Bandung memang dikenal sebagai kota kreatif yang mampu menciptakan berbagai komunitas sosial. Mulai dari komunitas kemanusiaan, komunitas ekonomi, komunitas hiburan, komunitas pendidikan hingga komunitas membaca buku. Komunitas dibentuk untuk menemukan berbagai kriteria orang dengan minat yang sama. Sehingga segala kreativitas juga karya dapat tersalurkan tanpa merasa tidak ada dukungan.
Begitu pun dengan komunitas baca buku. Di tengah isu bahwa minat membaca rendah, ada sisi lain justru menarik karena kian waktu mulai bermunculan komunitas buku yang tidak hanya menyediakan ruang bagi anggotanya untuk mengumpulkan minat yang sama. Melainkan beberapa diantaranya melakukan aktivitas lebih mendalam seperti diskusi buku, membuat buku hingga terjun langsung ke lapangan untuk menangkap fenomena yang secara nyata terjadi di lapangan.
Dari beberapa komunitas baca buku atau perpustakan yang pernah aku temui, jujur aku pribadi sangat senang. Mereka punya banyak buku karya sastra yang menurutku sangat penting bagi anak muda. Misalnya saja ketertarikanku terhadap Pramoedya Ananta lahir ketika dalam sebuah komunitas tersebut ada yang memberikan pandangan tentang isi dari buku tersebut. Aku juga mulai kenal beberapa penulis perempuan kritis seperti Okky Madasari dengan judul bukunya Entrok, Ayu Utami dengan judul bukunya Saman, Intan Paramadhita dengan judul bukunya Gentayangan dan S. Rukiyah sastrawan pelopor tahun 1950-an yang aktif dalam Lekra dan Gerwani.
Awalnya beberapa orang dalam komunitas biasanya sangat welcome ketika hari pertama kita mengikuti sesi tersebut. Namun beberapa pertemuan selanjutnya, aku pribadi mulai merasa ada perbedaannya. Jelas aku tidak bisa menyamaratakan pengalamanku dengan orang lain. Hanya saja aku sering merasa mulai mendapat sedikit perbedaan. Entah karena aku pembaca pemula yang belum bisa masuk secara nyambung dengan diskusi mereka yang mendalam tentang sastrawan atau suatu isu yang menarik misalnya tentang politik dan isu perempuan. Atau mungkin pendekatanku saja yang dinilai tidak terlalu effort untuk masuk ke dalam lingkaran tersebut.
Awalnya aku merasa bahwa hal tersebut mungkin saja hanya perasaan selintas. Namun melalui observasiku rasanya perasaan itu valid karena melalui data yang aku konfirmasi selaras dengan perbedaan yang aku rasakan. Diskusi yang dilihat hebat memang seringkali berisi topik yang sangat berat. Namun bagiku itu bukan langkah utama yang bisa dilakukan komunitas. Karena alih-alih mempertahankan mereka yang baru mengenal buku atau sudah mulai menyukai tapi masih hilang arah-- langkah tersebut sangat membuat orang lain minder untuk terus bergabung dengan komunitas yang bersangkutan.
Maka besarnya minat yang telah dikumpulkan susah payah tidak akan bertahan lama jika sistem yang diterapkan demikian. Aku sempat membayangkan bahwa komunitas membaca buku adalah komunitas yang paling ramah untuk semua orang yang ingin mulai belajar kritis. Namun kenyataannya di lapangan kadang tidak selalu berjalan demikian.

Menurutku banyak buku-buku yang terlihat sederhana dan bukan dari penulis terkenal tapi punya isu sederhana yang sangat menarik untuk dibahas. Isu-isu itu juga sangat dekat dengan kehidupan masyarakat pada umumnya. Dan aku rasa semua orang perlu tahu isu sederhana itu. Karena untuk menyelesaikan isu besar maka kita perlu peka terhadap isu kecil yang sering disepelekan.
Perbedaan atau ekslusivitas membaca buku juga tidak selalu hadir dalam ruang dunia nyata tapi juga dunia maya. Banyak satu pembaca menyepelekan atau merendahkan buku bacaan orang lain hanya karena punya ketertarikan penulis dan tema yang berbeda. Padahal meski setiap orang punya minat dan tema yang berbeda yang penting untuk terus ditumbuhkan adalah minat membacanya.
Menurutku cukup pejabat yang terlihat hidup lebih eksklusif dibandingkan rakyatnya saat ini tapi jangan sampai ruang-ruang membaca, ruang-ruang diskusi juga ikut membentuk kesenjangan diantara anggotanya hanya karena minat dan tema bacaan yang berbeda. (*)