Ayo Netizen

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Oleh: Malia Nur Alifa Selasa 05 Mei 2026, 16:28 WIB
Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)

AYOBANDUNG.ID – Sore itu, Minggu, 19 Juni 1994 adalah tanggal yang mungkin menjadi trauma pertamaku. Saat aku melihat kepulan asap tebal membumbung tinggi dari belakang rumah. Sore itu seperti sore biasanya, namun ketika saya baru saja selesai mandi sore sekitar pukul 4 sore, sebuah ledakan yang memekakan telinga terdengar sangat jelas.

Sebuah kompor minyak milik keluarga tetangga kami yang saat itu tengah berjualan soto meledak, dan api cepat sekali menjalar ke halaman belakang rumah. Kami sekeluarga panik, dan kami hanya membawa apa yang kami pakai saja, tak satu pun barang berharga terbawa. Saya, ibu dan adik dimasukkan oleh ayah ke dalam mobil kami dan bergegas menuju Jalan Suniaraja untuk dievakuasi.

Sedangkan saya tidak bisa menemukan kakek saya pada saat itu, ternyata kakek bersama kakaknya sedang berusaha menyelamatkan barang-barang peninggalan leluhur semampu mereka, dan terlihat ada beberapa pusaka keluarga yang terselamatkan, yang pada hari ini (5 Mei 2026) barang-barang pusaka keluarga besar itu berada di rumah saya. Entah apa jadinya apabila kakek dan kakaknya tidak nekat menerobos api yang telah menjalar ke rumah tua kami yang dibangun tahun 1880.

Rumah itu sangat istimewa, berbentuk panggung, dengan kayu-kayu jati dan bilik. Di sisi kanan dan kiri terdapat jendela dengan kaca-kaca patri yang indah khas rumah kalang. Apabila kita memasuki ruang tamu kita akan melihat sepasang kepala rusa di sisi kanan dan kiri rumah. Lalu tepat di tengahnya terdapat lukisan eyang sepuh kami H. Moch Ali.

Ia adalah wong kalang yang pernah membuka rumah gadai di Tegal Gendu pada tahun 1860-an. Tepat di bawah lukisan besar itu (ukuran 1 x 1 meter) terdapat kursi goyang jati dengan ukiran khas Jepara yang didapat dari kolega keluarga Pasar Baru Bandung yang berasal dari Lasem. Dan, saya menaruh boneka beruang besar saya di kursi goyang itu, dan saya beri nama boneka itu dengan nama “cici”.

Begitu rindunya saya pada suasana rumah tempat saya lahir dan dibesarkan di Gang Apandi, Braga. Namun pada sore itu semuanya harus dilalap api, dan kami pun memulai hidup baru kami di sebuah tempat yang selalu berkabut di utara Bandung yaitu Lembang.

Sebetulnya sempat ada beberapa opsi dari keluarga besar, antara membangun kembali rumah di Gang Apandi, atau pindah kembali ke Tegal Gendu, atau Cirebon, bahkan ke Sumedang, di mana keluarga almarhum ayah saya tinggal. Namun, entah mengapa pilihan jatuh pada Lembang, sebuah surga kecil yang membangunkan kembali saya dari pasca trauma kebakaran besar di Gang Apandi yang ternyata melahap hingga 2 RT di kawasan itu.

Sebetulnya saya sering ke Lembang, karena sejak 1981, almarhum ibu bekerja di Balai penelitian tanaman dan sayuran di Cikole, dan saya sering diajak ibu bekerja. Namun, kali ini lain, kami sekeluarga harus memulai hidup baru kami menjadi warga Lembang.

Saat itu saya masih bersekolah di SDN Merdeka 5 Bandung (kelas 4), hingga setiap harinya saya diantar ayah yang juga bekerja di sebuah kantor biro arsitek di Jalan Naripan. Rumah pertama kami di Lembang adalah di kawasan Gang Denser 2 (tidak jauh dari alun-alun Lembang). Saat itu Lembang masih sangat sepi, yang saya masih bisa ingat adalah apabila saya berkendara ke Sekolah yang berada di Jalan Merdeka, Kota Bandung, dari Lembang hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit saja, sebuah keadaan yang mustahil terjadi hari ini.

Rumah kedua kami di Lembang letaknya agak sedikit ke arah timur, yaitu di kawasan komplek militer (BTN Pusdik Ajen) tepatnya Jalan Dharma No 10 (sekarang menjadi pabrik kuliner terkenal di Lembang), dan saya masih sangat ingat ibu memasangkan gorden bermotif wayang (Dropadi), yang didapat dari Yogyakarta, karena kakak ibu memiliki toko suvenir di sana, dan mengirimi kami gorden indah tersebut (hadiah pindah rumah).

Barulah pada tahun 1997, kami menempati rumah terakhir kami di Lembang yang khusus didesain oleh ayah (karena ayah seorang arsitek). Rumah kami ini berada di kaki Gunung Putri, menghadap ke area patahan Lembang sektor timur, hingga pemandangan dari loteng begitu indahnya.

Lembang mewarnai kembali hari-hari masa kecil saya, yang biasanya dihabiskan di kawasan padat pusat Kota Bandung, dan harus pindah ke kawasan sepi yang selalu dibalut kabut tebal. Hari-hari kami berubah, kebiasaan kami pun berubah. Lembang membentuk saya dan saya merasa bahwa Lembang adalah rumah baru yang sangat nyaman.

Itu adalah sepenggal deskripsi saya tentang Lembang yang berlatarkan kisah pribadi saya, namun sekarang kondisinya kian memprihatinkan. Awal kepindahan saya ke Lembang di 1994, setiap minggu pagi saya dan adik diajak kakek melihat indahnya Situ Umar, melihat para warga yang lalu lalang menuju ladang, melihat para peternak mengantarkan susu hasil perahan mereka untuk disetorkan ke mobil pengepul koperasi susu. Bahkan kabut baru benar-benar hilang dari pandangan kami itu pukul 9 pagi. Sepanjang mata memandang hanyalah aktivitas pedesaan yang membuat hati tenang, tak salah para warga Eropa dahulu sering sekali titirah di kawasan Grand Hotel Lembang, memang setenang itulah Lembang.

Terkadang saya dan adik suka berkuda hingga menuju kawasan peternakan Baru Ajak, melihat aktivitas peternakan yang damai, yang terdengar hanyalah suara sapi-sapi yang saling bersautan. Kulinernya pun saat itu hanya jagung bakar dan ketan bakar yang sederhana dijual di pinggir-pinggir jalan menuju ke Tangkuban Parahu (hanya beberapa kios saja). Namun dengan keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Beberapa tulisan saya untuk bulan Mei ini akan saya kupas tentang Lembang dulu dan sekarang, yang berdasarkan pengalaman pribadi saya dan beberapa riset sejarah Lembang yang saya lakukan sejak 2009. Hingga akan terbayang betapa ruwetnya Lembang hari ini. Lembang tumbuh pesat meninggalkan jati dirinya terlalu jauh, hingga mungkin tulisan-tulisan saya di bulan ini akan membawa para pembaca ke dimensi Lembang masa kanak-kanak dan remaja saya, di mana kesederhanaan masih menjadi ciri khas Lembang.

Semoga bermanfaat. (*)

TAGS:
Reporter Malia Nur Alifa
Editor Aris Abdulsalam