Ayo Netizen

Kebugaranmu kok Hanya FOMO?

Oleh: Veronika
Olahraga padel. (Sumber: Pexels | Foto: Diana Scala)

FOMO yang lebih banyak dikenal masyarakat adalah ikut-ikutan supaya tidak ketinggalan yang sedang tren. Apakah Anda pernah ada di fase FOMO olahraga? Kapan terakhir kali Anda berolahraga? Apa alasan terbesar Anda memilih jenis olahraga untuk dilakukan? Zumba, lari, gowes, dan padel termasuk pilihan olahraga yang hadir sebagai tren di masyarakat.

Sebelum pandemi, olahraga berbasis komunitas seperti zumba dan lari adalah olahraga yang menjadi pilihan favorit masyarakat. Tak ayal berbagai event olahraga komunitas pun menjadi hal yang diikuti masyarakat, salah satu diantaranya color run. Saat pandemi menggerogoti seluruh belahan bumi, di mana ada pembatasan kerumunan, minat masyarakat mengubah arah tren olahraga lebih personal seperti gowes. Paska pandemi tren olahraga kembali marak, ditambah lagi peran influencer banyak membuat konten aktif berkegiatan olahraga.

Menurut data tahun 2023 dari Indonesia Running Club, tren jenis olahraga berbanding lurus dengan minat olahraga masyarakat sebanyak 68% pelari di Jakarta dan Bandung berlari karena tren di media sosial. Di mana masyarakat terdeteksi fomo terhadap jenis olahraga sesuai tren. Begitu juga dengan padel yang hype sejak akhir tahun 2025.

Bak koin memiliki 2 sisi, begitu juga dengan olahraga. Ketika kebermanfaatan olahraga tidak optimal dan tidak melekat dalam jangka panjang bagi masyarakat, lantas apa yang didapat? Apakah hanya sekedar menambahkan galeri foto berbagai komunitas olahraga? Apakah hanya sekedar mengoleksi alat-alat pendukung olahraga yang padahal banyak jenis olahraga yang tidak membutuhkan alat bantu seharga fantastis? Atau segudang manfaat yang akan didapat dengan membangun motivasi dan konsistensi dalam berolahraga?

Konsistensi dalam aktivitas olahraga memberikan berbagai manfaat, diantaranya bagi kesehatan tubuh dan mental serta kebugaran dalam melakukan banyak kegiatan produktif yang berkualitas. Saat berolahraga maka akan terjadi pelepasan hormon endorfin, dopamin, dan serotonin yang akan membuat suasana hati bahagia, positive vibes, dan mengurangi stres . Dan juga dengan tubuh yang bugar maka Anda mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan semangat, tidak mudah lelah, dan tubuh berfungsi secara optimal.

Olahraga hyrox. (Sumber: universe.roboflow.com)

Pilihlah olahraga yang sesuai minat, kebutuhan, dan gaya hidup. Jangan lupa, menjaga kesehatan bukan soal ikut tren semata, tapi perlu disesuaikan dengan kapasitas individu dan komitmen untuk diri sendiri. Perihal kapasitas individu adalah hal yang harus menjadi filter utama dalam memilih olahraga yang akan dilakukan. Dengan adanya kondisi fisik tertentu di tiap orang, maka olahraga yang dipilih sangat dianjurkan untuk disesuaikan. Seperti kasus low back pain dengan keluhan nyeri area punggung bagian bawah, untuk olahraga lari dan sepeda perlu dihindari terutama saat kondisi nyeri akut. Beberapa olahraga pilihan untuk penderita low back pain adalah renang, sepeda statis, dan pilates.

Komposisi tubuh dalam berat badan dan usia tiap individu juga berdampak dalam pemilihan olahraga yang tepat. Begitu juga faktor usia berperan pada pemilihan olahraga yang tepat. Ada kekhawatiran soal cedera bagi lansia dalam olahraga tertentu sehingga dianjurkan memilih olahraga yang ringan dan aman. Begitu juga anak berusia di bawah 17 tahun yang tidak dianjurkan memilih olahraga angkat beban berlebihan karena akan mengganggu proses pertumbuhan tinggi badan anak. Komitmen untuk diri sendiri dalam memilih olahraga juga berperan besar terhadap kebermanfaatan olahraga tersebut. Kok bisa-bisanya karena tren tertentu memaksa tubuh Anda melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan kapasitas tubuh Anda sehingga bukannya manfaat baik yang didapatkan tapi malah dampak buruk.

Begitu juga ketika memilih olahraga hanya karena FOMO dan sekedar mengeluarkan keringat, maka manfaat kebugarannya pun cenderung terlewatkan. Di dalam komitmen dibutuhkan konsistensi. Seperti saat menurunnya tren gowes, maka konsistensi olahraga gowes pun menurun yang pada akhirnya menggantungkan sepeda. Lantas penurunan kebugaran tubuh pun menjadi taruhan sebagai dampak dari FOMO tren gowes. Ditambah lagi jika pada akhirnya sepeda hanya dijadikan pajangan atau tersimpan di gudang begitu saja.

Perlu diingat kembali, kebugaran tubuh perlu dirawat berkelanjutan dan bukan hanya sekedar pernah merawat. Dalam konsistensi melakukan olahraga secara rutin 3-4 kali dalam seminggu, maka banyak manfaat kebugaran yang didapat. Apakah banyak manfaat manfaat yang diurai di atas bisa terjaga dan terawat karena sekedar FOMO? Tentu tidak! Komitmen dan konsistensi adalah kunci. Mari perkuat otot dan persendian, tingkatkan stamina, dan lancarkan metabolisme tubuh lewat konsisten berolahragan. Dan dari sekarang pilihlah olahraga yang secara manfaat bisa berdampak bagi perawatan jangka panjang untuk tubuh Anda. Lawan fomo, aktifkan kebugaranmu! (*)

Reporter Veronika
Editor Aris Abdulsalam