Pagi yang cerah itu, selesai upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bertajuk “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” di Taman Kujang, depan Aula Anwar Musaddad, Sabtu (2/5/2026).
Suasana belum benar-benar bubar. Ada yang asyik mengabadikan foto, bersefie dan masih banyak yang bergerombol, bergabung per fakultas pada momentum penghargaan bergengsi.
Langit masih menyisakan khidmat dan langkah kaki perlahan kembali ke rutinitas. Seorang kawan mendekat, setengah berbisik, sambil menggugat, “Emang setiap upacara pembinaan formatnya harus begitu ya? Nggak ada yang lain? Biar nggak terasa datar.”
“Muhun,” jawabku singkat.
Memang bukan tanpa alasan, setiap peringatan apapun selalu dilakukan upacara seremonial, ucapan selamat yang dipasang pada spanduk (baligo), membuat player yang disebabkan pada media sosial, WhatsApp grup.
Padahal, berbagai kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak akan terlaksana tanpa tiga M: Mindset (pola pikir) yang maju, Mental yang kuat, dan Misi yang lurus. Tanpa ketiganya, semua kebijakan itu hanya akan berhenti sebagai program dan formalitas yang sekadar ditandai dengan capaian angka-angka kuantitatif.

Martabat Manusia, Cerdaskan Kehidupan
Dalam amanatnya, Rektor UIN Bandung Rosihon Anwar yang membacakan naskah pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan Hardiknas bukan sekadar seremoni tahunan. Melainkan bentuk penghormatan pada perjuangan Ki Hadjar Dewantara, pelopor pendidikan nasional yang meletakkan fondasi jauh melampaui zamannya.
Peringatan Hardiknas menjadi momentum yang tepat untuk kita melakukan refleksi, meneguhkan, dan menghidupkan spirit pendidikan nasional. Pada hakikatnya pendidikan adalah proses yang dilaksanakan secara tulus, penuh kasih dan sayang untuk memanusiakan manusia.
Pendidikan merupakan proses menemukan dan menumbuhkembangkan fitrah, kodrat alamiah manusia, potensi sebagai makhluk Tuhan yang mulia. Inti proses pendidikan adalah memuliakan.
Ingat, Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, meletakkan dasar dan nilai pendidikan dengan sistem among; asah (ilmu), asih (kasih sayang), dan asuh (pendampingan, pembinaan).
Sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar 1945 dan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan pada hakikatnya proses mencerdaskan kehidupan, membangun watak dan peradaban bangsa.
Pendidikan itu proses menumbuhkembangkan potensi manusia, sehingga menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, terampil, mandiri, sehat jasmani dan rohani, jujur, bertanggung jawab, demokratis, dan kepribadian utama lainnya.
Sejatinya Hardiknas menjadi cerminan bersama dan tempat kita merenung, sudah sejauh mana pendidikan benar-benar memanusiakan manusia?

Membaca Angka, Menguatkan Partisipasi Semesta
Data statistik pendidikan, seperti Angka Partisipasi Sekolah dan Rata-Rata Lama Sekolah menjadi potret nyata sejauh mana akses dan kualitas pendidikan telah menyentuh setiap anak bangsa.
Betapa tidak, partisipasi sekolah umur 7-12 tahun sangat tinggi. Bila sebagian besar penduduk umur 7-12 tahun sudah bersekolah, maka seiring bertambah umur, justru partisipasinya menurun. Ini menunjukkan tantangan sekarang bukan hanya memasukkan anak ke sekolah, tetapi memastikan mereka untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Dengan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) telah melampaui RPJMN (9,41 tahun), sudah melewati target nasional. Meskipun menunjukkan peningkatan, tapi secara rata-rata penduduk Indonesia umur 15 tahun ke atas baru mengenyam pendidikan, hingga kelas 9 SMP.
Uniknya, 7 dari 100 peserta didik Indonesia menjalani peran ganda: belajar sekaligus bekerja. Semua ini menunjukkan semangat juang yang besar dan mengingatkan bahwa sebagian peserta didik masih menghadapi tantangan ekonomi rumah tangga.
Setiap angka pendidikan adalah cerita perjuangan. Di balik setiap angka statistik, terdapat anak anak, keluarga, dan pendidik yang terus berjuang menciptakan masa depan yang lebih baik. Mari terus berkolaborasi untuk saling menguatkan partisipasi semesta dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua dan tanpa sekat. (Sensus Ekonomi 2026, bps.go.id)
Pada tahun 2025, Angka Partisipasi Sekolah (APS) di Jawa Barat menunjukkan capaian yang tinggi di usia dasar, sekitar 99,5% untuk usia 7–12 tahun, dan 96,5% pada usia 13–15 tahun. Namun, saat memasuki usia 16–18 tahun, angka itu malah mulai menurun signifikan. (jabar.bps.go.id)

Hakikat Pendidikan, Bangun SDM Unggul
Ya hampir semua anak masuk sekolah dasar dan menengah pertama, tetapi tidak semuanya bertahan, hingga jenjang menengah atas. Dari deretan angka-angka ini memunculkan pertanyaan pentingnya pendidikan menjadi nyata dan bukan sekadar normatif.
Pada hakikatnya, pendidikan bukan sekadar soal akses masuk sekolah. Justru proses yang dijalankan dengan ketulusan, asah yang mencerdaskan, asih yang menghangatkan, dan asuh yang menuntun.
Pendidikan menjadi ruang kerja peradaban untuk menumbuhkan fitrah manusia. Bukan hanya membuatnya tahu, tetapi menjadikannya utuh. Ki Hadjar Dewantara telah lama merumuskan itu dalam sistem among (asah, asih, dan asuh). Ketiga kata sederhana ini harus menjadi fondasi peradaban manusia.
Amanat konstitusi menegaskan pendidikan merupakan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang membangun watak, karakter warga. Pendidikan tidak boleh berhenti pada angka partisipasi, tetapi harus menjelma menjadi kualitas kehadiran yang membumi. Manusia yang beriman, berakhlak, cerdas, mandiri, dan bertanggung jawab. Bukan sekadar hadir di kelas, melainkan tumbuh sebur dalam makna.
Dalam kerangka yang lebih luas, arah itu kini dihubungkan dengan visi besar nasional melalui Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Pendidikan diposisikan sebagai jalan strategis membangun sumber daya manusia yang unggul, kuat, dan bermartabat.
Salah satu ikhtiar yang didorong dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang menggeser pendidikan dari hafalan menuju pemahaman, dari rutinitas menuju kesadaran. (Pidato Hardiknas, 2 Mei 2026)

Bukan Sekadar Rutinitas Tahunan
Walhasil, perubahan dalam pendidikan tidak melulu berawal dari kebijakan besar, justru harus tumbuh dan berkembang dari ruang kelas sederhana, sapaan guru yang hangat, perasaan dihargai yang dirasakan murid, cara meraih ilmu yang dihadirkan sebagai pengalaman hidup, bukan sekadar materi yang disampaikan dan dibacakan (dikte).
Pertanyaan kawan tadi bukan tanpa dasar. Tentunya, yang perlu dibenahi bukan hanya bentuk upacara, lebih dari bagaimana cara kita memahami dan memaknai pendidikan itu sendiri.

Pasalnya, kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan sejatinya dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, tetapi diperlakukan sebagai manusia seutuhnya.
Dengan demikian, jangan biarkan Hari Pendidikan Nasional berhenti sebagai rutinitas tahunan. Pendidikan tidak cukup dirayakan melalui spanduk, baligo, dibagikan ucapan selamat via medsos dan seremoni semata. Justru perlu dihidupkan melalui perhatian yang sungguh-sungguh, kebijakan yang berpihak, dan langkah nyata.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga pendidikan di negeri ini tidak hanya semarak diperingati, tetapi benar-benar diperjuangkan dengan sepenuh hati. (*)