Ketika Negara Kehilangan Kata-Kata

5 menit baca
erni driyantini
Ditulis oleh erni driyantini diterbitkan
Pejabat bicara dengan pendemo (Sumber: malukuprov.go.id)
Pejabat bicara dengan pendemo (Sumber: malukuprov.go.id)

Kepercayaan publik sering kali runtuh bukan karena kebijakan yang salah, melainkan karena penjelasan yang gagal. Di era digital, legitimasi negara tidak hanya diuji oleh kualitas keputusan yang diambil, tetapi juga oleh kemampuan aparaturnya menjelaskan mengapa keputusan itu dibuat.

Pelajaran itu kembali terlihat dalam polemik lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR beberapa waktu lalu. Sebuah video yang memperlihatkan seorang siswi sekolah menengah atas memprotes keputusan dewan juri menyebar luas di media sosial. Dalam pandangan banyak orang, persoalan tersebut bukan semata mengenai benar atau salahnya sebuah jawaban. Yang menjadi perhatian publik justru ketidakmampuan penyelenggara memberikan argumentasi yang dinilai konsisten dan meyakinkan.

Perdebatan yang kemudian muncul memperlihatkan satu kenyataan penting. Masyarakat modern tidak lagi hanya menerima keputusan dari otoritas karena posisi atau kewenangannya. Publik menuntut alasan yang masuk akal, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketika penjelasan gagal memenuhi harapan itu, yang dipertanyakan bukan hanya keputusan, tetapi juga integritas institusi yang mengambil keputusan tersebut.

Kasus tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, sesungguhnya ia menjadi cermin dari persoalan yang lebih luas dalam birokrasi Indonesia yaitu lemahnya kapasitas komunikasi publik di tengah meningkatnya tuntutan transparansi dan partisipasi masyarakat.

Di masa lalu, hubungan antara negara dan warga lebih banyak dibangun melalui struktur yang bersifat hierarkis. Pemerintah membuat kebijakan, masyarakat menerima. Informasi bergerak satu arah. Kritik publik relatif terbatas karena saluran komunikasi juga terbatas.

Kini situasinya berubah secara fundamental. Media sosial telah menghapus banyak sekat antara negara dan warga. Setiap keputusan pemerintah dapat diperdebatkan secara terbuka. Setiap pernyataan pejabat dapat direkam, dipotong, disebarluaskan, lalu dinilai oleh jutaan orang dalam hitungan menit. Di ruang publik digital seperti itu, kemampuan menjelaskan menjadi sama pentingnya dengan kemampuan mengambil keputusan.

Sayangnya, birokrasi kita masih sering terjebak dalam paradigma lama. Kompetensi teknis dan administratif dipandang sebagai ukuran utama profesionalisme aparatur, sementara kemampuan berkomunikasi sering dianggap sebagai pelengkap. Padahal, bagi masyarakat, negara pertama-tama hadir melalui komunikasi.

Warga mengenal negara melalui penjelasan petugas pelayanan. Mereka memahami kebijakan melalui pernyataan pejabat. Mereka merasakan kualitas pemerintahan melalui cara aparatur merespons pertanyaan, keluhan, dan kritik. Dalam praktiknya, komunikasi bukan sekadar aktivitas pendukung pelayanan publik. Komunikasi adalah pelayanan publik itu sendiri.

Persoalan muncul ketika aparatur terbiasa berbicara dalam bahasa birokrasi yang kaku, teknokratis, dan sering kali jauh dari pengalaman sehari-hari masyarakat. Bahasa regulasi yang dipahami dengan baik di lingkungan internal pemerintahan belum tentu mudah dipahami oleh warga. Akibatnya, pesan yang ingin disampaikan sering kehilangan makna ketika sampai kepada publik.

Di sinilah paradoks birokrasi modern muncul. Negara dapat bekerja semakin canggih melalui digitalisasi, kecerdasan buatan, dan integrasi data, tetapi pada saat yang sama dapat kehilangan kepercayaan masyarakat karena gagal menjelaskan kebijakan dengan bahasa yang sederhana dan manusiawi.

Kepercayaan sesungguhnya lahir dari komunikasi yang efektif. Dalam ilmu komunikasi publik, kredibilitas dibangun oleh tiga unsur utama: kompetensi, konsistensi, dan empati. Publik percaya kepada institusi yang dianggap memahami persoalan, menyampaikan pesan secara konsisten, dan menunjukkan kepedulian terhadap kepentingan masyarakat.

Ketika ketiga unsur itu hadir, kebijakan yang sulit sekalipun dapat diterima. Sebaliknya, ketika salah satunya hilang, bahkan program yang dirancang dengan baik berpotensi menimbulkan resistensi.

Tidak sedikit polemik kebijakan publik di Indonesia yang sesungguhnya berakar pada kegagalan komunikasi. Dalam banyak kasus, substansi kebijakan tidak selalu menjadi masalah utama. Yang sering memicu penolakan adalah minimnya penjelasan, lemahnya argumentasi, atau ketidakmampuan pemerintah membaca persepsi publik. Akibatnya, ruang komunikasi yang seharusnya digunakan untuk membangun pemahaman bersama justru dipenuhi prasangka dan spekulasi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi bukan lagi persoalan teknis, melainkan persoalan strategis. Ia berkaitan langsung dengan legitimasi pemerintahan. Ketika masyarakat tidak memahami alasan sebuah kebijakan, mereka cenderung meragukan motif di baliknya. Ketika penjelasan dianggap tidak konsisten, kepercayaan terhadap institusi ikut terkikis. Dalam jangka panjang, akumulasi ketidakpercayaan semacam ini dapat menjadi hambatan serius bagi efektivitas pemerintahan.

Karena itu, reformasi birokrasi pada masa depan tidak cukup hanya berfokus pada penyederhanaan prosedur, digitalisasi layanan, atau penguatan akuntabilitas. Reformasi juga harus menyentuh kemampuan aparatur dalam membangun percakapan yang sehat dengan masyarakat.

Aparatur negara tidak lagi cukup berperan sebagai pelaksana aturan. Mereka harus mampu menjadi penerjemah kebijakan. Mereka perlu menjelaskan persoalan yang rumit dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa kehilangan akurasi substansinya. Mereka harus mampu menjawab kritik tanpa bersikap defensif dan menerima pertanyaan publik tanpa melihatnya sebagai ancaman.

Tugas ini menjadi semakin penting karena masyarakat Indonesia sedang mengalami perubahan sosial yang besar. Tingkat pendidikan meningkat, akses informasi semakin luas, dan generasi muda tumbuh dalam budaya yang lebih kritis terhadap otoritas. Mereka tidak puas dengan jawaban normatif atau sekadar mengutip aturan. Mereka ingin memahami alasan, konteks, dan logika di balik setiap keputusan publik.

Dalam situasi seperti itu, pendekatan komunikasi yang bersifat instruktif dan paternalistik akan semakin sulit diterima. Yang dibutuhkan adalah komunikasi dialogis yang menghargai masyarakat sebagai mitra dalam kehidupan demokrasi.

Pada titik inilah kompetensi komunikasi harus ditempatkan sebagai salah satu pilar utama profesionalisme aparatur sipil negara. Kemampuan berbicara di depan publik bukan lagi sekadar keterampilan tambahan. Ia merupakan instrumen untuk membangun kepercayaan sosial yang menjadi fondasi keberhasilan kebijakan.

Lebih jauh lagi, komunikasi publik harus dipahami sebagai bagian dari etika pemerintahan. Menjelaskan keputusan kepada masyarakat bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bentuk penghormatan terhadap warga negara. Dalam negara demokratis, rakyat berhak mengetahui alasan mengapa sebuah kebijakan diambil dan bagaimana kebijakan tersebut akan memengaruhi kehidupan mereka.

Karena itu, kualitas komunikasi sesungguhnya mencerminkan kualitas hubungan antara negara dan warga. Negara yang terbuka akan menjelaskan. Negara yang percaya diri akan berdialog. Negara yang menghormati rakyatnya tidak akan bersembunyi di balik bahasa yang rumit dan sulit dipahami.

Pada akhirnya, setiap aparatur negara perlu menyadari bahwa kata-kata yang mereka ucapkan memiliki makna yang jauh melampaui fungsi komunikasi sehari-hari. Ketika seorang ASN berbicara kepada masyarakat, yang hadir bukan hanya dirinya sebagai individu. Di belakangnya berdiri institusi, pemerintah, bahkan negara.

Setiap penjelasan yang jernih akan memperkuat kepercayaan. Setiap argumentasi yang rasional akan memperkokoh legitimasi. Sebaliknya, setiap ketidakjelasan, inkonsistensi, dan sikap arogan akan meninggalkan retakan pada hubungan antara pemerintah dan masyarakat.

Dalam demokrasi, kepercayaan dibangun sedikit demi sedikit, tetapi dapat hilang dalam sekejap. Karena itu, komunikasi bukan sekadar soal kemampuan berbicara. Ia adalah kemampuan merawat hubungan antara negara dan warga melalui kejujuran, keterbukaan, dan penghormatan.

Kasus dalam sebuah lomba nasional yang sempat menyita perhatian publik mungkin akan segera dilupakan. Namun, pelajarannya akan tetap ialah negara tidak hanya dinilai dari kebijakan yang dihasilkannya, melainkan juga dari cara ia menjelaskan kebijakan tersebut kepada rakyatnya. Di tengah derasnya arus informasi dan meningkatnya tuntutan transparansi, lidah birokrasi telah menjadi salah satu penentu utama kokoh atau rapuhnya jembatan kepercayaan publik. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

erni driyantini
Tentang erni driyantini
Pengamat Publik

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Jul 2026, 17:00

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri.

Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 11:42

Gernas RANA: Menepis Cemas dan Menanam Senyum di Hari Pertama Sekolah

Lewat Permendikdasmen 12/2026 & Gernas RANA, sekolah kini jadi ruang aman bebas cemas. Saatnya sambut masa depan anak dengan kasih sayang!

Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : bkhmvidio@gmail.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 09:09

Bedah Publikasi Pesan Program Pendampingan Gizi dalam Pencegahan Stunting

Nestle Indonesia mempublikasikan program pendampingan gizi di berbagai platform komunikasi dengan menyesuaikan karakteristik tiap platform.

Ilustrasi penulis sedang membedah narasi iklan. (Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 08:39

Sudah Sehatkah Demokrasi Kita?

Apakah demokrasi bisa tumbuh secara sehat tanpa partisipasi masyarakat? Bagaimana pandangan pakar tentang ini?

Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 07:55

SPMB Jalur Domisili Belum Cukup Mengurangi Ketergantungan Pelajar pada Sepeda Motor

SPMB jalur domisili mendekatkan jarak antara rumah dan sekolah, tetapi belum cukup mengurangi ketergantungan pelajar pada sepeda motor dan risiko keselamatan di jalan raya.

Sejumlah sepeda motor milik siswa sebuah SMA di Kota Bandung diparkir di badan jalan. (Istimewa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)