Di balik aroma rempah yang menguar dari dapur-dapur tradisional, tersimpan sebuah narasi besar yang seringkali luput dari catatan sejarah. Dalam lanskap kebudayaan Indonesia, kuliner kerap kali hanya dipandang sebagai komoditas rasa, bukan sebagai artefak budaya yang menyimpan strategi ketahanan pangan dan memori kolektif.
Namun bagi Dr. Riadi Darwis, setiap suapan merupakan gerbang menuju kemegahan masa lalu. Ia hadir bukan sekadar sebagai penikmat, melainkan sebagai seorang arkeolog rasa yang memulihkan kembali kekayaan kuliner yang nyaris terlupakan dari naskah-naskah kuno yang mulai berdebu.
Jika kita menimbang posisi Dr. Riadi Darwis dalam konstelasi tokoh kuliner Nusantara, terlihat sebuah spesialisasi yang tajam dan esensial. Jika mendiang Bondan Winarno adalah jurnalis yang piawai memetakan diplomasi rasa melalui narasi blusukan (wisata kuliner), dan Prof. Murdijati Gardjito adalah begawan yang memetakan gastronomi Indonesia secara makro-akademis, maka Dr. Riadi Darwis adalah sang Filolog Gastronomi.
Kontribusi uniknya terletak pada keberanian untuk menyigi manuskrip dan prasasti kuno, lalu membangkitkan kosa kata dan teknik kuliner yang telah mati menjadi realitas yang bisa dicicipi kembali. Ia melakukan "resurrectio" atau kebangkitan kembali identitas Sunda melalui disiplin ilmu yang sangat spesifik.
Dedikasi yang tak tergoyahkan ini bukanlah hasil dari permenungan akademis yang mendadak, melainkan buah dari perjalanan sunyi yang berakar jauh di dapur masa kecilnya di Garut.
Dari Dapur Garut ke Riset Senyap
Lahir di Garut pada 24 Januari 1966, darah kuliner Dr. Riadi Darwis mengalir dari ekosistem rumah makan milik kakek dan neneknya. Di sanalah, indra perasanya terasah bukan melalui teori, melainkan melalui sentuhan langsung dengan bahan-bahan alam. Ia terlibat penuh—dari memilah bahan, menghaluskan bumbu, hingga memahami bagaimana api bekerja di atas tungku.
Sambil mengenang masa kecilnya yang dipenuhi aroma bumbu tradisional, ia mengungkapkan bahwa ketertarikannya menggeluti dunia gastronomi kemungkinan besar berawal dari kedekatannya dengan dunia masakan sejak dini.
Pengalaman praktis ini menjadi pondasi bagi apa yang kemudian ia sebut sebagai “riset senyap”. Selama 35 tahun, Dr. Riadi Darwis melakukan perjalanan dan riset mandiri yang tidak banyak diketahui publik.
Sambil menyalurkan hobi bepergiannya, ia secara konsisten mencatat setiap jenis makanan, teknik mengolah, hingga istilah-istilah lokal yang ia temui. Kredibilitas risetnya tidak hanya dibangun di atas tumpukan buku, tetapi diuji melalui observasi lapangan yang tekun dan personal. Kematangan dari riset mandiri ini kemudian menemukan panggung profesionalnya ketika ia melangkah ke selasar akademis di Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung.
Membawa Kuliner Tradisional ke Ruang Kelas
Sebagai pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di lingkungan vokasi pariwisata, Dr. Riadi Darwis merasakan adanya ketimpangan identitas yang nyata. Di koridor kampus yang seringkali lebih riuh dengan teknik memasak ala Eropa atau tren kuliner Asia Timur, suara kearifan lokal Sunda justru terdengar sayup. Mereka lebih fasih dengan terminologi asing daripada memahami kekayaan hayati yang tumbuh di halaman rumah mereka sendiri.
Keresahan inilah yang memicu urgensi untuk mengangkat kuliner tradisional Sunda ke tataran ilmiah. Dr. Riadi Darwis menyadari bahwa tanpa landasan riset yang kuat, makanan lokal akan selamanya dianggap inferior.
Ia pun mulai melakukan dekonstruksi terhadap dominasi cita rasa global di kampus dengan menyodorkan bukti-bukti kebesaran kuliner Sunda melalui naskah Sunda kuno. Baginya, gastronomi tradisional adalah ilmu pengetahuan yang luhur dan memiliki struktur yang kompleks, yang jika dipelajari secara utuh, mampu memberikan harga diri bagi bangsa di mata dunia.
Hasil dari pengembaraan intelektual Dr. Riadi Darwis termanifestasi dalam rangkaian buku serial gastronomi tradisional Sunda yang boleh dibilanng merupakan "ensiklopedia sejarah rasa”. Buku-bukunya mengajak pembaca menembus lorong waktu, menyigi kosa kata yang terukir dalam prasasti klasik.
Berikut adalah rincian dari tiga buku Serial Gastronomi Tradisional Sunda karya Dr. Riadi Darwis:
Judul Buku | Tahun Terbit | Jumlah Halaman | Fokus Riset Utama |
Khazanah Kuliner Keraton Kesultanan Cirebon | 2019 | 554 | Dokumentasi kuliner etnik dan tradisi keraton berbasis manuskrip kuno. |
Khazanah Kuliner Kabuyutan Galuh Klasik | 2020 | 656 | Eksplorasi kuliner masa klasik dengan fokus wilayah Galuh. |
Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték (Jilid 1 & 2) | 2022 | 1.070 | Data komprehensif mengenai vegetasi lalab, rujak, sambal, dan tékték dalam prasasti. |
Buku-buku tebal ini bukan sekadar kumpulan resep, melainkan rujukan primer yang membuktikan bahwa leluhur Sunda telah memiliki tradisi literasi kuliner yang sangat baik sejak abad ke-9 dan ke-10 Masehi. Dr. Riadi Darwis berhasil memindahkan data dari relief dan naskah kuno ke dalam literatur modern yang relevan bagi industri pariwisata masa kini.
Kekuatan utama dari karya Dr. Riadi Darwis terletak pada kuantifikasi data yang mencengangkan. Dr. Riadi Darwis berhasil memetakan biodiversitas Tatar Sunda yang kemudian didistilasi menjadi temuan-temuan empiris:
· 718 Jenis Tanaman Lalab. Sebuah database yang membuktikan pengetahuan botani masyarakat Sunda yang sangat luas.
· 368 Jenis Rujak dan 54 Varian Rujak-rujakan. Menggambarkan kompleksitas pengolahan buah dan sayur.
· 98 Jenis Sambal. Menunjukkan evolusi rasa yang dinamis dan tak terhingga.
· Khazanah Tékték. Mendokumentasikan tradisi kuliner spesifik yang seringkali terlupakan dalam narasi besar kuliner nasional.
Temuan ini memiliki implikasi besar bagi ekonomi kreatif. 718 jenis tanaman lalab tersebut dapat menjadi inspirasi tak terbatas bagi corak batik baru atau basis pengembangan wisata gastronomi sejarah. Di sisi lain, data ini merupakan modal vital bagi ketahanan pangan nasional. Dr. Riadi Darwis menunjukkan bahwa biodiversitas lokal Jawa Barat dan Banten adalah benteng pertahanan pangan yang membuat masyarakat tidak akan pernah kekurangan jika dikelola dengan bijak.
Anugerah Kebudayaan 2025
Konsistensi Dr. Riadi Darwis dalam menjaga marwah kuliner Sunda akhirnya membuahkan pengakuan. Pada tahun 2025, Pemerintah Kota Bandung menganugerahkan Anugerah Kebudayaan Kota Bandung dalam kategori Pelestari kepadanya. Penghargaan yang diserahkan langsung oleh Walikota Bandung, M. Farhan, ini menjadi simbol penghormatan atas dedikasi tanpa henti seorang akademisi yang berjuang di jalur literasi kuliner.
Penghargaan ini memicu semangat baru bagi generasi muda dan pengusaha kuliner untuk mengadopsi resep-resep tradisional dalam bisnis mereka. Dr. Riadi memandang ini sebagai awal dari edukasi gastronomi yang lebih luas. Namun, tugasnya belum usai; masih ada 21 kota dan kabupaten di wilayah Jawa Barat dan Banten yang menanti untuk diriset secara mendalam agar mozaik gastronomi Sunda menjadi utuh.

Boleh dikata, Dr. Riadi Darwis adalah sosok "Sang Gastronom dari Tatar Sunda" yang telah berhasil menjembatani masa lalu yang niskala dengan realitas masa kini melalui pena dan ketekunan riset. Ia mengingatkan kita bahwa di dalam sehelai daun lalab atau sesendok sambal, terdapat sejarah panjang peradaban yang harus dijaga martabatnya.
Warisan yang ditinggalkan oleh Dr. Riadi adalah sebuah pesan bagi kita semua bahwa mencintai tanah air dapat dimulai dari meja makan. Sebagaimana filosofi yang selalu ia gaungkan: "Memahami gastronomi itu sama artinya dengan melestarikan budaya untuk generasi mendatang." Melalui rasa, marwah Tatar Sunda akan tetap abadi, melintasi zaman dan terus menghidupi jiwa generasi-generasi yang akan datang. (*)