Selamat untuk Persib Bandung atas kemenangannya tiga kali berturut-turut. Ada peribahasa mengatakan “ Kita tidak pernah tahu kapan kita sedang membuat sebuah kenangan”, mungkin inilah yang sedang dialami tim dan semua pecinta Persib Bandung.
Di Lembang ada beberapa pemain legendaris Persib Bandung, seperti Robby Darwis, Roy Darwis dan Tantan. Mereka adalah para pemain yang ikut menorehkan sejarah hebat pada Persib Bandung, namun, tahukah para pembaca semua bahwa mereka lahir dari sebuah lapangan sederhana di utara Pasar Panorama Lembang.
Lapangan sederhana itu bernama lapangan Gunung Sari. Di era 1990-an dan 2000-an, lapangan Gunung Sari ini tidak pernah sepi dari turnamen. Bahkan di lapangan ini juga diadakan upacara 17 Agustus yang dihadiri oleh pemerintah Kecamatan Lembang dan para perwakilan siswa sekolah di Lembang.
Namun, lapangan Gunung Sari kini telah tiada, oleh para pengembang kapitalis lapangan yang sarat akan sejarah ini diubah menjadi jajaran ruko-ruko, namun bagian belakangan ruko-ruko tersebut masih menjadi lahan kosong tak terjamah, semakin hari semakin kumuh tak terurus. Ilalang di mana-mana, bahkan diwarnai dengan tumpukan sampah.
Untuk generasi muda Lembang atau para pendatang dan pelancong, mereka tidak akan menyadari bahwa dahulu lahan tersebut adalah sebuah lapangan sederhana tempat berbagai turnamen di Kecamatan ini dilangsungkan, bahkan melahirkan 3 nama besar di Persib Bandung.
Mari kita mundur ke masa kolonial Belanda, lapangan Gunung Sari adalah sebuah lahan kosong pada awalnya yang dikelilingi oleh pemakaman umum pribumi tertua di Lembang yang bernama Pemakaman Tjijeruk. Pemakaman Tjikeruk ini dimulai dari kawasan selatan (sekarang pintu masuk Puskesmas Lembang), kawasan barat (Sendik BRI) hingga di bagian tengahnya yaitu lahan yang menjadi Pasar Panorama Lembang sekarang.
Pemakaman Tjijeruk dipindahkan pada 1972 ke pemakaman Sirna Rasa, Jayagiri, Lembang. dan semua kawasan pemakaman dijadikan pusat ekonomi warga. Yang asalnya pasar dan pusat ekonomi Lembang berada di kawasan pecinan (pasar Lama, kawasan Mandarin hingga sebelum alun-alun Lembang), harus pindah ke bekas area Pemakaman Tjijeruk.
Lalu pada perkembangannya dibuatlah lapangan sepak bola sederhana untuk kepentingan warga yang diberi nama Gunung Sari. Hingga saya mulai merisetnya dengan rasa penasaran, mengapa diberi nama Gunung Sari?
Teka-teki penamaan Gunung Sari saya temukan di saat saya sedang meriset kawasan Taman Junghuhn. Salah seorang juru pelihara Taman Junghuhn yaitu almarhum pak Asep mengatakan bahwa diberi nama Gunung Sari, karena dahulu ada sebuah sekolah yang letaknya tak jauh dari sana, sekolah itu bernama Gunung Sari.
Bermodalkan data tersebut saya terus mencari keberadaan sekolah tersebut hingga pada akhirnya saya mendapatkan salah satu foto keadaan ruangan kelas tempo dulu di Lembang yang menyebutkan bahwa kelas tersebut adalah salah satu kelas di Kweekschool Lembang. Kweekschool adalah sekolah pendidikan guru pada masa penjajahan, sekolah ini didirikan untuk mencetak tenaga pengajar pribumi. Dan biasanya sekolah ini memakai bahasa pengantar bahasa Belanda.
Hingga saya bertemu dengan paman saya yang kebetulan merupakan staf pengajar di Balai Latihan Kerja Lembang, ia pun mengatakan lokasi dari Kweekschool Goenoeng Sarie adalah di lokasi tempatnya bekerja. Saya pun berkeliling ke tempat paman dan oleh beberapa staf lainnya diterangkan dimana lokasi tepatnya Kweekschool Goenoeng Sarie itu berada.
Dahulu sekolah itu terbuat dari bilik bambu dan panggung, namun memiliki ukiran kayu yang cantik ditambah kaca-kaca patri yang indah. Hanya terdapat 4 ruangan saja, yang kemungkinan 3 untuk kelas dan 1 untuk kantor dan ruang guru. Di depannya terdapat tiang besi untuk menaruh sepeda yang katanya dahulu dipakai untuk mengikat kuda-kuda peternakan Baroe Adjak. Sayangnya, saat Jepang datang sekolah ini dibakar habis tak tersisa.
Lalu kemudian saya kembali berselancar di situs-situs Belanda, mempelajari lebih dalam tentang Kweekschool Goenoeng Sarie. Sekolah ini ternyata didirikan oleh perguruan Neutral School, adalah sebuah lembaga perguruan yang netral tidak berafiliasi pada salah satu Gereja. Dan informasi lainnya yang saya dapat bahwa sekolah ini adalah pindahan dari Kweekschool Goenoeng Sahari Batavia yang didirikan pada 1912 dan mulai pindah ke Lembang pada 1920-an.
Sehingga semakin jelas akar dari penamaan Goenoeng Sarie adalah dari nama awal sekolah mereka dulu di Batavia pada 1912 yang bernama Kweekschool Goenoeng Sahari. Dan, kaitannya dengan lapangan sepak bola Gunung Sari adalah dahulu Kweekschool Goenoeng Sarie Lembang memang telah membuka lapangan sederhana yang lumayan jauh dari letak sekolah mereka, mereka memakai lapangan tersebut untuk mata pelajaran olahraga.

Pada tahun 1930-an, terdapat satu rumah bergaya klasik yang dibangun di timur lapangan, konon menurut warga yang saya temui di seputar rumah tua itu mengatakan bahwa, pemilik rumah tua itu adalah salah seorang guru dari Kweekschool Goenoeng Sarie. Ketika saya mencoba mencari siapakah nama guru tersebut, saya mulai mencari buku telepon Bandung tahun 1936 yang dapat diakses online, dan saya menemukan ada nama satu orang yang terafiliasi pada Kweekschool Goenoeng Sarie, ia bernama Directeur Ir. E. De Munck Mortier yang memiliki nomor telepon Lem 14 (penomoran nomor telepon pada masa kolonial biasanya tidak lebih dari 3 angka). Kemungkinan tuan Mortier ini adalah kepala sekolah dari Kweekschool Goenoeng Sarie Lembang dan sang pemilik rumah indah di timur lapangan bola Gunung Sari.
Kini, lapangan sarat sejarah itu tinggal kenangan, padahal jejaknya sangat penting bagi warga Lembang, karena sarat akan kisah pendidikan dan legenda tim kesayangan kita, Persib Bandung. (*)