Ayo Netizen

Kesabaran Pedagang Pasar Baleendah dan ‘Lautan Sampah’ yang Tiada Akhir

Oleh: Dudung Ridwan Jumat 08 Mei 2026, 12:34 WIB
Tumpukan sampah di kawasan Jalan Siliwangi, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 5 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)

DI TENGAH lautan sampah”—sekitar 400 ton—yang membusuk dan menimbulkan bau menusuk, di Pasar Baleendah, Kabupaten Bandung, terpampang spanduk kuning bertuliskan warna merah “Jangan Membuang Sampah di Sini”—sebuah pesan larangan yang terasa satire dan entah siapa pembuatnya. 

Membaca tulisan dalam spanduk itu, Sekda Jabar, Herman Suryatman, hanya tersenyum lebar. Dengan menahan bau, ia pun berkeliling ke sekitar pasar dan berdialog dengan pedagang serta pengunjung pasar sebelum memimpin aksi bersih-bersih. Aksi bersih-bersih ini dilakukan karena ia menyoroti buruknya pengelolaan sampah di pasar tradisional tersebut, padahal sejumlah pedagang mengaku membayar iuran kebersihan Rp2.000 per hari.

Persoalan “lautan sampah” yang menimbulkan bau tak sedap ini bukan persoalan Pasar Baleendah saja. Di awal-awal kepemimpinan Kang Dedi Mulyadi (KDM) sebagai Gubernur Jabar, masalah ini adalah masalah—masih belum tuntas—di Pasar Induk Gedebage dan di Pasar Caringin, mungkin juga masalah di pasar-pasar yang lain. Bahkan, di dua pasar induk tersebut KDM harus turun langsung memberi solusi permasalahan sampah yang tampaknya tiada akhir ini. 

Urusan “lautan sampah” di Pasar Baleendah sebenarnya bukan persoalan baru, tetapi merupakan “PR” wajib dari bupati ke bupati Kabupaten Bandung. Saya masih ingat Bupati Dadang Supriatna—ketika masih menjadi anggota dewan Kab. Bandung—pernah turun langsung ke “gunungan sampah” di pasar ini dan melakukan pembakaran sampah di tempat secara langsung. 

Kini, KDM dan Bupati Kabupaten Bandung tidak terjun langsung ke TKP. KDM Bapak Aing menugaskan Sekda Jabar, Herman Suryatman, dan Pak Bupati Bandung, diwakili Pak Sekda Kabupaten Bandung. Juga didampingi kadis, camat, dan pengelola pasar setempat. 

Sampah di Pasar Baleendah bukan sekadar tumpukan, bukan timbunan, tetapi ini mah “lautan sampah”. Sampah hampir menutupi jalan. Dari dalamnya tampak keluar belatung-belatung yang menjijikan. Drainase tidak berjalan dengan semestinya karena tertutup sampah. Bau menusuk hidung. Akibatnya terjadilah banjir ke kios-kios, jalan becek, yang pada akhirnya aktivitas perekonomian di pasar itu terganggu.

“Apakah sampah sayur-mayur seperti ini suka ada petugas yang ngambil? Sampahnya dikemanakan?” tanya Herman ke pedagang sayur.

“Ada petugas yang ngambil. Tetapi hanya disimpan di sudut, diantepkeun we,” jawab seorang pedagang.

Dadang Anwar, seorang pedagang baju, mengatakan, ia merasa terganggu dengan adanya “lautan sampah” itu. Ia merasa sudah tidak betah lagi berjualan di pasar ini. Tapi, ia tidak tahu harus ke mana? 

Sejumlah bocah menaiki perahu saat banjir di Baleendah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)

“Sampah yang menggunung ini sangat bau. Pasar ini kotor dan becek. Enggak ada yang ambil sampah ke sini. Selokan air tidak berfungsi. Jadinya air banjir hingga ke sini. Yang belanja juga kadang banyak yang pulang lagi. Pasar ini kayak nggak ada yang ngurus. Sampah di mana-mana. Bagaimana ya agar ada perhatian dari pemerintah?” kata Dadang.

“Kondisi ini harus kita biarkan terus? Kita bisa tenggelam di lautan sampah? Ayo, mari kita bereskan. Ini PR kita semua yang enggak bisa hanya mengandalkan pemerintah,” kata Sekda.

Sekda mengajak semua pihak--warga pasar, warga masyarakat—mari  mulai mengelola sampah sejak dari rumah tangga, sejak dari warung, sejak dari hulu. Kurangi sampah, manfaatkan sampah, daur ulang sampah. 

Ia meminta ada pengolahan yang mandiri di pasar ini. Ia juga meminta ke pak camat agar warga sekitar RT, RW, lurah bahu-membahu menyelesaikan sampah di lingkungannya masing-masing.

Warga sekitar, jangan membuang sampah ke pasar. TPS pasar hanya untuk sampah pasar yang dikelola secara mandiri oleh pengelola pasar. Bukan tidak mungkin Bandung Raya akan jadi “lautan sampah” lagi kalau tidak ada kesadaran masyarakat.

Lalu, sebanyak 350-400 ton “lautan sampah” di Pasar Baleendah itu dibersihkan tim gabungan dengan mengerahkan alat berat dan truk tronton. Sampah-sampah itu diangkut secara darurat ke TPA Sarimukti di ujung April hingga awal Mei 2026. 

Sekda berpesan, setelah ini, bukan berarti permasalahan sampah ini selesai. Masyarakat harus bisa secara mandiri mengelola sampah. Tidak bisa dibantu terus karena TPA Sarimukti juga sudah penuh.  (*)

Reporter Dudung Ridwan
Editor Aris Abdulsalam