Ayo Netizen

Strategi Industri Kuliner Jabar Menyiasati Kelangkaan Plastik Akibat Konflik Iran–Israel

Oleh: Aisyah Sukata Kamis 16 Apr 2026, 12:16 WIB
Ilustrasi bahan plastik. (Sumber: Pixels | Foto: Castorly Stock)

Konflik Iran–Israel yang kian memanas pada awal 2026 tidak hanya bergema di Timur Tengah, tetapi juga sampai ke kios makanan di pinggir jalan dan warung kopi di Bandung. Kenaikan harga minyak dunia menggeret naik harga plastik di Indonesia, dan UMKM kuliner di Jawa Barat mulai merasakan kenaikan harga kemasan plastik antara 30–80% dalam beberapa bulan terakhir.

Di Jawa Barat, terutama di Bandung, Bogor, dan Bekasi, kemasan plastik sekali pakai menjadi komponen pokok bagi banyak pelaku usaha kuliner. Ketika harga plastik naik dan tidak lagi murah, biaya bungkus makanan dan minuman ikut membengkak, padahal daya beli konsumen belum bergerak setara. Akibatnya, laba UMKM langsung tergerus dan sebagian pelaku usaha harus menunda rencana perluasan usaha atau aktivitas promosi yang lebih besar.

Situasi ini diperparah dengan ketergantungan industri plastik nasional pada bahan baku impor. Fajar Budiyono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), mengatakan bahwa kenaikan harga minyak dan gangguan logistik akibat konflik geopolitik langsung memukul biaya produksi plastik di Indonesia. Artinya, kenaikan di tingkat hulu (bahan baku) harus ditanggung oleh sektor hilir, khususnya UMKM kuliner dan kemasan di Jawa Barat yang sangat bergantung pada plastik sekali pakai.

Menghadapi tekanan ini, industri kuliner Jabar perlu melakukan perubahan besar. Transformasi ini dapat dimulai melalui dua langkah strategis.

Pertama, inovasi kemasan berbasis bahan lokal.

Daripada hanya menahan kenaikan harga plastik, pelaku UMKM di Jabar mulai melirik bahan kemasan alternatif yang dekat dengan kultur dan ketersediaan bahan: besek bambu, daun pisang, dan kemasan berbasis singkong. Di Bandung dan sekitarnya, beberapa kedai kopi dan rumah makan sudah mengganti kemasan plastik dengan kemasan daun atau kardus ramah lingkungan. Tidak hanya lebih “Jawa Barat”, tapi juga mengurangi ketergantungan pada harga plastik internasional.

(Sumber: Pixels | Foto: Mikhail Nilov)

Tidak hanya swasta, pemerintah pun mulai mendorong pengembangan bioplastik dan kemasan berbasis bahan lokal, khususnya singkong dan rumput laut, sebagai upaya diversifikasi bahan baku dan mengurangi ketergantungan pada minyak mentah impor. Menteri UMKM menyebut bahwa bahan nabati seperti rumput laut dan singkong memiliki potensi menjadi alternatif plastik sekaligus membuka ruang industri hijau berbasis bahan baku lokal.

Kedua, jualan “green story” kepada konsumen Jabar.

(Sumber: Pixels | Foto: Artem Podrez)

Pergeseran dari plastik ke bahan kemasan lokal bukan sekadar soal harga atau estetika. Manajemen UMKM kuliner bisa mengubah krisis plastik menjadi peluang pemasaran:

· Menyertakan kemasan daun pisang atau besek bambu sebagai bagian dari identitas budaya Jawa Barat.

· Menjelaskan kepada pembeli bahwa penggunaan kemasan ramah lingkungan adalah bagian dari komitmen terhadap lingkungan dan ketahanan bisnis di tengah krisis global.

Dengan cara ini, krisis kemasan tidak lagi dilihat sebagai beban, melainkan sebagai alasan bagus untuk memperkuat branding lokal dan keberlanjutan.

Konflik Iran–Israel mengingatkan bahwa bisnis lokal sangat rentan terhadap gejolak geopolitik. Namun, di Jawa Barat, krisis plastik justru bisa dijadikan peluang untuk memperkuat rantai nilai operasional dan mengembalikan kuliner Jabar pada karakter yang alami dan kreatif. Dengan beralih ke bahan kemasan lokal, mengurangi ketergantungan pada plastik impor, dan menguatkan narasi “green”, UMKM kuliner Jabar tidak hanya menjaga keuntungan, tetapi juga membangun keunggulan kompetitif yang lebih berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.

Sudah saatnya kuliner khas Jabar menunjukkan: krisis kemasan bisa jadi katalis bagi bisnis yang lebih lokal, lebih hijau, dan lebih tangguh. (*)

Reporter Aisyah Sukata
Editor Aris Abdulsalam