Meminjam teori Multiple Intelligences atau kecerdasan jamak yang dibuat oleh Howard Gardner serta berbagai riset neurosains, mainan bukanlah sekadar alat hiburan, melainkan stimulus spesifik yang mengaktifkan sirkuit saraf tertentu di otak.
Saatnya pemerintah daerah berupaya keras untuk mengembangkan kaulinan barudak atau mainan anak yang memiliki potensi ekonomi yang bagus jika diproduksi secara massal menggunakan pendekatan desain industri modern. Kalimat kuncinya adalah mengubah material yang dulunya rapuh menjadi lebih kokoh, presisi, aman, dan memiliki kemasan yang memikat.
Jenis mainan tradisional Sunda yang potensial untuk diproduksi secara massal beserta rekomendasi pengembangan desainnya antara lain Gasing Panggal atau Gasing Kayu Sunda. Berbeda dengan gasing modern berbahan plastik, gasing tradisional Sunda mengandalkan ketangkasan motorik untuk melilitkan tali dan melemparnya agar berputar lama di tanah. jenis mainan ini disukai anak-anak karena memiliki unsur kompetisi. Pentingnya desain industri yang menggunakan mesin bubut otomatis CNC agar bentuknya presisi dan seimbang. Selain itu permukaannya dapat dilapisi cat water based warna warni cerah atau grafis corak batik Megamendung.
Masih ada jenis mainan tradisional Sunda lainnya yang potensial seperti Kelom Batok Egrang Batok Kelapa, Bedil Karet (pistol mainan kayu) hingga mobil-mobilan kayu atau bambu.
Perlu strategi komersialisasi produk mainan tradisional. Dengan menerapkan tiga faktor kemasan yang menarik. Dalam kemasan tercantum sertifikasi SNI yang tentunya menggunakan material non-toxic demi keamanan konsumen anak-anak. Kemasan sebaiknya bernuansa Kemasan yang bercerita (story telling packaging
). Di kemasan juga menyematkan kode QR pada mainan fisik yang jika dipindai akan mengarah ke video tutorial interaktif cara bermain atau animasi cerita rakyat Sunda terkait.

Mengembangkan desain mainan anak bercorak lokal atau tradisional adalah langkah strategis untuk melestarikan kearifan budaya sekaligus membangun daya saing produk domestik terhadap gempuran produk impor. Melalui pendekatan yang interaktif, unsur tradisional yang sering dianggap kuno dapat diubah menjadi media edukasi yang modern, ramah anak, dan menyenangkan.
Proses pengembangan produk mainan mengikuti langkah-langkah terstruktur berbasis Design Thinking agar tepat sasaran. Proses desain sebaiknya melalui riset dan observasi cara anak-anak bermain saat ini untuk memahami karakteristik psikologis dan motorik mereka.
Setelah itu membuat prototipe atau purwarupa sebagai model awal fisik mainan untuk menguji dimensi, kekuatan, dan fungsionalitas sebelum diproduksi massal.
Memasukkan desain industri mainan anak bercorak lokal ke dalam kurikulum di sekolah atau istilahnya zaman orang tua kita adalah prakarya adalah langkah strategis untuk mencetak generasi yang inovatif, menghargai budaya, dan memiliki jiwa berwirausaha (entrepreneurship) sejak dini.
Saatnya produk mainan anak tradisional mendapatkan prioritas utama dan mesti bisa mendominasi Pustaka Mainan PAUD di Jawa Barat. Pemerintah daerah perlu menegaskan kepada seluruh sekolah taman kanak-kanak atau PAUD harus membeli mainan anak buatan pengrajin lokal. Pengadaaan barang dan jasa untuk sekolah terkait dengan mainan anak dan alat peraga pendidikan mesti buatan lokal.
Saat ini masih banyak perusahaan atau pengrajin lokal yang memproduksi mainan anak di Jawa Barat. Seperti misalnya di Jalan Soekarno-Hatta kota Bandung yang memproduksi rumah boneka Barbie yang sangat menawan. Rumah boneka diproduksi oleh perajin bernama Tasudin. Dari tangan kreatif Tasudin rumah Barbie tercipta dengan aneka bentuk yang indah dan menarik animo anak.
Selain itu ada Kampung Cikapol, Dusun Paciwilan, Desa Rajamandala, Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya yang merupakan kampung pengrajin kompor mainan mini. Dan masih banyak lagi pengrajin yang kini perlu dibantu secara serius agar tidak mati karena serbuan barang impor.
Melihat produk mainan anak yang dipajang di rak toko atau toserba hati saya sedih. Pasalnya bermacam produk itu ternyata didominasi oleh produk impor, utamanya dari Cina. Saya teringat saat kecil dahulu, ketika mainan didominasi oleh produk kerajinan lokal dari bahan lokal juga. Produk mainan lokal atau produk mainan tradisional itu kini sangat jarang kita jumpai.
Bahkan dunia pendidikan, yang memiliki anggaran yang cukup besar, sayangnya juga dibelanjakan untuk mainan anak yang sebagian besar buatan luar negeri. Atau bisa juga mainan anak impor namun bungkusnya dibuat seolah-olah buatan pengrajin dalam negeri (lokal).
Saatnya anggaran untuk pengadaan Pustaka Mainan (Toy Library) di lingkungan PAUD atau TK di seluruh Indonesia mestinya menggunakan produk dalam negeri dalam arti yang sebenarnya. Pustaka Mainan adalah program layanan yang menyediakan tempat bermain serta berbagai alat mainan anak usia dini yang dapat diakses oleh anak-anak.
Dinas pendidikan dalam melaksanakan program bantuan pemerintah untuk Pustaka Mainan seharusnya menekankan penggunaan produk lokal. Karena produk lokal kualitasnya masih ada yang belum baik, maka pemerintah perlu bekerja sama dengan ahli desain kreatif dari berbagai perguruan tinggi tersebut untuk membantu sebagai konsultan para pengrajin yang tergolong UMKM untuk memperbaiki desain produk dan aspek lainnya. Sehingga produk mainan anak buatan pengrajin dalam negeri bisa tumbuh menghadapi persaingan.
Sekedar catatan, pelaksanaan Bantuan Pustaka Mainan dimaksudkan untuk membantu meningkatkan mutu prasarana PAUD atau taman kanak-kanak yang merupakan bagian dari strategi untuk mendukung peningkatan akses layanan PAUD/TK berkualitas. Perlu mewujudkan tata kelola program bantuan yang baik (good) dan bersih (clean), terbuka (transparan), dan bertanggung jawab (accountable) yang semuanya itu berbasis penggunaan produk dalam negeri.

Pengembangan UMKM industri kreatif produk mainan anak di negeri ini kurang efektif dalam menghadapi persaingan global. Diperlukan konsultan untuk UMKM sektor industri kreatif berbasis desa yang mengajarkan prinsip eco product dan meningkatkan nilai tambah yang optimal.Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam kabinet perlu memberikan perhatian khusus kepada industri kreatif mainan anak. Produk mainan anak perlu perhatian khusus karena memiliki dampak ekonomi yang sangat prospektif. Terutama bagi industri mainan anak yang berbasis lokalitas dan berbau tradisional.
Jika kemampuan desain dan relevansi tema produk mainan anak buatan Indonesia bermutu baik, maka punya kesempatan mengisi ceruk pasar global. Oleh sebab itu Menparekraf dalam Kabinet Presiden Prabowo mendatang perlu gerak cepat membangkitkan industri lokal mainan anak. Tentunya dengan berbagai insentif dan program perbaikan desain. Industri kecil dan menengah (IKM) sektor mainan anak dan alat peraga pendidikan perlu perhatian khusus karena hal ini bisa menyerap tenaga kerja yang cukup besar.
Tidak semua anak usia dini mempunyai akses terhadap mainan anak yang sehat dan berkualitas.Kita sering melihat sikap orang tua yang menilai bermain dengan mainan hanya membuang waktu. Padahal menurut psikologi anak bermain merupakan salah satu cara untuk mengasah kemampuan motorik anak. Juga menumbuhkan proses kreatif sejak dini. Dengan mainan anak yang berkualitas buatan lokal, maka daya imajinasi bangsa juga ikut terbangun. (*)