Ayo Netizen

Penggunaan Wewangian dari Zaman Mesir sampai Sekarang

Oleh: Aliffiya Putik Rindu Rahmadin
Pajangan botol parfum berwarna-warni. (Sumber: pexels.com | Foto: Hồng Quang)

Wewangian sudah ada sejak zaman Mesopotamia kuno, namun pengunaannya berbeda dengan wewangian di zaman sekarang. David H Pybus menjelaskan dalam artikel “The History of Aroma Chemistry and Parfume” (2006), kata “Parfume” sendiri berasal dari bahasa Latin per fumum, yang berarti “melalui” atau “dengan” asap. Asap dalam konteks ini membahas tentang pembakaran dupa yang diyakini sebagai cara berdoa orang-orang zaman dahulu untuk disampaikan ke langit untuk perenungan kepada Tuhan.

Penggunaan wewangian pada zaman dulu kebanyakan sebagai ritual keagamaan, dengan menggunakan dupa, kyphi, kayu aromatic dan lain semacamnya. Menurut Dr. Renata G Tatomir, wewangain seperti dupa, dulu digunakan sebagai ritual keagamaan untuk memanggil dan menyenangkan pada dewa. Sedangkan pada zaman sekarang, wewangian digunakan dalam konteks yang lebih luas, sebagai pengharum tubuh, pencegah odor alami tubuh yang kurang enak bahkan sampai perawatan kecantikan sehari-hari.

Wewangian berkembang pesat di masyarakat Mesir sejak tahun 1580-1085 SM dalam acara-acara besar, yang akhirnya membuat popularitas parfum/wewangian tubuh melonjak naik. Pybus mengatakan, masyarakat Mesir Kuno menemukan bahwa campuran pasir dan abu yang dibakar dapat menghasilkan bahan keras dan transparan, atau yang kita kenal sebagai kaca. Jika dalam proses pembakaran ditambahkan batu kapur, kaca yang dihasilkan akan menjadi lebih kuat dan tahan lama. Mereka kemudian memanfaatkan kaca itu untuk membuat wadah yang digunakan untuk menyimpan cairan wewangian, yang akhirnya kita kenal dengan parfum.

Pada abad ke-12, salah satu tokoh Muslim yang turut berperan dalam industri wewangian, Jabir bin Hayyan, turut mengembangkan berbagai teknik untuk mendapatkan saripati wewangian, mulai dari proses destilasi, evaporasi dan filtrasi. Berdasarkan hasil penelitiannya, aroma-aroma yang didapat dari tumbuhan bisa diubah menjadi bentuk uap air. Parfum pada saat itu, dapat disimpan dalam botol yang berisi air atau minyak ekstrak wewangian. Dari keberhasilan Jabir, seorang filsuf dari Arab, Al-Kindi (801-873 M) turut mengembangkan wewangian dengan mengombinasikan aroma wewangian dari beberapa bahan untuk mendapatkan beragam sensasi aromatik. (Hasanul Rizqa, 2021).

Penggunaan wewangian juga tidak hanya untuk keseharian, wewangian juga digunakan dalam konteks religius. Penggunaan wewangian dalam konteks religius biasanya digunakan untuk memanggil para roh leluhur. Wangi dupa juga dipercaya dapat menghantar para roh leluhur ke surga.

Dalam agama Islam sendiri, penggunaan wewangian saat beribadah merupakan anjuran dari pada Nabi SAW. Hasanul Rizqa dalam artikelnya yang dimuat republika.id yang berjudul “Sejarah Parfum di Dunia Kuno” (2021) menuliskan bahwa pada zaman Mesir Kuno, dupa juga digunakan dalam konteks ritual magis, para tabib istana percaya bahwa wangi dupa dapat mengusir roh-roh jahat yang menjangkit tubuh pasiennya, meskipun fungsionalnya untuk mengharumkan tubuh.

(Sumber: pexels.com | Foto: cottonbro studio)

Seperti yang disampaikan oleh Kevin Sihotang dalam artikel “Sejak Kapan Manusia menggunakan Parfum?” (2021), di abad ke-18, perkembangan industri parfum di Perancis mengalami kemajuan pesat dan semakin berinovasi dalam pembuatannya.

Parfum yang dulunya hanya menggunakan kayu aromatik, Perancis mulai berinovasi untuk membuat wewangian dengan campuran rosemary, neroli, bergamot dan lemon yang memperkaya variasi wewangian parfum. Kegunaan parfum pada zaman sekarang bukan hanya sekedar untuk ritual keagamaan, namun juga sebagai kebutuhan sehari-hari. Contohnya, penggunaan deodoran, sabun mandi, parfum, aromaterapi, juga body oil.

Orang-orang pada saat ini cenderung tidak bisa lepas dari wewangian, sudah seperti hal wajib setiap harinya untuk menggunakan wewangian. Fungsi wewangian juga tidak hanya sebagai penghilang bau badan, tetapi juga untuk menjaga kebersihan, kesegaran tubuh, relaksasi tubuh hingga higienitas tubuh. Wewangian juga sangat amat berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan diri seseorang di ruang publik.

Bentuk wewangian tidak hanya parfum, tetapi juga deodorant yang berfungsi untuk mencegah bau badan berlebih, sabun mandi berfungsi sebagai pembersih tubuh dari kotoran-kotoran yang menempel pada saat beraktivitas, aromaterapi sebagai wewangian yang dapat merelaksasi tubuh, body oil sebagai perawatan tubuh, dan masih banyak lagi. Pada zaman kuno, sebagian besar wewangian terbuat dari kayu aromatik, herbal, rempah-rempah, dan lain sebagainya.

Sedangkan di masa sekarang, wewangain terbuat dari berbagai macam bahan alami yang lebih bervariatif. Namun dikarenakan hal tersebut, harga wewangian pun tidak murah, mengingat bahan-bahan yang digunakan lebih bervariasi dan premium. Harga wewangian pun bisa mencapai ratusan bahkan jutaan ribu rupiah. Hal ini wajar terjadi karena kebanyakan produsen wewangian membeli bahan-bahan impor dari luar negeri demi kualitas yang baik dan hasil yang baik pula.

Dari tahun 1580-1085 SM dimana wewangian banyak digunakan perempuan-perempuan Mesir dalam acara-acara besar sampai hampir dari kebanyakan orang menggunakan wewangian saat keluar rumah pada zaman sekarang, merupakan perkembangan yang sangat besar dalam evolusi wewangian di dunia. Seperti yang dikutip dari blog mandalikaparfume.co.id, parfum dibedakan dari konsentrasi dan daya tahan wanginya, eau de cologne (konsentrasi parfum 2%-4% dengan daya tahan wangi 1-2 jam), eau de toilette (konsentrasi parfum 5%-15% dengan daya tahan wangi 2-4 jam), eau de parfum (konsentrasi parfum 15%-20% dengan daya tahan wangi 4-6 jam), extrait de parfum (konsentrasi parfum 20%-40% dengan daya tahan wangi 8-12 jam). Sampai kegunaannya yang bermacam-macam, seperti hair mist, body mist, linen spray, dan lain-lain. Dan sampai sekarang, parfum masih masuk ke dalam kategori benda mewah. (*)

Reporter Aliffiya Putik Rindu Rahmadin
Editor Aris Abdulsalam