Ayo Netizen

Masih Ada Asa untuk Pos Indonesia

Oleh: Totok Siswantara
Ilustrasi kondisi Posindo yang sedang menghadapi badai disrupsi namun masih ada harapan yang tersisa. (Sumber: Gemini | Foto: Totok Siswantara)

Perjalanan PT Pos Indonesia (Posindo) saat ini ibarat sedang dihempas badai disrupsi teknologi yang sangat kuat. Namun begitu, badai pasti berlalu, masih ada asa untuk Posindo untuk bangkit kembali jika menemukan strategi bisnis yang tepat.

Posindo yang berkantor pusat di Kota Bandung, saat ini tengah menghadapi krisis keuangan dan tata kelola yang berat. Masalah ini memuncak dengan gagal bayarnya kewajiban imbal jasa sukuk sebesar Rp24,11 miliar, sehingga peringkat utang perusahaan diturunkan.

Krisis ini menyebabkan mundurnya direktur utama dan menyebabkan keterlambatan pembayaran gaji karyawan. Krisis likuiditas Posindo dimana BUMN ini mengalami kondisi kas yang menipis hingga menunda pembayaran imbal jasa Sukuk Ijarah senilai Rp 24,12 miliar yang jatuh tempo pada 7 Juli 2026.

Akibatnya, Fitch Rating memangkas peringkat utang perusahaan dari A menjadi C. Manajemen mengalami gonjang-ganjing dan Mantan Dirut, Daud Joseph, mengundurkan diri secara mendadak pada awal Juli 2026 setelah hanya menjabat sekitar tiga bulan. Posisi ini langsung diisi oleh M. Iskandar Kunaefi bersama jajaran direksi baru untuk melakukan perombakan tata kelola.

Dalam 5 tahun terakhir, pendapatan Posindo sangat bergantung pada proyek bantuan pemerintah (seperti bansos). Saat proyek tersebut turun drastis pada tahun 2025 (dari triliunan menjadi hanya Rp300 miliar), total pendapatan perusahaan anjlok ke angka Rp 3,9 triliun.

Bangsa yang memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah, namun tanpa diimbangi oleh infrastruktur dan SDM logistik yang berkinerja baik bisa menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang kurang berkualitas dan penyerapan tenaga kerja lokal yang kurang optimal. Sektor logistik merupakan asa bagi karyawan Posindo.

Jika sektor logistik ditransformasikan dengan infrastruktur yang sesuai dengan teknologi terkini dan ditangani oleh SDM yang berdaya saing global, niscaya pengelolaan SDA nasional menghasilkan nilai tambah yang tinggi dan memperluas lapangan kerja.

Kinerja logistik suatu negara diukur melalui Indeks Kinerja Logistik (Logistic Performance Index/LPI). LPI merupakan sebuah instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi efisiensi dan keberlanjutan sistem logistik suatu negara atau wilayah.

Menyimak laporan LPI tahun 2023, Indonesia memiliki skor total 3,0 atau berada di peringkat 61. Nilai tersebut sedikit menurun dibandingkan LPI 2018 (skor 3,15 atau peringkat 46), namun masih lebih baik jika dibandingkan LPI 2016 (skor 2,98 atau peringkat 63). Jika dibandingkan dengan negara-negara berpenghasilan menengah atas (upper-middle income country) yang hanya berada di kisaran 2,54, Indonesia masih tergolong di atas rata-rata.

Namun jika dibandingkan dengan negara mitra yang memiliki pertumbuhan tergolong tinggi di Asia seperti Tiongkok (skor 3,7 atau peringkat 19) dan India (skor 3,4 atau peringkat 47), serta negara-negara ASEAN seperti Singapura (skor 4,14 atau peringkat 1), Malaysia (skor 3,43 atau peringkat 32), dan Thailand (skor 3,26 atau peringkat 45), maka pemerintahan baru Indonesia memiliki pekerjaan rumah yang cukup berat terkait kinerja logistik.

Kinerja logistik nasional yang masih tertinggal oleh negara macan ASEAN harus segera dibenahi. Bisnis logistik nasional masih belum optimal karena hanya sebatas proses distribusi produk akhir yang nilai ekonomisnya kurang berarti. Selain itu kegiatan atau bisnis logistik banyak dilakukan secara konvensional dengan infrastruktur yang sudah tertinggal.

Patut disayangkan, Posindo yang memiliki cabang di seluruh kecamatan kini didera masalah keuangan yang serius. Portofolio usaha Posindo yang meliputi jasa kurir, jasa keuangan, jasa ritel, dan properti saat ini sulit bersaing karena model bisnisnya belum ditransformasikan secara tuntas.

Untuk menghadapi persaingan yang ketat, Posindo membutuhkan investasi besar untuk mentransformasi diri agar bisa kompetitif di era ekonomi digital. Namun hingga kini investasi yang berupa dana segar tak kunjung menghampiri.

Posindo perlu mencoba lagi langkah melepas sahamnya secara perdana kepada masyarakat atau initial public offering (IPO) seperti yang pernah dilakukan. Tetapi saat itu belum bisa terlaksana. Saat itu Komite Privatisasi meminta Posindo mengkaji kembali revaluasi asetnya sebelum melantai di Bursa Efek.

Mestinya ketika IPO diterapkan semua proposal bisnis Posindo mulai dari jasa logistik, perbankan, properti, hingga jasa ritel harus mampu meyakinkan seluruh pemangku kepentingan.

Ada aspek penting untuk membangkitkan Posindo dalam persaingan global. Yakni potensi insourcing. Berbagai bidang usaha Posindo yang ada pada saat ini memerlukan transformasi. Bidang usaha itu meliputi layanan standar, layanan keagenan atau kemitraan, dan layanan pengembangan yakni Poserba dengan mengacu kepada konsep one stop shopping.

Bisnis logistik di Indonesia masih belum optimal karena hanya sebatas proses distribusi produk akhir yang nilai ekonomisnya kurang begitu besar. Selain itu kegiatan atau bisnis logistik banyak dilakukan secara konvensional dengan infrastruktur kuno dan minus standardisasi.

Bisnis jasa logistik di Indonesia pada saat ini juga terkendala oleh masalah warehouse yang multiguna. Mestinya ada infrastruktur warehouse semacam Vendor Villa yang ada di sekitar kantor pusat Walmart di Arkansas Amerika Serikat.

Infrastruktur diatas bisa mestinya bisa dilaksanakan oleh Posindo hingga ke tingkat kecamatan dengan mentransformasikan kantor pos sebagai locality mart sebagai plasa produk lokal yang didukung dengan media baru dan komunitas prosumer yang mampu berperan sebagai sel aktif.

Sudah saatnya Posindo memiliki layanan total logistik berupa usaha jasa yang diberikan mulai dari layanan warehousing, transporting dan sekaligus juga layanan freight forwarding sebagai satu kesatuan. Langkah kedepan akan lebih baik jika pengelola Posindo mampu membentuk usaha warehousing yang merupakan proses penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran barang sebagai bagian dari supply chain management yang dikelola secara efisien dan efektif.

Proses operasi layanan warehousing itu secara garis besar meliputi purchasing order, realisasi purchasing order, konfirmasi purchasing order, penempatan barang (Put away) dan konfirmasi daftar pout away, proses dispatch, sales order, realisasi sales order, konfirmasi sales order dan replenishment order serta konfirmasi replenishment order.

Pada saat ini seharusnya pihak produsen lokal tidak perlu dipusingkan oleh jalur distribusi produknya supaya tiba tepat waktu di agen. Atau jika menginginkan produknya diantar secara door to door. Bisnis logistik dunia semakin datar karena diwarnai dengan fenomena insourcing.

Fenomena itu telah ditunjukan oleh perusahaan multinasional seperti FedEx dan UPS. Perusahaan itu tidak hanya mengirim paket, melainkan juga menangani berbagai aspek logistik secara modern.

Dengan proses insourcing berbagai kesulitan laten yang dialami oleh perusahaan yang bergerak di bidang manufakturing bisa mendapatkan solusi yang jitu. Hal itu seperti dialami oleh Plow & Hearth (P&H) yang merupakan peritel katalog dan internet yang besar.

Suatu ketika P&H mengalami masalah dalam pengiriman produk mebel yang sering rusak ketika sampai di tangan pelanggan. Kemudian UPS memberikan solusi dengan mengirim ahli pengepakan lalu mengadakan penyuluhan pengepakan untuk kelompok pembelian P&H. Tujuannya adalah membantu P&H untuk memahami bahwa keputusan membeli dari pemasok harus dipengaruhi oleh kualitas barang yang ditawarkan maupun pengepakan dan pengirimannya. (*)

Reporter Totok Siswantara
Editor Aris Abdulsalam