendapatkan jawaban itu, harus diketahui keadaan lingkungan pada masa lalunya. Salah satu cara untuk memahami keadaan wilayah pada masa lalu, dengan cara membuka dokumen masa lalu, seperti peta topografi. Kawasan Cikuntul terdapat dalam peta Lembar Pengaritan yang terbit tahun 1910 (Peta: KITLV Heritage Collection), toponim Cikuntul belum dituliskan. Sangat mungkin karena di sana belum ada permukiman. Sedangkan toponim Tempuran sudah dituliskan, karena sudah terdapat permukiman yang cukup luas, yang dikelilingi rawa, lahan basah tanpa batas. Jadi sangat wajar, di kawasan yang masih berupa lahan basah yang sangat luas, tanpa gangguan yang berarti, di sana menjadi habitat burung kuntul. Koloni burung kuntul yang sangat banyak itu dapat terpenuhi pakannya dari lahan basah yang sangat luas. Koloni burung kuntul inilah yang menjadi penanda kawasan. Tempat burung kuntul berkoloni itu kemudian dinamai Cikuntul, dan abadi sampai saat ini.
Baca Juga: Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang
Keadaan itu dapat mewakili keadaan Pulau Jawa pada masa lalu. Di pulau itu banyak lahan basah, rawa, sabana, pengangonan kerbau atau sampi, dan persawahan yang luas, yang menjadi habitat burung kuntul. Kuntul tersebar secara luas, terdapat di Asia, Afrika, hingga Eropa.
Dalam penamaan daerah di Jawa Barat, nama binatang yang menjadi nama daerah, seperti Cikuntul, itu menandakan bahwa daerah tersebut menjadi habitat binatang yang menjadi nama daerah, yaitu banyak burung kuntul. Namun tidak semua nama binatang yang menjadi nama daerah menggambarkan bahwa di daerah tersebut menjadi habitatnya. Misalnya, di Kabupaten Garut ada pemandian air panas yang diberi nama Ciѐngang. Bukan karena di tempat air panas itu banyak ѐngang yang bila menyengat dapat menimbulkan demam, tapi, dinami Ciѐngang, karena airnya panas sekali, seperti sengatan ѐngang. (*)
