Katanya perempuan itu lebih lemah daripada laki-laki? Jika kita berbicara soal menahan rasa sakit fisik, sains justru mengungkap fakta yang mengejutkan bahwa perempuan itu lebih kuat daripada laki-laki.
Sebuah studi ilmiah terbaru membuktikan bahwa otak laki-laki ternyata jauh lebih sensitif dalam merespons rasa sakit yang berulang dibandingkan dengan perempuan. Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Fenomena medis ini bukan sekadar opini belaka. Perbedaan ketahanan ini berakar pada bagaimana sistem saraf pusat dan memori jangka panjang yang dapat merekam penderitaan fisik, di mana tubuh perempuan terbukti memiliki mekanisme proteksi yang jauh lebih superior dalam bertahan hidup.
Rahasia di Balik Memori Rasa Sakit dan Stres Antisipasi
Perbedaan kekuatan tersebut bukan terletak pada kekuatan otot, melainkan pada cara otak laki-laki dan perempuan merekam memori masa lalu. Berdasarkan studi penelitian yang dipelopori oleh McGill University Kanada dan University of Toronto, ditemukan bahwa laki-laki memiliki ingatan yang sangat kuat dan mendalam terhadap rasa sakit yang pernah mereka alami.
Dalam laporan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal internasional Current Biology, tim periset melakukan sebuah eksperimen dengan menempatkan subjek manusia dan tikus ke dalam lingkungan yang sebelumnya dihubungkan dengan rasa sakit. Ketika seorang laki-laki dihadapkan kembali pada stimulus atau berada di lingkungan sumber rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya, otak mereka secara otomatis mengalami stres antisipasi.
Laki-laki menjadi sangat cemas dan mengalami trauma memori. Lonjakan hormon stres ini secara otomatis mendongkrak intensitas sistem saraf mereka, sehingga membuat rasa sakit yang dirasakan menjadi berkali-kali lipat lebih perih dibandingkan sebelumnya.
Sebaliknya, otak perempuan justru memiliki kemampuan unik untuk memproses memori rasa sakit melalui jalur sistem saraf yang berbeda dari laki-laki, sehingga mereka tidak mengembangkan hipersensitivitas stres ketika kembali ke lingkungan yang sama. Akibatnya, saat merasakan sakit yang berulang di tempat yang sama, perempuan tidak mengalami stres antisipasi yang berlebihan dan bisa menghadapinya dengan jauh lebih tenang.
Dirancang untuk Bertahan pada Nyeri Jangka Panjang
Secara struktur biologis, tubuh perempuan memang dirancang untuk kondisi bertahan hidup yang luar biasa tangguh. Fenomena ini paling jelas terlihat dalam proses persalinan.
Saat melahirkan, tubuh perempuan mengalami lonjakan ekstrem terhadap hormon estrogen dan penurunan drastis progesteron. Kondisi hormonal ini memicu fenomena medis yang disebut Pregnancy-Induced Analgesia atau sistem mati rasa alami. Menurut ulasan ilmiah dari Women in Neuroscience UK, kadar estrogen yang tinggi bekerja aktif untuk memblokir sinyal nyeri di sumsum tulang belakang dan menstimulasi produksi hormon oksitosin dan beta-endorfin dalam jumlah sangat banyak. Senyawa kimia pembawa rasa bahagia ini berfungsi sebagai obat antinyeri alami untuk membantu mereka menahan rasa sakit luar biasa yang bila diibaratkan setara dengan patah tulang secara bersamaan.
Selain itu, fluktuasi hormon bulanan saat menstruasi juga secara tidak langsung terus "melatih" sistem saraf perempuan. Hal ini membantu rahim dan jaringan saraf perifer membentengi diri, membangun toleransi yang tinggi terhadap nyeri kronis jangka panjang.
Mengubah Pandangan Keliru di Masyarakat
Meskipun dalam uji coba laboratorium laki-laki sering kali memiliki ambang batas yang lebih tinggi terhadap sengatan rasa sakit spontan yang singkat seperti cubitan kecil, namun dalam hal menoleransi penderitaan nyeri yang hebat dan berkelanjutan (pain tolerance), perempuan adalah pemenangnya. Laki-laki mungkin unggul dalam menahan kejut nyeri instan, tetapi sistem saraf mereka cepat menyerah ketika dihadapkan pada rasa sakit yang konstan dan berulang.
Fakta ilmiah ini sekaligus mematahkan anggapan keliru bahwa perempuan adalah kaum yang lemah. Di balik kelembutan fisiknya, sistem saraf, hormonal, dan biologis perempuan justru menyimpan kekuatan super yang membuat mereka jauh lebih tegar dalam menahan rasa sakit fisik demi keberlangsungan hidup peradaban manusia. (*)
Referensi:
https://www.mcgill.ca/newsroom/channels/news/men-and-women-remember-pain-differently-293050
https://www.cell.com/current-biology/fulltext/S0960-9822(18)31496-9
https://www.womeninneuroscienceuk.org/post/does-it-hurt-more-being-a-woman-understanding-sex-differences-in-pain-perception