Di tengah hiruk-pikuk kehidupan Kota Bandung, ada sebuah nama yang perlahan habis termakan waktu. Karees di masa sekarang mungkin hanya dikenal oleh masyarakat sebagai sebuah nama kawasan biasa. Namun, di balik namanya yang terlupakan ini tersimpan sejarah panjang tentang bagaimana tempat ini pernah menjadi stasiun awal yang menghubungkan Bandung dengan Kopo (Soreang) melalui jalur trem di masa kolonial Belanda. Bagi mereka yang ingin sedikit menoleh ke belakang, di sinilah cerita itu bermula sebelum semuanya berubah dan sebelum arus modernisasi mengikis eksistensi Karees.
Jauh sebelum stasiun ini dibangun, pemerintah kolonial menghadapi suatu masalah yang serius dalam distribusi hasil bumi. Sebelum jalur trem Bandung-Kopo ini dibangun, hasil bumi seperti kopi, kina, dan teh dari Bandung Selatan masih mengandalkan pedati sebagai sarana pendistribusiannya. Pedati sendiri adalah gerobak beroda besar yang ditarik oleh hewan, seperti kuda, sapi, atau kerbau.
Dikutip dari bandungbergerak.id masalah utama dari pendistribusian hasil bumi dengan pedati ini adalah jalur menuju Kota Bandung yang sulit dilewati dengan jarak yang relatif jauh. Keterbatasan inilah yang mendorong pengajuan konsesi pembangunan jalur trem yang dinilai akan jauh lebih efisien dibandingkan cara yang tradisional, dengan Karees dipilih sebagai titik pertama dari Kota Bandung.

Pemilihan Karees sebagai titik pertama ini bukan tanpa alasan. Pada 1883, A.A. Maas Geesteranus selaku administrator perusahaan Malabar mengajukan sebuah konsesi pembangunan jalur trem dari Bandung-Pangalengan, namun gagal karena kurangnya modal. Setelah itu, berbagai pihak silih berganti mengajukan konsesi tersebut hingga pada akhirnya Staatsspoorwegen (SS) mengambil alih konsesi ini.
Setelah mengambil alih konsesi tersebut, SS mendapati masalah baru terkait Preangerlijnen (jalur Priangan) yang ada di Stasiun Bandung. Jalur itu dirasa sudah terlalu padat, hingga akhirnya SS memutuskan untuk membangun stasiun baru dengan nama Stasiun Karees sebagai titik pertamanya. Perencanaan pembangunan jalur ini telah dibuat sejak 1916, dan kemudian diresmikan melalui Staatsblad No. 345 tahun 1918 sebagai dasar hukum pembangunan jalur tersebut.
Dikutip dari artikel Opening Tramlijnen (1921) dalam surat kabar De Preanger-bode, jalur ini resmi dibuka pada 12 Februari 1921 dengan serangkaian seremoni meriah yang dimulai dari Karees. Kereta api pesta (Feesttrein) yang telah dihias berangkat dari Karees pukul 08.15 pagi dan sekitar 09.30 kereta ini sampai di Kopo. Setibanya di sana, masyarakat telah berkumpul dan memeriahkan acara dengan permainan rakyat (Volksspelen), kemeriahan ini ditutup dengan melakukan upacara adat penanaman kepala kerbau di emplasemen Kopo. Staatsspoorwegen kemudian meresmikan jalur Bandung-Ciwidey pada 15 Februari 1925.

Kejayaan Stasiun Karees ini sayangnya tidak berlangsung lama. Di tahun yang sama dengan peresmiannya, Staatsspoorwegen mengusulkan sebuah rencana untuk membangun sebuah stasiun angkutan penumpang di Karees. Namun sayangnya, hal ini berbeda dengan rencana pemerintah kota yang berencana membangun stasiun penumpang di Cikudapateuh. Usulan ini dimenangkan oleh pemerintah kota, karena Karees dinilai terlalu jauh dari pusat kota sehingga menyulitkan penumpang dan barang dalam mobilitasnya. Stasiun ini mulai kehilangan penumpangnya dan pada akhirnya Stasiun Karees ditutup pada tahun 1976. Kemudian disusul dengan penghentian total jalur trem Bandung-Ciwidey di tahun 1982.
Kini nama Karees masih bisa kita temukan, namun dalam peta Kota Bandung hanya sebagai sebuah nama kawasan biasa, jejaknya sebagai stasiun sudah sangat sulit untuk ditemukan. Rel-rel Karees yang dulunya menghubungkan pusat Kota Bandung dengan kota satelitnya, kini tertutupi oleh aspal dan perumahan padat penduduk. Meski begitu, jika kita menyusuri lebih jauh ke arah Cibangkong, masih terdapat sisa-sisa rel tua peninggalan jalur trem. Peninggalan-peninggalan ini adalah saksi bisu sejarah yang tersembunyi di celah-celah gang sempit. (*)