Cikuntul, Lahan Basah Tempat Burung Kuntul Berburu Pakan

T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan Rabu 01 Apr 2026, 17:22 WIB
Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) pada saat musim berbiak, dengan bulu yang menarik lawan jenis, jingga keemasan, dan warna putih sesudah musim berbiak. (Sumber: John MacKinnon (1993))

Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) pada saat musim berbiak, dengan bulu yang menarik lawan jenis, jingga keemasan, dan warna putih sesudah musim berbiak. (Sumber: John MacKinnon (1993))

Minggu terakhir bulan Maret 2026, burung kuntul kerbau (Bubulcus ibis) beterbangan di belakang traktor yang sedang menyungkal tanah sawah. Hamparan persawahan kelas satu di Desa Cingcin, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, yang sedang menghitung hari akan ditimbun. Kuntul berbulu putih berdiri di atas tanah yang disungkal matabajak traktor. Dengan jeli kuntul-kuntul itu mengamati setiap sungkalan tanah, apakah ada cacing, belut, larva capung, ikan, atau binatang air lainnya, jangkrik, bahkan kadal, semua biasa dimakannya. Kuntul kerbau dewasa terlihat seluruh bulunya putih, karena masih ada yang belum memasuki musim berbiak, yang berlangsung hingga Juli. Kuntul yang mulai memasuki musim berbiak, bulu kepala, leher, dada, dan punggunnya menjadi berwarna jingga keemasan. Boleh jadi, inilah cara alam mempersiapkan kuntul agar menarik bagi pasangannya, sehingga proses pembiakan dapat terus berlangsung.

Burung ini sering terlihat berdiri di punggung kerbau, banteng, atau sapi di padang rumput. Terdapat hubungan saling menguntungkan di antara keduanya. Kerbau diuntungkan karena lalat penggigit kerbau yang dipatuki oleh kuntul. Begitu pun burung kuntul, di selebar punggung kerbau, ia mendapatkan asupan pakan yang banyak. 

Di seluruh Pulau Jawa dan Pulau Bali terdapat kuntul kerbau, yang hidup di lahan basah, di persawahan, dan di padang rumput yang lembab. Burung ini hidup berkoloni, bersarang di pohon atau di rumpun bambu yang dekat dengan persawahan atau lahan basah, dan pada saat mencari makan. Karena hidupnya berkoloni inilah, burung kuntul terlihat menonjol. Pada saat terbang, pada saat akan bersarang, dan pada saat mencari pakan.

Para karuhun Sunda dapat mengamati lingkungan alam, burung, dan kehidupan sosial masyarakatnya dengan jeli. Hasil amatannya yang berulang kali tentang burung kuntul, misalnya, lalu disebandingkan dengan perilaku warga kampung dalam bermasyarakat. Kristalisasi perilaku burung dan kegiatan manusia di huma atau kebun, melahirkan peribahasa, pur kuntul kari tunggul, lar gagak kari tunggak. Peribahasa ini menggambarkan keadaan seseorang yang hartanya habis tak bersisa, kecuali kerugian, hutang, penyesalan, dan derita, karena perbuatannya yang salah.

Demikian juga para pinisepuh masyarakat Jawa yang melihat burung kuntul putih terbang di langit biru. Tampak berarak dengan formasi seperti serdadu yang berbaris rapi. Melihat hal itu, lalu dimaknainya sebagai perlambang kekompakan dalam satu gerakan yang sama, terbang dalam satu kesatuan, dan merupakan usaha bersama untuk mencapai tujuan. Keadaan formasi kuntul terbang itu lalu dikristalkan menjadi peribahasa holopis kuntul baris, yang bermakna ajakan untuk bekerja sama, bergotong-royong, dan bahu-membahu dalam menyelesaikan pekerjaan.

Sementara di pantai utara Jawa Barat, di Kabupaten Karawang yang menjadi habitat burung kuntul, kawasan lahan basah dan sawah tempat burung kuntul berburu pakan itu menjadi khas. Kemudian menjadi penanda kawasan, lalu masyarakat menamai kawasan itu Kampung Cikuntul. Ada dua kampung dengan toponim Kampung Cikuntul, yaitu di Desa Cikuntul, Kecamatan Tempuran, dan di Desa Sindangkarya, Kecamatan Kutawaluya.

Peta Lembar Pengaritan yang terbit tahun 1910. (Sumber: KITLV Heritage Collection)
Peta Lembar Pengaritan yang terbit tahun 1910. (Sumber: KITLV Heritage Collection)

Bagaimana keadaan Kecamatan Tempuran dan Kecamatan Kutawaluya sampai daerah itu ada daerah yang diberi nama Cikuntul? Untuk mendapatkan jawaban itu, harus diketahui keadaan lingkungan pada masa lalunya. Salah satu cara untuk memahami keadaan wilayah pada masa lalu, dengan cara membuka dokumen masa lalu, seperti peta topografi. Kawasan Cikuntul terdapat dalam peta Lembar Pengaritan yang terbit tahun 1910 (Peta: KITLV Heritage Collection), toponim Cikuntul belum dituliskan. Sangat mungkin karena di sana belum ada permukiman. Sedangkan toponim Tempuran sudah dituliskan, karena sudah terdapat permukiman yang cukup luas, yang dikelilingi rawa, lahan basah tanpa batas. Jadi sangat wajar, di kawasan yang masih berupa lahan basah yang sangat luas, tanpa gangguan yang berarti, di sana menjadi habitat burung kuntul. Koloni burung kuntul yang sangat banyak itu dapat terpenuhi pakannya dari lahan basah yang sangat luas. Koloni burung kuntul inilah yang menjadi penanda kawasan. Tempat burung kuntul berkoloni itu kemudian dinamai Cikuntul, dan abadi sampai saat ini.

Baca Juga: Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang

Keadaan itu dapat mewakili keadaan Pulau Jawa pada masa lalu. Di pulau itu banyak lahan basah, rawa, sabana, pengangonan kerbau atau sampi, dan persawahan yang luas, yang menjadi habitat burung kuntul. Kuntul tersebar secara luas, terdapat di Asia, Afrika, hingga Eropa.

Dalam penamaan daerah di Jawa Barat, nama binatang yang menjadi nama daerah, seperti Cikuntul, itu menandakan bahwa daerah tersebut menjadi habitat binatang yang menjadi nama daerah, yaitu banyak burung kuntul. Namun tidak semua nama binatang yang menjadi nama daerah menggambarkan bahwa di daerah tersebut menjadi habitatnya. Misalnya, di Kabupaten Garut ada pemandian air panas yang diberi nama Ciѐngang. Bukan karena di tempat air panas itu banyak ѐngang yang bila menyengat dapat menimbulkan demam, tapi, dinami Ciѐngang, karena airnya panas sekali, seperti sengatan ѐngang. (*)

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 01 Apr 2026, 17:32

Panduan Wisata Gunung Bromo: dari Rute, Biaya hingga Waktu Terbaik

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menawarkan lebih dari sekadar kawah. Ini panduan lengkap untuk merencanakan kunjungan yang efisien dan tidak boros.

Gunung Bromo (Sumber: freerangestock.com)
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 17:22

Cikuntul, Lahan Basah Tempat Burung Kuntul Berburu Pakan

Bagaimana keadaan Kecamatan Tempuran dan Kecamatan Kutawaluya sampai-sampai di daerah itu ada daerah yang diberi nama Cikuntul?

Kuntul kerbau (Bubulcus ibis) pada saat musim berbiak, dengan bulu yang menarik lawan jenis, jingga keemasan, dan warna putih sesudah musim berbiak. (Sumber: John MacKinnon (1993))
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 16:43

Di Balik Ramainya Kendaraan saat Mudik Lebaran, Ada Risiko Kecelakaan Pengemudi yang Minim Pengalaman

Di balik ramainya mudik Lebaran, hadir pengemudi minim pengalaman. Faktor manusia tetap menjadi kunci utama dalam risiko kecelakaan.

Sejumlah kendaraan melintas di Gerbang Tol Pasteur 1, Kota Cimahi pada Jumat, 27 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 01 Apr 2026, 16:15

Daya Tahan Ekonomi Jawa Barat di Tengah Eskalasi Geopolitik, Mengapa Dampaknya Belum Terasa?

Meskipun tensi Amerika Serikat-Israel dengan Iran meningkat, kredit perbankan nasional tetap tumbuh solid. OJK ungkap alasan mengapa dampak konflik Timur Tengah belum hantam perekonomian Jawa Barat.

Meskipun tensi Amerika Serikat-Israel dengan Iran meningkat, kredit perbankan nasional tetap tumbuh solid. OJK ungkap alasan mengapa dampak konflik Timur Tengah belum hantam perekonomian Jawa Barat.
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 15:28

Bandung di Mata Pendatang: Antara Bayangan dan Kenyataan (Tema Ayo Netizen April 2026)

Bandung memang punya daya tarik yang sulit dijelaskan dengan angka.

Suasana arus balik mulai terlihat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 24 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Komunitas 01 Apr 2026, 15:27

Di Antara Urbanisasi, Gender, dan Tabu: Membongkar Realitas Kota dalam Film "Selamat Pagi, Malam"

Film Selamat Pagi, Malam memotret Jakarta sebagai ruang kompleks tempat urbanisasi, isu gender, dan sisi tabu manusia saling berkelindan, menghadirkan realitas yang jauh dari hitam-putih.

Suasana nonton film “Selamat Pagi, Malam” di Museum Konferensi Asia Afrika, Selasa, 31 Maret 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 12:45

Tentang Radio, Bukan AI Setelah Lebaran Usai

Radio tetap menjadi ruang komunikasi paling autentik yang menjaga emosi, kepercayaan, dan partisipasi warga di tengah maraknya konten berbasis AI, termasuk pada momen Lebaran tahun ini.

Ilustrasi radio. (Sumber: Pexels | Foto: Đặng Thanh Tú)
Sejarah 01 Apr 2026, 12:02

Hikayat Selat Hormuz, Pintu Sempit yang Selalu Jadi Titik Panas Geopolitik Dunia

Sejak era perdagangan kuno hingga konflik modern, Selat Hormuz selalu menjadi titik strategis ekonomi dan geopolitik dunia.

Selat Hormuz, Iran.
Ayo Netizen 01 Apr 2026, 10:05

Beda Pendapat kok Dituding Antek Asing?

Kritik dibalas stempel "antek asing" dan teror fisik. Demokrasi kita kian gagal napas.

Narasi persatuan belakangan ini baunya mulai anyir. Sering kali, ia terasa lebih mirip ancaman ketimbang pelukan yang tulus. (Sumber: Pexels | Foto: Diana)
Linimasa 01 Apr 2026, 08:45

Cerita Warga Perbatasan Bandung Barat yang Lebih Memilih Hidup di Ciwidey

Warga Desa Mekarwangi lebih memilih beraktivitas ke Ciwidey karena akses lebih dekat dan mudah dibandingkan ke pusat Bandung Barat.

Desa Mekarwangi, tempat di mana warganya lebih terhubung dengan Ciwidey alih-alih Bandung Barat. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 18:28

Memupuk Kerukunan, Menjaga Keharmonisan

Memupuk kerukunan dan menjaga keharmonisan menjadi keharusan dalam kerangka penguatan tiga pilar utama.

Masyarakat Adat Kampung Cireundeu Kota Cimahi saat menggelar Tradisi Tutup Taun 1957 dan Ngemban Taun 1 Sura 1958, Sabtu 3 Agustus 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 17:02

Ketika Drainase Jalan Menjadi Hazard bagi Pemotor saat Banjir

Drainase jalan seharusnya menjadi solusi saat banjir. Namun dalam beberapa kasus, justru berubah menjadi sumber bahaya tersembunyi bagi pemotor.

Luapan saluran drainase menyebabkan arus banjir deras menggenangi badan jalan di Cianjur. (Sumber: Dok. Satlantas Polres Cianjur)
Beranda 31 Mar 2026, 16:35

Merangkai Kepercayaan Diri Remaja Difabel, Langkah Kecil Menuju Mandiri

Di Percik Insani, remaja difabel belajar membangun kepercayaan diri melalui aktivitas sederhana misalnya memasak hingga bermusik sebagai langkah kecil menuju kemandirian.

Livia bersama teman-temannya berlatih memainkan alat musik untuk membangun kepercayaan diri. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Linimasa 31 Mar 2026, 16:03

Chuan Jianguo, Olokan Sarkastik Warganet China untuk Kamerad Trump

Warganet China menciptakan julukan Chuan Jianguo sebagai bentuk humor politik yang mengkritik dampak kebijakan Donald Trump.

Gambar Chuan Jianguo, Kamerad Donald Trump di Weibo. (Sumber: Weibo)
Sejarah 31 Mar 2026, 14:07

Sejarah Cirebon Dijuluki Kota Udang

Julukan Kota Udang di Cirebon berakar dari sejarah panjang udang rebon sebagai komoditas utama yang membentuk identitas pesisir sejak dulu.

Ilustrasi julukan Cirebon sebagai Kota Udang. (Sumber: Shutterstock)
Beranda 31 Mar 2026, 12:44

Harimau Huru dan Hara, Dua Nyawa yang Melayang di Tengah Ketidakpastian Bandung Zoo

Kematian dua anak harimau di Bandung Zoo mengungkap rapuhnya pengelolaan di tengah konflik berkepanjangan. Di baliknya, muncul pertanyaan besar tentang keselamatan satwa dan masa depan konservasi.

Huru dan Hara mati akibat terinfeksi virus feline panleukopenia. Hara lebih dulu mati pada 24 Maret 2026, disusul Huru pada 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 11:26

Melanjutkan Lebaranomics, Membuka Pintu Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

Lebaranomics telah memompa pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2026 di angka 5,4–5,5 persen

Ilustrasi kegiatan masyarakat pesisir (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arditya Pramono)
Ayo Netizen 31 Mar 2026, 10:01

Mars Renced Bergema di Lapas Majalengka

D'Renced adalah band yang secara terbuka melalui karyanya akan terus membawa ide, kritik dan gagasan yang berkelanjutan

 (Foto: TIM Media Lapas Kelas II B Majengka)
Beranda 31 Mar 2026, 09:18

Tergusur Kemajuan Teknologi, Loper Koran di Ambang Kepunahan

Penurunan pembeli yang drastis membuat mereka bertahan di batas, menjalani hari sambil menunggu nasib profesi ini yang perlahan mendekati kepunahan.

Loper koran tetap berjalan menyusuri antrean kendaraan, meski kini orang terbiasa mencari informasi lewat ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)