Ayo Netizen

Tubuh sebagai Prioritas: Kausalitas Pandemi Covid-19 dan Kebangkitan Tren Fitness di Kalangan Anak Muda

Oleh: Pajar Dwi Sanjaya
Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran anak muda terhadap pentingnya kesehatan tubuh. (Sumber: Pexels | Foto: Marta Nogueira)

Pandemi Covid-19 dapat dikatakan menjadi salah satu peristiwa global yang mengubah cara masyarakat memaknai kesehatan dan kebugaran. Berbagai kebijakan pembatasan aktivitas yang diterapkan di banyak negara, termasuk Indonesia, peristiwa ini membuat instansi pendidikan, ruang publik, dan fasilitas olahraga berhenti beroperasi untuk sementara. Situasi tersebut mendorong masyarakat untuk beradaptasi dengan pola hidup yang nyaris seluruhnya berpusat di rumah. Pada saat yang sama, kesadaran akan pentingnya kesehatan tumbuh semakin kuat. Tubuh tidak lagi dipandang sekadar sebagai penunjang aktivitas sehari-hari, melainkan sebagai modal utama untuk menghadapi ketidakpastian yang dibawa oleh pandemi.

Perubahan cara pandang tersebut kemudian tercermin dalam meningkatnya perhatian terhadap gaya hidup sehat. Menjaga kesehatan tidak lagi diposisikan sebagai sekadar anjuran, tetapi menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari. Kondisi fisik yang baik berpengaruh terhadap produktivitas, daya tahan tubuh, kemampuan berpikir, hingga kualitas hidup secara keseluruhan. Untuk mencapainya, terdapat tiga fondasi utama yang saling berkaitan, yaitu pola makan bergizi, pemenuhan nutrisi yang memadai, serta aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin.

Di antara ketiga komponen tersebut, aktivitas fisik masih menjadi aspek yang paling sering terabaikan. Kemajuan teknologi digital memang mempermudah berbagai aktivitas, tetapi pada saat yang sama juga mengurangi kebutuhan masyarakat untuk bergerak. Berbagai pekerjaan, transaksi, hingga hiburan kini dapat diakses melalui perangkat digital tanpa harus meninggalkan rumah. Perubahan ini secara perlahan membentuk pola hidup sedentari yang ditandai dengan meningkatnya durasi duduk dalam waktu lama. Dengan kata lain, persoalan rendahnya aktivitas fisik telah muncul jauh sebelum pandemi Covid-19 dan berkembang seiring perubahan gaya hidup masyarakat kontemporer.

Pentingnya aktivitas fisik juga tercermin dalam rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO (World Health Organization). WHO menganjurkan agar anak dan remaja berusia 10 hingga 18 tahun melakukan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga berat selama sedikitnya 60 menit setiap hari. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut berkontribusi dalam menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes, hingga obesitas.

Sayangnya, rekomendasi tersebut belum sepenuhnya tercermin pada kondisi di Indonesia. Penelitian dari Laily Hanifah berjudul Sedentary Behavior and Lack of Physical Activity among Children in Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 57 persen anak Indonesia belum memenuhi standar aktivitas fisik yang direkomendasikan. Bahkan, kondisi tersebut relatif tidak mengalami perubahan yang berarti sepanjang periode 2007 hingga 2018. Temuan ini mengindikasikan bahwa rendahnya aktivitas fisik merupakan persoalan yang telah berlangsung cukup lama sehingga pandemi Covid-19 bukan menjadi penyebab utama, melainkan memperlihatkan sekaligus memperkuat masalah yang sudah ada sebelumnya.

Rendahnya tingkat aktivitas fisik yang telah berlangsung sebelum pandemi kemudian menghadapi tantangan yang lebih besar ketika Pandemi Covid-19 tersebut melanda. Untuk menekan laju penyebaran virus, Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada awal 2020 yang kemudian dilanjutkan melalui Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) hingga Mei 2022. Kebijakan tersebut membatasi akses masyarakat terhadap sekolah, fasilitas olahraga, serta berbagai ruang publik yang selama ini menjadi tempat berlangsungnya aktivitas fisik. Perubahan ini mendorong masyarakat untuk menyesuaikan kembali rutinitas hariannya di tengah berbagai keterbatasan.

Perubahan pola hidup tersebut tidak hanya memengaruhi aktivitas sehari-hari, tetapi juga kondisi psikologis masyarakat. Sebagaimana dijelaskan oleh media The Conversation, banyak individu mulai membangun rutinitas harian sebagai cara untuk menjaga stabilitas emosional sekaligus mengurangi kecemasan selama menjalani isolasi dan pembatasan sosial. Aktivitas fisik kemudian menjadi salah satu bentuk rutinitas yang relatif mudah dilakukan dan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

Keterbatasan akses terhadap fasilitas kebugaran ternyata tidak menghentikan masyarakat untuk tetap berolahraga. Sebaliknya, berbagai platform digital seperti YouTube, Instagram, dan TikTok mulai dimanfaatkan sebagai media latihan mandiri dari rumah. Konten kebugaran yang sebelumnya hanya menjadi pelengkap perlahan berubah menjadi salah satu sumber utama informasi mengenai olahraga, mulai dari latihan beban, latihan kardio, yoga, hingga program kebugaran tanpa peralatan.

Perubahan tersebut sejalan dengan temuan Vancini dan tim penelitinya dalam jurnal berjudul "YouTube as a Source of Information About Physical Exercise During COVID-19 Outbreak". Penelitian tersebut menunjukkan bahwa media sosial berperan penting sebagai sarana promosi aktivitas fisik karena mampu meningkatkan motivasi, keterlibatan, serta minat masyarakat untuk menjalani gaya hidup yang lebih aktif. Platform digital tidak lagi berfungsi sekadar sebagai ruang berbagi informasi, tetapi juga berkembang menjadi media edukasi kebugaran yang memungkinkan masyarakat tetap berolahraga meskipun berada di tengah pembatasan aktivitas.

Ilustrasi alat-alat fitnes. (Sumber: Pexels | Foto: Arturo EG)

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan berolahraga dari rumah tidak lagi sekadar menjadi respons terhadap situasi pandemi. Aktivitas tersebut perlahan berkembang menjadi bagian dari gaya hidup yang menempatkan kesehatan sebagai investasi jangka panjang. Dalam konteks ini, pandemi dapat dipahami sebagai titik balik yang mempercepat tumbuhnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebugaran. Aktivitas fisik kini tidak lagi dipandang sebagai pilihan yang dapat ditunda, melainkan sebagai kebutuhan yang berkontribusi terhadap kesehatan fisik maupun mental.

Perubahan cara pandang terhadap pentingnya aktivitas fisik tidak berhenti pada kebiasaan berolahraga dari rumah. Seiring meredanya pandemi, kesadaran tersebut juga mengubah cara masyarakat memanfaatkan berbagai fasilitas kebugaran, terutama gym. Jika sebelumnya gym lebih sering diasosiasikan sebagai tempat latihan beban atau pembentukan tubuh, kini fasilitas tersebut semakin dipahami sebagai bagian dari ekosistem yang mendukung gaya hidup sehat.

Perubahan cara pandang tersebut juga sejalan dengan perkembangan makna gym itu sendiri. Secara etimologis, istilah gym berasal dari kata Yunani Kuno gymnasium, yaitu tempat yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan fisik sekaligus intelektual. Dalam perkembangannya, gym modern tidak lagi terbatas pada fasilitas latihan beban, tetapi juga mengakomodasi berbagai aktivitas kebugaran seperti aerobik, yoga, zumba, hingga latihan fungsional. Karena itu, gym pada masa kini lebih tepat dipahami sebagai ruang yang mendukung kesehatan dan kebugaran masyarakat secara menyeluruh, bukan semata-mata sebagai tempat membentuk tubuh secara estetis.

Perubahan cara pandang terhadap gym berlangsung seiring meningkatnya konsumsi konten kebugaran di media sosial. Setelah fasilitas olahraga kembali beroperasi, minat masyarakat terhadap aktivitas kebugaran tidak menunjukkan penurunan yang berarti. Sebaliknya, kebiasaan yang terbentuk selama pandemi terus berlanjut dan diperkuat oleh kehadiran berbagai fitness influencer di Instagram, TikTok, dan YouTube. Melalui unggahan mengenai rutinitas latihan, pola makan sehat, hingga transformasi tubuh, mereka membuat informasi tentang kebugaran semakin mudah diakses oleh berbagai kalangan.

Fenomena tersebut didukung oleh penelitian Wenjia Li berjudul The Impact of Fitness Influencers on a Social Media Platform on Exercise Intention during the COVID-19 Pandemic: The Role of Parasocial Relationships. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa popularitas fitness influencer justru meningkat ketika aktivitas fisik masyarakat global secara umum mengalami penurunan. Temuan ini mengindikasikan bahwa media sosial berperan penting dalam menjaga minat masyarakat terhadap olahraga, bahkan ketika akses terhadap ruang-ruang kebugaran masih terbatas.

Pengaruh fitness influencer tidak hanya tercermin dari besarnya jumlah pengikut yang mereka miliki, tetapi juga dari kemampuan membangun hubungan parasosial (parasocial relationship) dengan audiens. Hubungan tersebut menciptakan kedekatan emosional yang membuat pengikut merasa memperoleh motivasi, dukungan, dan pendampingan meskipun interaksi yang terjadi bersifat satu arah. Dalam konteks kebugaran, hubungan parasosial berkontribusi terhadap meningkatnya motivasi individu untuk memulai maupun mempertahankan kebiasaan berolahraga secara konsisten.

Perubahan perilaku tersebut sejalan dengan pandangan Ade Rai yang dikutip dalam penelitian Maysizar berjudul Trend Gaya Hidup Sehat di Fitness Center (Studi tentang Gaya Hidup Sehat Gym di Fitness Center Empire Kota Bandar Lampung). Penelitian tersebut menjelaskan bahwa sekitar satu dekade lalu kesehatan belum memiliki nilai komersial yang kuat dalam industri kebugaran. Seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan penampilan, aktivitas kebugaran mulai diposisikan sebagai bagian dari gaya hidup modern. Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa gym tidak lagi dipahami semata mata sebagai tempat berolahraga, tetapi juga sebagai ruang yang merepresentasikan budaya hidup sehat.

Perubahan cara pandang ini paling jelas terlihat pada generasi muda. Bagi sebagian anak muda, gym telah berkembang menjadi ruang untuk membangun identitas diri, menjalin relasi sosial, sekaligus mengekspresikan gaya hidup. Paparan konten kebugaran yang terus hadir di media sosial membuat tren tersebut semakin cepat menyebar, terutama di kalangan generasi yang tumbuh bersama Instagram, TikTok, dan YouTube. Meski demikian, perkembangan ini juga menghadirkan pertanyaan yang patut dikaji lebih lanjut. Apakah meningkatnya minat terhadap gym benar-benar berangkat dari kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan, atau justru lebih banyak dipengaruhi oleh dorongan untuk mengikuti tren dan memperoleh pengakuan sosial di ruang digital? Jawaban atas pertanyaan tersebut menjadi penting untuk memahami apakah budaya kebugaran yang berkembang saat ini akan bertahan sebagai investasi kesehatan jangka panjang atau hanya menjadi bagian dari dinamika tren yang terus berubah. (*)

Reporter Pajar Dwi Sanjaya
Editor Aris Abdulsalam