Ayo Netizen

Bedah Publikasi Pesan Program Pendampingan Gizi dalam Pencegahan Stunting

Oleh: DIZA RHEFALINA PUTRI
Ilustrasi penulis sedang membedah narasi iklan. (Dokumentasi pribadi)

Nestle Indonesia melakukan program pendampingan gizi sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pencegahan stunting yang dipublikasikan melalui berbagai platform komunikasi perusahaan. Publikasi program tersebut menunjukkan upaya Nestle Indonesia dalam membangun citra perusahaan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu stunting.

Dari ketiga platform yang dianalisis, pemberitaan menunjukkan konsistensi key message mengenai intervensi gizi yang dilakukan Nestle Indonesia dan menunjukan keberhasilan dalam mendukung pencegahan stunting. Penggunaan narasi mengenai komitmen intervensi gizi tersebut didukung oleh penyajian data capaian program, sehingga hal ini menunjukkan kepedulian Nestle Indonesia terhadap isu stunting di Indonesia. 

Menurut saya, teknik penulisan pada website resmi dan media online sudah menggunakan pola piramida terbalik dengan pendekatan to the point yang menekankan informasi penting di awal pemberitaan. Informasi mengenai nama program, tujuan kegiatan, serta dampak program ditempatkan di bagian pembuka untuk meningkatkan ketertarikan audiens agar membaca pemberitaan lebih lanjut.

Sedangkan di Instagram menggunakan penyampaian pesan berbasis visual melalui tayangan singkat yang menampilkan penerima manfaat untuk membangun kedekatan emosional audiens terhadap isu stunting. Perbedaan teknik penulisan tersebut menunjukkan bahwa Instagram lebih diarahkan untuk membangun kedekatan emosional, sedangkan website resmi dan media online digunakan untuk memperkuat kredibilitas perusahaan.

Berdasarkan yang saya perhatikan, Nestle Indonesia berhasil menunjukkan konsistensi gaya komunikasi melalui kesamaan key message dan fokus pesan di seluruh platform media yang digunakan perusahaan. Ketiga media tersebut fokus menekankan narasi mengenai dampak nyata program pendampingan gizi yang dilakukan Nestle dalam mendukung upaya pencegahan stunting di Indonesia secara konsisten. 

Website resmi dan media online menggunakan gaya formal berbasis data dan fakta dengan penyampaian informasi yang objektif serta mudah dipahami oleh audiens. Sementara itu, gaya komunikasi yang digunakan di Instagram lebih singkat dan berfokus untuk membangun keterikatan secara emosional untuk meningkatkan engagement dengan audiens.

Menurut Jeong & Park (2023, sebagaimana dikutip dalam Abdurrahman, 2026), setiap jenis konten tulisan humas, baik siaran pers, artikel, maupun media sosial, memiliki logika struktur dan gaya bahasa yang berbeda. Hal ini terlihat dari perbedaan gaya komunikasi Nestle Indonesia antara artikel dan media sosial, dimana artikel bersifat formal dan informatif, sedangkan media sosial mengutamakan visual. 

Temuan tersebut menunjukkan bahwa artikel memberikan ruang yang lebih luas bagi Nestle Indonesia untuk mengkomunikasikan informasi, program, dan nilai perusahaan secara komprehensif. Oleh karena itu, artikel tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk membangun thought leadership, memperkuat reputasi, dan menciptakan keterikatan yang bermakna dengan stakeholder (Abdurrahman, 2026). 

Secara keseluruhan, key message, teknik penulisan, dan gaya komunikasi yang digunakan Nestle Indonesia di setiap platform sudah konsisten. Perbedaan yang paling menonjol hanya terlihat di Instagram, dimana pesan dibuat singkat dan visual untuk menyesuaikan karakteristik audiens media sosial. (*)

Reporter DIZA RHEFALINA PUTRI
Editor Aris Abdulsalam