Apa yang ada di benak pikiran Anda jika membaca atau mendengar kata pajak? Beberapa orang mungkin akan mengeluh dan kesal sembari berkata, "Huh, pajak lagi pajak lagi. Lagi-lagi pajak!"
Pajak dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan dan "musuh" bagi sebagian orang. Tidak heran, beberapa masyarakat menghindari atau menunggak membayar pajak. Orang-orang tersebut sepertinya kurang mendapatkan pendidikan atau informasi mengenai pajak sejak dini. Padahal, pajak banyak bermanfaat bagi anak dan kemajuan suatu bangsa pada sebuah negara. Kok, bisa?
Fasilitas Umum
Semakin baik dan banyak fasilitas umum di suatu negeri dapat menjadi ciri negeri itu maju. Pembangunan fasilitas publik sangat membantu dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan berkendara ke tempat lain pun menjadi lebih mudah dan cepat. Tatkala naik kendaraan bermotor bersama anak, katakan, "Nak, kendaraan ini ada pajaknya, lho. Kita membayar pajak, uangnya untuk membiayai pembangunan dan perbaikan jalan".
Selain itu, jelaskan pula jika bendungan, taman, penerangan jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, dan transportasi publik untuk memperlancar roda, adalah hasil dari uang pajak. Tanamkan juga rasa syukur kepada anak, "Sudah seharusnya kita bersyukur dengan cara memanfaatkan dan menjaga fasilitas umum dengan baik. Tanpa fasilitas, kita dan orang-orang susah untuk pergi ke mana-mana; susah menjalankan kegiatan".
Pendidikan
Salah satu tujuan utama negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Upaya untuk mewujudkannya melalui pendidikan. Pendidikan bukan sekadar pendidikan saja; bukan pendidikan ala kadarnya; bukan pendidikan asal-asalan. Akan tetapi, pendidikan yang berkualitas. Contoh pendidikan berkualitas yaitu adanya pendidikan cinta tanah air (nasionalisme) di lembaga pendidikan. Penyisipan informasi pentingnya pajak juga termasuk pendidikan nasionalisme. Mengapa demikian? Karena, saat kita membayar pajak, kita mengesampingkan ego dalam diri. Lebih mementingkan kepentingan banyak orang tinimbang kepentingan pribadi.
Ketika berada atau melewati sebuah sekolah, orang tua dapat berkata, "Nak, bangunan sekolah dan gaji guru juga merupakan contoh hasil dari pajak yang kita bayar". Sekolah (negeri) yang sekarang, umumnya tidak ada iuran untuk bangunan dan SPP (Sumbangan Pembinaan Pembayaran) bulanan. Ada BOSP (Bantuan Operasional Satuan Pendidikan) dari pemerintah yang bersumber dari uang pajak.
Kesehatan
Mens sana in corpore sano, 'di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat' adalah pepatah yang mungkin tidak asing di telinga, 'kan? Pepatah yang secara tidak langsung menyuruh kita untuk hidup yang lebih baik melalui olahraga dan gaya hidup sehat. Bagaimana bisa menjadi bangsa yang kuat, jika bangsa itu tidak sehat? Beberapa program pemerintah dalam mengimplementasikan bangsa yang sehat (melalui uang pajak) ialah BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) katagori PBI (Penerima Bantuan Iuran) dan MBG (Makan Bergizi Gratis).
Tanyakan kepada anak, "Nak, tahukah kamu MBG yang kamu makan itu berasal dari mana uangnya? Uangnya tentu saja dari uang pajak. Jadi, kamu harus berterima kasih kepada yang bayar pajak". Tidak hanya itu, gedung rumah sakit dan puskesmas, alat-alat, obat-obatan, serta gaji tenaga dan ketenaga kesehatan juga ada dari uang pajak.
Waktu adanya Corona Virus Disease (covid-19) masuk ke Indonesia, tidak sedikit nyawa melayang. Pemerintah tidak tinggal diam, upaya pun dilakukan. Upaya tersebut didukung oleh pembiayaan dari uang pajak untuk membeli beberapa hal seperti pakaian APD (Alat Pelindung Diri), alat-alat medis, vaksin, dan sembako.
Tubuh yang sehat adalah tubuh yang tidak kurang gizi. Program MBG atau lainnya yang di bidang kesehatan akan berdampak positif jika ditangani dengan baik dan sesuai standar. Jika tidak, bukannya membuat sehat justru membuat sakit.
Bantuan Sosial (Bansos)
Sila kelima Pancasila berbunyi: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tanyakan kepada anak, "Apa lambangnya, Nak?" Ya, padi dan kapas. Melambangkan harapan supaya rakyat dapat hidup sejahtera; hidup layak. Supaya tidak menimbulkan kesenjangan sosial yang terlalu jauh dan rasa iri. Maka dari itu, pemerintah mengadakan berbagai program berupa bantuan sosial (bansos). Bansos ditujukan bagi masyarakat yang ekonominya belum bagus.
Program yang dimaksud ialah pengobatan gratis (katagori PBI dari BPJS kesehatan), Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Bantuan Sosial Tunai (BST), Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa, Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, serta subsidi energi (Bahan Bakar Minyak/BBM, Liquid Pertoleum Gas/ LPG, listrik, dan pupuk).
Program bansos sangat bermanfaat untuk orang yang sedang membutuhkan. Bantuan yang demikian ibarat danau yang jernih di tengah gurun pasir bagi penerima bansos yang tepat sasaran. Sudahkah bansos di negara kita tepat sasaran?
Bidang-bidang di atas merupakan beberapa contoh yang sebagian dananya bersumber dari dana pajak. Membiasakan diri membayar pajak tepat waktu adalah hal terpuji yang nanti akan dikuti oleh anak. Anak merupakan suatu "aset" yang berharga bagi orang tua dan negara. Mendidik mereka dengan baik adalah tugas negara, guru, dan orang tua yang pastinya.
Salah satu pendidikan yang harus ditanamkan dalam diri anak ialah pendidikan tentang pajak. Pajak mengandung nilai-nilai pendidikan karakter di antaranya: nasionalisme dan tidak egois; prihatin, peduli, dan empati; semangat belajar; serta bersyukur. Apabila anak sudah mengenal, bahkan cinta terhadap pajak, maka mereka akan menjadi generasi emas di masa mendatang. Generasi peduli bangsa.
Perluasan "lahan" pajak dapat meningkatkan kemajuan negara dengan catatan dikelola dengan bijak dan amanah. Oleh karena itu, mari kita wujudkan tunas bangsa yang hebat dan negara yang kuat. Caranya, mulai dari diri sendiri dengan membuat NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan membayar pajak tepat pada waktunya. Bangsa yang hebat, negara yang kuat, bayar pajak yang tepat. (*)
Sumber referensi
- Panjaitan, Rudy Antoni. (2025, September 8). "Pajak: Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Siapa?" Diakses pada 29 Mei 2026, dari https://www.pajak.go.id/id/artikel/pajak-dari-rakyat-oleh-rakyat-untuk-siapa.