Transformasi Perkebunan Karet Alam di Jabar, Mungkinkah?

6 menit baca
Arif Minardi
Ditulis oleh Arif Minardi diterbitkan
Ilustrasi perkebunana karet di Jawa Barat (Sumber: freepik)
Ilustrasi perkebunana karet di Jawa Barat (Sumber: freepik)

Jawa Barat memiliki sejarah panjang dalam industri karet nasional, di mana wilayah ini menjadi salah satu pintu masuk awal budidaya tanaman karet sejak zaman kolonial Belanda.

Agribisnis karet nasional tengah mengalami tekanan berat dalam satu dekade ini disebabkan melemahnya harga karet. Kondisi perkebunan karet mendapat tambahan beban dengan outbreak serangan penyakit gugur daun yang menurunkan produktivitas karet. Produksi karet alam Indonesia juga mengalami penurunan sejak tahun 2018 sampai sekarang. Tahun 2017 produksi karet RI masih mencapai 3,68 juta ton. Tahun 2023 hanya 2,44 juta ton.

Ada empat faktor penyebab utama penurunan produksi. Mulai dari harga karet yang tak kunjung naik, serangan penyakit gugur daun yang menyebabkan produktivitas kebun menurun signifikan, kurangnya tenaga kerja penyadap, hingga konversi kebun karet ke tanaman lain.

Industri berbasis karet alam di Jawa Barat saat ini menghadapi tantangan penurunan produktivitas lahan dan pasokan lateks . Meskipun wilayah ini memiliki pelaku usaha legendaris seperti PT Perkebunan Nusantara I Regional 2 dan PT Agronesia (Inkaba), industri hilir lokal kerap kekurangan bahan baku sehingga masih bergantung pada wilayah lain.

Total luas perkebunan karet di Provinsi Jawa Barat diperkirakan mencapai kisaran 15.000 hingga 17.000 hektare. Berdasarkan publikasi sektoral dan rilis BPS Jawa Barat, luasan lahan perkebunan karet di wilayah ini memiliki karakteristik kepemilikan dan sebaran wilayah ada tiga kategori utama pengelola. Pertama Perkebunan Besar Negara (PBN). Dikelola terutama oleh BUMN seperti PT Perkebunan Nusantara I Regional 2 (eks PTPN VIII). Kedua Perkebunan Rakyat (PR) yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat atau kelompok tani lokal. Ketiga Perkebunan Besar Swasta (PBS). Dikelola oleh perusahaan swasta komersial.

Data menunjukkan 92 persen produksi karet Indonesia berasal dari perkebunan rakyat. Satu per satu pabrik pengolahan karet di dalam negeri mengalami penurunan utilisasi hingga ke bawah 50 persen. Kondisi itu kemudian berlanjut hingga menyebabkan tutupnya pabrik. Tercatat selama lima tahun terakhir ada 48 pabrik yang tutup. Jumlah pabrik yang bertahan hidup 104 pabrik crumb rubber (pengolahan karet).

Perlu menggenjot hilirisasi karet alam  untuk produk seperti ban, alas kaki, ban vulkanisir, alat-alat medis dan lain sebagainya. Selain itu perkebunan karet juga yang berperan dalam menyerap karbon sangat potensial masuk pasar karbon yang bursa untuk itu sudah dibuka. Perlu revisi peta jalan di hulu dan hilir karet terkait keberlanjutan suplai dan permintaan. Semakin tinggi serapan domestik akan memberikan dampak membaik penyerapan tenaga kerja lokal dan bergairahnya kembali perkebunan karet.

Proyek infrastruktur industri hilir untuk produk-produk karet alam akan semakin banyak menciptakan lapangan kerja. Sayangnya, masih banyak jajaran birokrasi yang belum memiliki visi perkebunan sehingga mengabaikan begitu saja pembangunan kawasan klaster agroindustri terpadu sebagai langkah diversifikasi dan perolehan nilai tambah usaha perkebunan karet. Padahal kluster tersebut mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mendorong lahirnya UMKM di sekitar area perkebunan. Sekedar catatan, usaha perkebunan secara nasional mampu menyediakan lapangan kerja langsung.

Sekarang ini sekitar 80 persen perkebunan karet umurnya sudah berusia tua. Sehingga berdampak terhadap rendahnya produksi. Kondisi tersebut memerlukan peremajaan atau replanting terhadap tanaman karet. Namun pengadaan benih dan biaya persemaian sulit didapatkan. Proses pengadaan benih lewat rekayasa genetika pun masih sulit dilakukan. Akibatnya petani karet kembali ke pola primitif dalam meremajakan kebunnya. Yakni dengan menggunakan bibit atau anak karet yang tumbuh liar di alam. Karet yang berasal dari bibit primitif tersebut baru bisa disadap setelah berusia delapan hingga sepuluh tahun dan produktivitasnya rendah. Sedangkan benih karet unggul hasil rekayasa genetika seperti dari Klon Generasi Ke-4  atau klon G-4 lebih cepat berproduksi, yaitu saat usia tanaman sekitar empat tahun. Selain itu lateks yang keluar dari bibit unggul tersebut juga lebih besar volumenya.

Sebenarnya  aspek ketenagakerjaan dan pengembangan profesi yang terkait bidang usaha perkebunan sangat prospektif di masa mendatang. Sebaiknya pemerintah menerapkan inovasi teknologi dan produk perkebunan. Hasil riset dan inovasi sektor perkebunan yang sudah ada mesti disebarluaskan secara mudah dan murah. Seperti berbagai jenis klon atau varietas unggul. Hampir semua tanaman perkebunan telah memiliki klon atau varietas unggul dengan produktivitas yang tinggi serta sifat sekunder yang lebih baik atau sesuai dengan permintaan pasar. Sebagai contoh adalah tanaman karet yang memiliki sederet klon seperti IRR-42, IRR-39, IRR-118, BPM-107, BPM-109.

Perlu insentif dari pemerintah untuk mengembangkan industri hilir perkebunan.  Karena hal itu juga akan memperluas lapangan kerja dan memperkuat ekonomi kerakyatan. Sebagai contoh program teknologi industri hilir perkebunan adalah teknologi barang jadi lateks dan karet seperti O-ring atau oil seal untuk permesinan, kapal laut, impeller kapal laut, track shoe, boogie-wheel, tank buffer dan rubber fender dan lain-lain.  Dengan adanya insentif yang tepat, maka industri berbasis karet alam bisa menjalankan rencana strategis perseroan untuk mengintegrasikan model bisnis dari hilir ke hulu. Industri berbasis karet seperti industri ban bisa menggenjot volume produksi ban untuk passenger car radial dan ban bagi motorcycle. Kedua produk tersebut kini tumbuh sekitar 28 persen.

Ilustrasi tanaman Getah Perca (Sumber: Shutterstock)
Ilustrasi tanaman Getah Perca (Sumber: Shutterstock)

Transformasi Perkebunan Getah Perca

Perkebunan karet perlu transformasi sebagian kebunnya dengan tanaman getah perca. Perbedaan utama antara getah perca dan karet alam terletak pada struktur molekulnya. Karet alam memiliki isomer dengan gugus cis yang membuatnya elastis , sedangkan getah perca memiliki gugus trans yang bersifat keras, kaku, dan termoplastik.

Getah perca dihasilkan oleh tanaman dari genus Palaquium (seperti pohon Nyatoh). Sedang karet alam dihasilkan terutama oleh pohon Hevea brasiliensis .Keduanya secara kimiawi merupakan polimer dari isoprena, namun susunan ruang atom karbonnya yang berbeda  menciptakan material dengan karakteristik fungsi yang berlawanan.

Tanaman getah perca masih eksis di Jawa Barat. Tanaman purba dan langka ini dijaga kelestariannya di wilayah Kabupaten Sukabumi, tepatnya di Perkebunan Sukamaju (Cipetir), Kecamatan Cikidang. Kawasan ini dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan menjadi lokasi pembudidayaan tanaman getah perca (Palaquium gutta) terbesar yang masih tersisa.

Tjipetir, Sukabumi merupakan pabrik pengolahan getah perca (gutta-percha) yang menjadi legendaris dunia. Beroperasi sejak tahun 1880-an di bawah pengelolaan pemerintah kolonial Belanda. Produk blok bermerek "Tjipetir" dari tempat ini sangat terkenal di Eropa pada masanya dan digunakan sebagai isolator kabel laut hingga bahan pembuatan bola golf.

Blok "Tjipetir" dari Sukabumi sempat menggemparkan dunia setelah ditemukan terdampar di pantai-pantai Eropa, yang setelah diteliti merupakan muatan dari kapal yang karam.

Kondisi ekonomi global berpengaruh buruk bagi usaha perkebunan khususnya industri berbasis karet alam. Volume ekspor karet alam Indonesia kini menurun karena seretnya produksi. Investasi di sektor itu juga mulai lesu. Dengan kondisi seperti di atas pemerintah dan pengusaha sebaiknya mengambil langkah yang konkrit. Perlunya akselerasi proyek infrastruktur yang terkait dengan industri hilir karet alam. Dan kemungkinan transformasi  tanaman perkebunan.

Patut diberi insentif terhadap PTPN yang telah mengalokasikan ratusan hektar lahan khusus di area Sukamaju demi membudidayakan dan mempertahankan populasi puluhan ribu pohon getah perca agar tidak punah.

Berbeda dengan karet biasa yang getahnya disadap dari batang, ekstraksi getah perca di Cipetir justru diambil dari daunnya. Daun getah perca ini memiliki nilai jual yang sangat mahal karena kualitas termoplastik alaminya yang sangat dibutuhkan oleh industri medis internasional. (-)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arif Minardi
Tentang Arif Minardi
Aktivis Serikat Pekerja

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)