Bandung, di setiap akhir pekan, tampak seperti satu kota yang sepakat untuk pergi ke kafe. Dari kawasan Dago hingga Setiabudhi, dari gang-gang Cipaganti hingga ruko-ruko di Pasir Kaliki, di mana-mana ada kursi rotan, meja kayu industrial, dan orang-orang dengan laptop terbuka yang sepertinya sangat sibuk, atau sangat ingin terlihat sibuk.
Bukan Sekadar Kota yang memiliki banyak Kafe tetapi, kota ini telah menjadikan nongkrong di kafe sebagai salah satu bahasa identitasnya. Namun, di balik riuhnya budaya nongkrong itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: apakah semua ini benar-benar tentang menikmati waktu, atau justru tentang menghindari sesuatu yang lebih bermakna?
Dalam perspektif psikoanalisis Sigmund Freud, perilaku manusia memnang tidak pernah benar-benar netral. Apa yang tampak sebagai pilihan sadar sering kali merupakan hasil dari dorongan bawah sadar yang berusaha mencari jalan keluar.
Nongkrong, dalam konteks ini, bisa dibaca bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi sebagai bentuk sebuah sublimasi proses ketika hasrat, kecemasan, atau tekanan batin dialihkan ke aktivitas yang lebih dapat diterima secara sosial. Bandung, dengan identitasnya sebagai kota kreatif, menyediakan ruang yang ideal untuk sublimasi tersebut. Kafe bukan hanya tempat minum kopi, tetapi juga ruang aman untuk menunda kecemasan: tentang masa depan, pekerjaan, relasi, hingga ekspektasi sosial yang terus menekan.

Fenomena ini semakin terlihat dalam budaya “healing” dan “self-reward” yang marak di kalangan anak muda. Nongkrong sering dibungkus sebagai bentuk self-care, padahal bisa jadi itu adalah mekanisme pertahanan diri dari realitas yang tidak nyaman. Dalam logika ini, kota tidak hanya menjadi ruang fisik, tetapi juga menjadi sebuah “mimpi sosial” tempat di mana individu bisa melarikan diri sejenak dari konflik antara keinginan pribadi (id), tuntutan realitas (ego), dan norma sosial (superego).
Masalahnya, ketika pelarian ini menjadi kebiasaan, ia berhenti menjadi solusi dan berubah menjadi siklus. Nongkrong tidak lagi sekadar jeda, tetapi menjadi cara untuk terus menunda konfrontasi dengan diri sendiri. Kota yang awalnya menawarkan ruang ekspresi justru berpotensi menjadi ruang repetisi mengulang pola yang sama tanpa benar-benar menyelesaikan apa pun.
Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan lagi seberapa sering kita nongkrong, tetapi apa yang sebenarnya kita cari di sana. Karena bisa jadi, yang kita kejar bukan kopi, bukan suasana, bahkan bukan teman melainkan ketenangan yang belum sempat kita temui dalam diri sendiri. (*)