Ayo Netizen

Mewujudkan Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

Oleh: Muh Husen Arifin
Ilustrasi siswa sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: ubed)

Ketika perundungan terjadi dengan keterlibatan murid sungguh sangat disesalkan. Meskipun kejadian perundungan bertubi-tubi menjadi konsumsi masyarakat yang tak seharusnya terjadi. Tetapi perundungan sering muncul dan terjadi setiap tahunnya.

Lantas siapakah yang disalahkan? Jika saling menunjuk tidak ada hentinya. Sebab kejadian perundungan tidak memandang siapapun. Argumentasi yang kerap muncul selalu diidentikkan dengan menunjuk sekolah dan berdampak pada sumberdaya yang ada di dalamnya.

Sudut pandang dari sekolah ramah, sekolah aman, dan sekolah nyaman perlu dideskripsikan dengan sederhana dan mudah dipahami, agar setiap masyarakat di sekolah, masyarakat di sekitar, dan masyarakat internet saling memahami secara mendalam.

Sekolah ramah adalah sekolah yang menerapkan dan membudayakan lima S, yaitu senyum, sapa, salam, santun, dan sopan. Senyum pada dasarnya dimiliki oleh setiap manusia. Tersenyum sebagai pembudayaan yang mudah dilakukan namun mesti dilakukan secara aktif. Setiap masyarakat di sekolah harus selalu tersenyum bukanlah hal yang susah dilakukan.

Saling menyapa dan salam adalah pemaknaan dari manusia yang bersosial. Menyapa antar murid, menyapa para guru, menyapa sesama tentunya diikuti dengan salam. Uniknya, salam sering terlewatkan. Padahal, saling menyapa dan salam merupakan hadirnya masyarakat untuk saling bersama-sama.

Sopan dan santun juga sering terabaikan. Tak terkecuali jika terjadi di dunia internet. Sopan dan santun mulai ditinggalkan. Mengomentari postingan sering sarkas dan tidak mendalami maksudnya terlebih dahulu. Kondisi itu akan merumitkan. Pada dasarnya, sopan dan santun sangat dijunjung tinggi di lingkungan pendidikan.

Sekolah aman harus diimplementasikan dari setiap sarana dan prasarana yang dimilikinya. Sekolah aman tidak sekadar menjaganya, tetapi sekolah aman harus melibatkan semua guru dan murid. Sekolah wajib aman dari perundungan. Sekolah hadir bertanggung jawab atas kejadian yang tiba-tiba terjadi. Terutama pada aspek, keamanan atas kendaraan, keamanan di ruang kelas, keamanan dibebankan kepada guru dan murid.

Sekolah nyaman tidak sekadar diilustrasikan rindang dan bersih. Lebih dari itu, sekolah harus tampak dari setiap sudutnya. Nyaman dipandang. Nyaman bagi guru dan murid. Nyaman dimanapun untuk belajar.

Lingkungan sekolah nyaman akan tercipta manakala pemangku kebijakannya mengelola dengan baik. Tidak sekadar bersih-bersih setiap hari jumat atau sabtu, tetapi menjaga kondusivitas setiap waktu.

Oleh karena itu, sekolah ramah, aman, dan nyaman tidak bisa sekadar wacana atau petunjuk teknis yang dituangkan ke dalam rapat-rapat. Tetapi sekolah RAN (Ramah, Aman, dan Nyaman) dimaksimalkan menjadi kerja terbaik. Semoga sekolah menjadi ruang belajar terbaik bagi guru dan murid untuk menciptakan masa depan pendidikan terbaik. (*)

Reporter Muh Husen Arifin
Editor Aris Abdulsalam