Ayo Netizen

Bandung dalam Bayang-Bayang Begal: Realitas atau Efek Viral?

Oleh: Djoko Subinarto
Tersangka Begal di Kawasan Cicendo Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)

BELAKANGAN ini, kata ‘begal’ seperti mendapatkan panggung yang lebih besar.  Kata ini muncul dan diperbincangkan serta dibagikan dari satu layar gawai ke layar gawai lain.

Pertanyaannya adalah: apakah begal memang meningkat secara signifikan di Kota Bandung, atau kita hanya semakin sering saja  mendengar tentangnya?

Ditilik dari sisi pemberitaan, setiap kejadian yang dramatis -- terutama yang melibatkan kekerasan -- umumnya memiliki nilai berita tinggi. Ia mudah menarik perhatian, mudah dibagikan, dan mudah memicu emosi.

Peluang viral

Dalam logika media modern, terutama media digital, perhatian adalah mata uang. Semakin mengerikan sebuah peristiwa, semakin besar peluangnya untuk viral. Begal, dengan segala unsur ketegangan dan ancamannya, menjadi “konten” yang kuat dan nyaris "sempurna".

Di sisi lain, media juga tidak sepenuhnya bisa disalahkan. Mereka melaporkan apa yang terjadi. Ketika kasus begal muncul, ada kewajiban untuk memberitakannya. Mengabaikannya justru bisa dianggap menutup-nutupi realitas.

Maka, mulai muncullah ketegangan antara realitas objektif dan realitas yang dirasakan. Data kriminalitas mungkin menunjukkan kenaikan yang tidak terlalu drastis, tetapi persepsi publik bisa saja melonjak-lonjak jauh lebih tinggi.

Dalam kacamata psikologi, hal tersebut dikenal sebagai availability heuristic, yakni ketika kita menilai sesuatu lebih sering terjadi hanya karena kita lebih sering mendengarnya. 

Jika kemudian begal menjadi terasa “di mana-mana”, maka ia bukan karena selalu ada, melainkan karena selalu hadir dalam percakapan warga.

Dan media sosial memperkuat efek tersebut. Satu kejadian di satu titik Kota Badung bisa terasa seperti ancaman yang menyelimuti seluruh Bandung. Video pendek, narasi dramatis, dan komentar emosional mempercepat penyebaran rasa takut di kalangan warga.

Ketakutan tersebut  tidak sepenuhnya irasional. Ia punya dasar. Namun, ia juga diperbesar oleh cara informasi sekarang ini yang bergerak cepat, masif, dan sering kali tanpa konteks.

Kota besar seperti Bandung memang rentan terhadap dinamika semacam itu. Harus diakui, pertumbuhan kota yang cepat tidak selalu diikuti oleh distribusi keamanan yang merata.

Sekadar ilustrasi misalnya, ada wilayah yang terang dan ramai, tetapi ada juga wilayah-wilayah yang terasa kosong, gelap, dan terpinggirkan. Di titik-titik inilah cerita tentang begal dan kengeriannya bisa mudah lahir.

Masalahnya, ketika narasi-narasi ihwal begal itu menyebar, batas antara lokasi spesifik dan keseluruhan kota menjadi kabur. Satu ruas jalan yang rawan bisa saja membawa persepsi bahwa seluruh kota terasa berbahaya.

Kondisi ekonomi

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)

Aksi kriminalitas tak jarang dikaitkan dengan aspek ekonomi. Faktanya, tekanan hidup di kota, ketimpangan, dan keterbatasan akses pekerjaan bisa menjadi latar belakang munculnya kriminalitas jalanan. 

Namun, penting untuk berhati-hati agar tidak menyederhanakan persoalan. Tidak semua pelaku kejahatan berasal dari kondisi ekonomi sulit, dan sebaliknya, tidak semua orang yang hidup dalam kesulitan memilih jalan kriminal. 

Ada juga faktor lain yang ikut bermain, mulai dari lingkungan sosial, peluang, hingga pilihan individual. Di titik inilah respons aparat menjadi penting sekaligus membentuk persepsi publik. 

Ketika, misalnya, pendekatan yang ditekankan adalah “tindakan tegas”, pesan yang sampai ke masyarakat bukan cuma soal penegakan hukum, tetapi juga tentang tingkat ancaman yang sedang dihadapi. 

Pesan "tindakan tegas" itu bisa memberi rasa aman bagi sebagian orang, namun pada saat yang sama juga memperkuat kesan bahwa situasi kriminalitas memang sedang serius, bahkan mendekati genting.

Di sisi lain, pesan “tindakan tegas” juga bisa berpotensi berubah menjadi tindakan yang berlebihan. Dalam praktiknya, ia bisa bergeser dan diterjemahkan secara beragam, bahkan berlebihan, terutama ketika bertemu dengan emosi publik yang sedang tegang. 

Ketika batas antara penegakan hukum dan pelampiasan kemarahan menjadi kabur, ruang bagi tindakan yang melampaui kewajaran pun bisa terbuka.

Karena itu, menjaga garis tipis antara kewaspadaan dan kepanikan menjadi krusial. Kewaspadaan membuat warga lebih siap dan peduli, tetapi kepanikan justru dapat melumpuhkan nalar, memperbesar prasangka, dan mendorong reaksi yang tidak proporsional.

Satu ekosistem

Media, aparat, dan masyarakat sebenarnya berada dalam satu ekosistem yang sama. Cara satu pihak merespons akan mempengaruhi cara pihak lain merespons balik.

Narasi tentang begal yang mengemuka belakangan ini di Kota Bandung tak melulu menyakut soal kejahatan itu sendiri, melainkan pula menyangkut soal bagaimana kita memaknainya -- apakah narasi itu menjadi peringatan yang proporsional, atau bayangan yang membesar ketakutan kita tanpa kendali.

Kota ikut dibangun dan dibentuk dari rasa aman. Dan rasa aman tidak hanya ditentukan oleh angka statistik, tetapi oleh cerita-cerita yang beredar di antara warganya.

Jika cerita yang dominan adalah ketakutan, maka, bahkan kota yang relatif aman pun bisa terasa terus mencekam. Sebaliknya, ketika narasi yang beredar lebih seimbang, warga dapat tetap waspada tanpa kehilangan rasa percaya mereka -- percaya bahwa ruang publik masih layak dihuni, dan percaya bahwa mekanisme keamanan tetap berjalan sebagaimana mestinya. 

Oleh karenanya, yang dibutuhkan bukan sekadar penindakan, tetapi juga penataan narasi, yakni bagaimana media melaporkan, bagaimana aparat berkomunikasi, dan bagaimana warga berbagi informasi menjadi sama pentingnya.

Persoalan begal tidak semata bergantung pada berapa banyak begal yang ditangkap, tetapi juga bergantung pada bagaimana kita, sebagai warga kota, memilih untuk melihat, memahami, dan merespons realitas yang ada secara rasional. (*)

Reporter Djoko Subinarto
Editor Aris Abdulsalam