Saya ingin membuka tulisan ini, dengan mengutip sebuah hadis dari Rasulullah saw. Tentang menghormati orangtua. Bahwa ibu disebutkan 3 kali, dan ayah disebutkan 1 kali setelah ibu. Hadis ini menunjukkan tentang konteks penghormatan yang lebih besar kepada ibu dibandingkan ayah. Karena ibu dianggap memiliki peran yang amat vital dan penting dalam menemani tumbuh kembang anak, ibu menjadi sekolah pertama bagi anak, yang tentunya memiliki peran yang menentukan, bagaimana kelak anak akan tumbuh dan menjalani hidupnya dengan baik, atau malah terjerumus dalam kegelapan tak bertepi.
Namun tentu saja seharusnya peran untuk membimbing, membesarkan, dan mendidik anak ini, tidak hanya berada di pundak ibu, ia tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu semata. Tapi ada sosok ayah di sana. Dalam sebuah keluarga, sosok ayah sangat penting untuk membantu tumbuh kembang anak yang ideal. Sebuah keluarga tanpa sosok ayah tentu saja akan mengalami kekosongan tersendiri di dalam jiwa anak. Entah itu untuk anak laki-laki terlebih anak perempuan. Padahal peran ayah yang ideal adalah kehadiran dia di dalam keluarga tersebut, untuk melindungi, mengayomi, membimbing, menjadi tauladan, memberi rasa aman dan nyaman bagi keluarga tersebut, khususnya bagi anak.
Namun di era modern ini, apalagi ditambah dengan sistem patriarki yang mengakar kuat dalam kebudayaan kita, ternyata peran ayah dipandang hanya sebatas menjadi sosok pencari nafkah keluarga saja, dan untuk mengurus anak biasanya peran ini diberikan kepada ibunya. Kepada perempuan. Pembagian peran ini sekilas tentu saja terlihat ideal, bagus dan memang semestinya begitu, namun bukankah sudah seharusnya orang tua memberikan peran yang lengkap kepada anaknya, entah itu dari pihak ibu maupun dari pihak ayah.
Perlu diingat sosok ayah juga tak kalah penting untuk membentuk karakter dan kognisi anak, karen peran ayah ini juga memegang peran kunci dalam pembentukan karakter anak tersebut. Namun seringkali peran ayah ini terkendala oleh tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga yang mencari nafkah, sampai lupa bahwa sebenarnya ia juga memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang saa untuk mendidik, membimbing, dan menemani tumbuh kembang anak-anaknya.
Anak yang fatherless atau kurang peranan ayah/ tidak memiliki sosok ayah di dalam hidupnya, jiwanya sangat rentan. Menurut data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) Maret 2024 menunjukkan sekitar 15,9 juta anak Indonesia (20,1%) mengalami fatherless. Angka ini mencakup 4,4 juta anak yang tidak tinggal bersama ayah dan 11,5 juta anak yang tinggal bersama ayah tetapi ayahnya memiliki jam kerja sangat tinggi (lebih dari 60 jam/minggu). Sebuah laporan dari UNICEF tahun 2021 juga menunjukkan sekitar 20,9% anak Indonesia mengalami fatherless. Lalu apa dampak atau akibat dari anak-anak fatherless ini, anak-anak yang tidak memiliki sosok ayah dalam hidupnya? Akan banyak hal yang akan dialami oleh anak yang tumbuh tanpa sosok ayah atau fatherless ini. Jiwa mereka akan menjadi rentan, gangguan emosional yang tidak stabil, kesepian, gangguan kecemasan, depresi, rasa tidak aman, kenakalan remaja, dan yang paling parah adalah mereka akan menjadi pribadi yang rendah diri, tidak percaya diri. Karena mereka tidak memiliki sosok atau role model seseorang yang bisa menjadi teladan dalam hidupnya, dan ini tentu saja memicu kekosongan sosok hero yang baik dan bertanggung jawab dalam jiwanya. Sehingga anak akan tumbuh tanpa memiliki perasaan itu, dan sulit untuk mengambil keputusan di saat-saat paling kritis dalam hidupnya.
Sosok ayah seharusnya juga memegang peran pendidik yang sama pentingnya dengan seorang ibu. Seorang ibu memang menjadi madrasah nomor satu bagi anak, namun jangan lupa sosok ayah adalah kepala madrasah tersebut, dan ia juga seharusnya memainkan peran yang sama pentingnya dalam proses tumbuh kembang anak, agar anak tersebut tumbuh menjadi pribadi yang baik, berkarakter, dan bisa mengambil keputusan dengan tepat ketika kelak ia dewasa, sehingga diharapkan ia tidak akan kekurangan sosok teladan dalam hidupnya. Karena seperti pepatah mengatakan bahwa buah tak jauh jatuh dari pohonnya, maka suri teladan ayah dan kenangan yang diberikan sosok ayah kepada anaknya, pasti akan sangat membekas dan berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak secara lahir maupun batinnya di masa depan.
Maka peran ayah dalam mendidik anak, membimbing anak, ini sama pentingnya dengan peran ibu, dan tugas ini seharusnya tidak bisa dilakukan hanya seorang diri. Karena tugas mendidik anak ini diperlukan kerjasama yang baik antara ayah dan ibu. Bukankah itu yang dinamakan dengan keluarga, sebagai rumah tangga yang ideal?
Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya, sebagai kepala keluarga juga sebagai kepala madrasah bagi anak-anaknya. Sosok ayah yang meskipun hanya disebut satu kali di dalam hadis rasulullah tentang bakti kepada orang tua, tapi hal itu tidak mengurangi peran penting seorang ayah dalam sebuah keluarga. Peran pentingnya dalam menemani tumbuh kembang anak.

Kerja sama yang baik antara ayah dan ibu ini menjadi pilar penting dalam membentuk karakter anak, dan pembentukan karakter anak ini akan berpengaruh terhadap perkembangan peradaban sebuah bangsa dan negara. Karena pembangunan karakter bangsa itu pada dasarnya diawali dari rumah, dari keluarga terkecil dalam sebuah rumah tangga. Keluarga menjadi salah satu pilar yang akan membentuk sebuah bangsa menjadi bangsa yang besar atau malah akan melahirkan bangsa pecundang. Jadi jangan remehkan peran keluarga dalam pembentukan kebudayaan dan peradaban sebuah bangsa. Dan ini harus diawali dari peran yang seimbang antara ayah dan ibu untuk mendidik, mebimbing, dan menggali potensi anak secara optimal.
Peran ayah di sini tidak lagi dipandang sebagai sosok yang hanya memenuhi kebutuhan secara finansial semata, tapi juga harus bisa memenuhi kebutuhan batin dan jiwa dari sang anak. Sosok ayah harus memberikan kesan dan suri tauladan yang baik bagi anak, karena anak adalah seorang peniru ulung, mereka adalah seorang pengkopi andal jika menyangkut dengan meniru perilaku orangtuanya.
Mendidik, membimbing, menemani tumbuh kembang, dan mengoptimalkan bakat anak adalah tanggung jawab bersama, dan di sini kita jadi menyadari bahwa memang tidak mudah menjadi orangtua. Diperlukan kerja sama dan komunikasi yang baik antara ayah dan ibu dalam membina, mendidik, dan mengembangkan karakter dan potensi anak. Maka di sinilah kedua orang tua harus memainkan peran yang sama pentingnya. Ayah harus mengambil bagian dalam mengurus dan menemani anak bermain dan belajar, ini tidak hanya berpengaruh terhadap pertumbuhan secara fisik dan kognisi anak tapi juga terhadap sisi psikologisnya. Lalu ibu juga harus bekerja sama, dan menjadi partner yang baik bagi ayah untuk bersama melihat dan mengawasi tumbuh kembang anak di setiap harinya. Agar nantinya akan terlahir keluarga sakinah, mawaddah, dan rohmah. Disertai dengan keturunan yang saleh, saleha. Seorang anak yang berkarakter, cerdas, berbudi luhur, berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. (*)