Ayo Netizen

Tsunami Senyap Akhir Tahun yang Dipicu Letusan Gunung Anak Krakatau

Oleh: T Bachtiar
Tsunami senyap terjadi, seperti kendaraan dengan kecepatan tinggi yang ditabrakan ke masa air. (Sumber: Dok. T Bachtiar)

Sejak Juni hingga Oktober 2018, terjadi letusan-letusan Gunung Anak Krakatau. Letusan-letusan itu mengawali dan memberi jalan bagi magma untuk naik lebih tinggi, dan memberikan pertanda awal akan terjadi letusan ke depannya. Letusan bulan Desember 2018 itu bukanlah letusan yang tiba-tiba. 

Peningkatan aktivitas gunung ditandai dengan letusan-letusan yang mengalirkan lava, melontarkan lava pijar, letusan strombolian, letusan kecil sampai sedang yang menghamburkan skoria, lapili, dan bom gunung api. Adanya kenaikan magma dicirikan dengan terjadinya pembengkakan tubuh gunung, dan adanya retakan di lereng gunung, seperti yang terjadi di sisi baratdaya Gunung Anak Krakatau. 

Morfologi dasar laut yang miring, kerena Gunung Anak Krakatau tumbuh di dasar laut, di kedalaman 50 meter, persis di tepian kaldera yang terbentuk pascaletusan Gunung Krakatau 1883. Keadaan ini menyebabkan material letusan dari Gunung Anak Krakatau lebih bertumpuk di sisi barat daya gunung, sehingga bentuk gunung menjadi tidak sama, tidak simetris.

Keidaksimetrisan ini menyebabkan ketidakseimbangan lereng gunung. Lereng sisi baratdaya menjadi sangat curam.Ditambah pemanasan dari dalam tubuh gunung yang terus-menerus tiada henti, menyebabkan material letusan yang bertumpuk itu seperti dikukus, yang memperlemah daya topang tubuh gunung.

Letusan yang terus-menerus sejak Juni hingga Oktober 2018, telah mengubah konduit, pipa saluran magma di bawah permukaan. Proses pendinginan magma di saluran utama, menyebabkan terjadinya penyumbatan yang kuat, sehingga tidak mampu didobrak oleh tekanan letusan. Meningkatnya tekanan dan dorongan magma yang kuat, namun terhambat oleh lava yang meyumbat, maka terjadi pembelokan saluran magma melalui rekahan yang menyamping ke arah barat daya. Terjadilah letusan lateral atau letusan samping, yang menggetarkan lereng gunung secara kuat, sehingga mempengaruhi kestabilannya. 

Puncak ledakan Gunung Anak Krakatau terjadi tanggal 22 Desember 2018, yang diikuti letusan eksplosif terus-menerus hingga 27 Desember 2018. Tinggi gunung sebelum letusan +338 m dpl, dan setelah letusan tinggal +110 m dpl. Volume lereng gunung yang hilang sebanyak 150 juta m3 sampai 180 juta m3. Volume yang tersisa tinggal 40 juta m3 hingga 70 m3. Rona bumi yang terbentuk pascaletusan 2018 sama dengan bentuk Gunung Anakkrakatau pascaletusan tahun 1952. 

Letusan Gunung Anak Krakatau telah memicu tsunami, dapat diumpamakan, ketika hujan deras turun di jalan raya dengan sistem drainase yang buruk, maka air meteorik akan menggenang di ruas jalan yang cekung. Bila kendaraan yang melaju di sana tidak mengurangi kecepatannya, maka masa air yang tergenang akan didorong ke atas dengan cepat. Airnya akan terangkat melimpas ke depan dan ke berbagai arah. 

Letusan lateral Gunung Anak Krakatau 22 Desember 2018, yang melongsorkan sebagian tubuh gunung sisi barat daya sebanyak 300.000.000 meter kubik, dapat diumpamakan sebagai kendaraan yang meluncur sangat cepat. Hanya dalam waktu lima menit, sudah dapat memindahkan material sebanyak itu ke dalam cekungan raksasa di dasar laut dengan dindingnya yang terjal. Luncuran lereng gunung itu menimbulkan gelombang awal yang besar, dengan tinggi sekitar 40 m di sekitar pusat longsoran.

Masa air yang ada dalam cekungan itulah yang didorong oleh material longsoran sebanyak 3 x 108 m3, menyebabkan 24 menit kemudian, tsunami menggelombang ke pantai barat Banten setinggi 90 cm, yang tiba mulai pukul 21.27 WIB. Dan tsunami melanda pantai selatan Lampung mulai pukul 21.40 WIB setelah menjalar selama 37 menit.

Penghancuran lereng sisi barat daya menyebabkan lereng gunung hancur dan roboh. Terjadilah perpindahan masa lereng gunung seluas 0,64 km persegi, meluncur dengan cepat ke cekungan berdinding terjal secara gravitasi. Cekungan itu merupakan kaldera yang terbentuk pascaletusan 1883. Diameternya sekitar 7 km, dengan bagian terdalam mencapai 250 m. 

Dari dalam kaldera 1883 itulah lahir Gunung Anak Krakatau, yang pada Desember 2018 meletus secara lateral, yang menyebabkan pusat letusan atau lubang kawahnya berada di dalam laut. Letusan-letusan terus terjadi, dan kerucut Gunung Anak Krakatau mulai tumbuh kembali membangun dirinya di dalam kawah berbentuk tapal kuda. 

Bahaya tsunami karena letusan Gunung Anak Krakatau yang meruntuhkan lereng gunung sisi barat daya, sudah diperkirakan sejak lama. Tsunami sangat membahayakan, karena sepanjang pesisir barat Banten dan sepanjang pesisir selatan Lampung, sudah dihuni banyak orang. Demikian juga yang tinggal di pulau-pulau kecil di Selat Sunda, seperti di Pulau Legundi, Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, Pulau Serdang, dan Pulau Sangeang.

Di laut dalam, tsunami menjalar sangat cepat, tapi tinggi gelombangnya tampak biasa. Saat tsunami menghantam perairan dangkal di sepanjang pesisir, akan menghambat kecepatannya, sehingga turun secara drastis. Sebaliknya, energi yang tertekan akan mendorong air laut ke atas, membentuk dinding gelombang yang tinggi, lalu jatuh menghujam daratan, menjadi banjir besar yang melanda ke berbagai arah. 

Tsunami Selat Sunda yang terjadi akhir tahun 2018, disebut sebagai tsunami senyap. Tsunami yang tidak didahului oleh gempa tektonik yang berpusat di zona penunjaman, di dasar Samudra Hindia. Tsunami ini dipicu oleh lereng gunung yang longsor dengan volume yang sangat besar, yang menghujam seketika ke dalam air. Gejala alam seperti ini bisa juga terjadi karena adanya longsor bawah laut. Masa batuan meluncur dengan kecepatan yang sangat tinggi (landslide generated tsunami), menyebabkan massa air laut terdorong ke atas, kemudian terpental secara tiba-tiba, menjadi tsunami yang menyebar ke berbagai arah.

Kawasan pesisir Selat Sunda, baik di sisi barat Banten maupun di sisi selatan Lampung, saat ini sudah sangat padat penduduk dan padat investasi. Tsunami senyap 2018 telah menelan banyak korban, baik di Banten maupun di Lampung. 437 orang meninggal dunia, 16 orang dinyatakan hilang, 14.059 orang luka-luka, dan 33.724 orang mengungsi. Rumah yang rusak diterjang tsunami sebanyak 2.752 unit, penginapan dan warung makan rusak 92 unit, perahu dan kapal rusak 510 unit, dan kendaraan rusak 147 unit.  

Dalam catatan sejarah, letusan Gunung Krakatau 1883 menimbulkan tsunami setinggi 30 m, memporak-porandakan pantai Banten dan pantai Lampung. Bencana itu menelan korban jiwa sebanyak 21.565 orang di Banten, 12.565 orang di Lampung, 3.000 orang di Pulau Sebesi, dan 2.350 orang di Jakarta. 

Tragedi kemanusiaan ini dapat menjadi pembelajaran, karena letusan gunungapi, gempa bumi, dan tsunami akan terus berulang di Indonesia. Siapkah kita untuk melakukan mitigasi agar tragedinya tidak berulang? (*)

Reporter T Bachtiar
Editor Aris Abdulsalam