Ayo Netizen

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Oleh: Kathryn Nauli Magdalena Siregar Sormin
Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)

Tari Pendet bukanlah sekedar tarian yang memiliki estetika Bali yang dapat mudah memikat perhatian banyak kalangan masyarakat luas. Tari Pendet merupakan tarian yang memiliki unsur ritual sakral yang berdasarkan akar teologi keagamaan Hindu. Dasar tarian ini diciptakan sebagai bentuk persembahan kepada para dewata yang datang ke bumi (Sang Hyang Widhi Wasa).

Tarian ini oleh 4 penari perempuan dengan busana dan perabotan yang cukup sederhana namun indah untuk dipandang. Iringan musik yang mendukung keindahan tarian ini membuat Tari Pendet semakin menarik lagi untuk diketahui oleh dunia global. Semenjak era globalisasi, tarian ini dijadikan sebuah hiburan bagi para tamu atau wisatawan yang berdatangan ke Bali dan tarian ini sampai sekarang dikenal oleh masyarakat luas, baik dalam negeri maupun negara asing.

Tari Pendet merupakan tari tradisional Bali yang dapat dibilang cukup tua umurnya. Tari ini diciptakan sekitar tahun 1950-1967 oleh salah satu seniman berasal dari Bali bernama I Wayan Rindi. Beliau yang mempunyai penguasaan dalam menciptakan seluruh gerakan tariannya (Cipta Anggra, 2018).

Tarian ini tidak dapat terpisahkan dari kehidupan spiritual masyarakat Hindu di Bali karena tarian ini ditampilkan sebagai sebuah pelengkap di dalam upacara-upacara yang sakral seperti piodalan yang dilaksanakan di dalam pura-pura atau tempat suci keluarga sebagai ungkapan rasa syukur dan juga sukacita atas kedatangan para dewata yang telah turun dari kayangan ke Bumi (Liputan6, 2024).

Tari Pendet ini dilakukan oleh 4 orang perempuan dengan busana kemben merah emas. Kemben merah emas yang digunakan melambangkan api suci/teja dan emasnya melambangkan kemakmuran ilahi. Mereka juga menggunakan sebuah kain panjang yang berwarna hijau dengan motif crap-crap yang disebut tapih. Dibagian pinggang mereka, dikenakan sabuk prada yang berwarna emas untuk mengencangkan kemben dan juga tapih yang mereka gunakan. Ada juga selendang yang ditaruh di pinggang mereka dan dibiarkan menjuntai begitu saja.

Tentunya mereka juga menggunakan aksesoris sebagai perhiasan yang membuat semakin indah kostum para penari. Mulai dari bagian kepala, mereka mengenakan bancangan (hiasan yang berbentuk mahkota) dan bunga (hiasan rambut berupa kamboja, mawar, dan jepun). Di bagian pergelangan tangan, mereka mengenakan gelang yang bernama gelang kana. Mereka juga menggunakan anting-anting tradisional Bali yang bernama subeng.

Para penari juga menggunakan peralatan seperti membawa bokor yang berisi canang sari, aneka bunga, dan kwangen sebagai pelengkap ritual. Sebagian diantaranya juga membawa berbagai peralatan upacara yang sakral seperti sangku, kendi, serta pasepan untuk mendukung kekhidmatan prosesi tersebut. Tarian ini dipandu oleh seorang pemangku/pemimpin upacara yang membawa pasepan (wadah pendupaan berisi kemenyan) yang akan dibakar untuk menyucikan suasana upacara (Cipta Anggara, 2018).

Iringan musik merupakan komponen yang sangat penting di dalam sebuah tarian karena dapat menentukan tempo dan dinamika setiap gerakan yang dilakukan oleh para penari. Iringan alat musik yang digunakan dalam Tari Pendet adalah gamelan Bali, gong kebyar, gendang, gangsa, reyong, suling, ceng-ceng, dan juga kajar. Setiap tempo yang dimainkan dalam tarian ini sangat bervariasi menyesuaikan bagian-bagian di dalam tarian tersebut, kadang lambat dan kadang cepat juga.

Komposisi tempo iringan musik terdapat bagian-bagiannya, yaitu pengawit (bagian pembuka dengan tempo irama yang lambat), pengentrag 1 (bagian tempo yang lebih cepat), pengadeg (bagian pertengahan dengan tempo yang lambat), dan pengentrag 2 (bagian akhir dengan irama cepat dan juga keras).

Gerakan dalam tarian ini sangatlah bervariasi dan memiliki banyak sekali makna yang mendalam, dari gerakan tangan hingga gerakan kakinya. Makna-makna tersebut tentunya tidak jauh dari ajaran keagamaan teologi Hindu Bali dan juga sosial masyarakat Bali. Ada gerakan yang paling unik dalam Tari Pendet adalah gerakan nyeregseg, yaitu gerakan melangkah kecil dengan posisi kaki yang ditekuk.

Gerakan ini melambangkan nilai kerendahan hati, kesantunan, dan juga wujud penghormatan yang tulus kepada para dewa dan sesama manusia. Selain itu, ada juga gerakan ngumbang, yaitu gerakan memutar tubuh dengan halus yang melambangkan keharmonisan dan keseimbangan dalam menjalani kehidupan. Pola gerakan tangan dalam Tari Pendet juga mengandung makna spiritual yang mendalam, seperti gerakan ulap-ulap yang menyimbolkan penyambutan dan rasa hormat, serta gerakan nyelip yang merepresentasikan sisi estetika dan keanggunan seorang penari (Media Indonesia, 2025).

Selain variasi gerakan tubuh, ekspresi wajah atau seledet juga merupakan komponen yang penting di dalam pementasan Tari Pendet. Para penari diwajibkan untuk tampil dengan aura yang ceria, ramah, serta penuh dengan sukacita yang mendalam. Ekspresi tersebut melambangkan rasa semangat kebersamaan dan rasa syukur dalam menyambut kedatangan tamu maupun saat merayakan prosesi upacara suci.

Ada dua seniman, bernama I Wayan Rindi dan Ni Ketut Rendeng yang memasukkan suatu unsur yang membuat Tari Pendet menjadi populer di era modern. Dua seniman tersebut mengembangkan tarian ini, dari awalnya hanya untuk upacara yang bersifat sakral menjadi tarian pertunjukkan kepariwisataan di hotel hingga di bandara bagi para tamu asing yang berdatangan. Tari Pendet juga menjadi tarian pembukaan di berbagai pertunjukkan tari-tarian Bali. Tari Pendet ini juga pernah ditampilkan sebagai bentuk penyambutan di acara Asian Games pada tahun 1962 secara perdana, yang dibuka oleh Presiden Soekarno pada masa itu (Detik Bali, Delweys Octoria, 2022).

Namun, seiring perkembangannya zaman Tari Pendet ini banyak mengandung unsur (akrobatik hingga iringan musik elektronik) yang bertentangan dengan aturan desakala (ketepatan waktu dan tempat) yang sangat dijunjung tinggi dalam akar tradisi spiritual keagamaan Hindu.

Beberapa komunitas masyarakat Bali, seperti lembaga Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) ingin mendorong dan mengadakan pelatihan di berbagai institusi pendidikan seni, salah satunya ISI Denpasar. Tindakan tersebut diambil sebagai wujud pelestarian Tari Pendet sebagai bagian dari warisan budaya dunia di bawah perlindungan UNESCO. Pengakuan resmi sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity sendiri telah dicantumkan pada tarian ini sejak tahun 2015.

Dari Tari Pendet kita mendapatkan pelajaran yang berharga mengenai keberadaan keseimbangan antara warisan tradisi dan tuntutan modernitas. Di tengah arusnya era globalisasi, tarian ini menjadi peringatan yang krusial bagi kita akan pentingnya dalam memelihara akar spiritual keagamaan Hindu Bali, yang bukan sekadar memperkuat identitas lokal tetapi juga memberikan kontribusi terhadap kekayaan ragam budaya di era global sekarang. Melalui pendekatan yang cukup intens, Tari Pendet mampu berkembang menjadi penghubung antara masa lampau dan masa depan untuk memastikan aliran ritual sakralnya yang mengalir.

Tari Pendet merupakan salah satu budaya tradisional  Indonesia yang dikenal oleh banyak orang dan keberagaman budaya yang indah. Gerakan, kostum, perhiasan, hingga iringan musik yang digunakan untuk menyempurnakan tarian ini memiliki makna yang mendalam berdasarkan keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat Hindu Bali, yang dapat dijadikan juga pembelajaran bagi mereka untuk dapat hidup dalam ketentraman dan damai antara manusia dengan para dewata.

Tari Pendet ini juga banyak berkembang mengikuti alur zaman, awalnya sebagai bentuk persembahan terhadap para dewa dan sekarang juga digunakan sebagai penyambutan dan penghormatan terhadap para tamu-tamu yang berdatangan. Walaupun tarian ini banyak mengalami ancaman dikarenakan era modernisasi, banyak sekali masyarakat yang turun tangan secepatnya untuk dapat membuat sebuah kegiatan untuk membantu pelestarian Tari Pendet tersebut.

TAGS:
Reporter Kathryn Nauli Magdalena Siregar Sormin
Editor Aris Abdulsalam