Dalam press release dan media Instagram resmi secara umum mengandung kata kunci yang sama, yaitu pembangunan Sekolah Rakyat Brebes sebagai bentuk dukungan program pemerintah. Keduanya juga mencantumkan beberapa upaya untuk mempercepat dan mengoptimalkan proses pembangunan serta dukungan berkontribusi untuk menciptakan kualitas sumber daya manusia yang unggul.
Namun, menurut saya penggunaan kata pada press release menunjukkan konteks yang lebih formal, rinci, dan berfokus pada data dibandingkan dengan media Instagram. Hal ini dikarenakan media sosial lebih mengutamakan menariknya suatu konten, kecepatan dan kemudahan informasi tersebut untuk dipahami sehingga mudah untuk dibagikan kepada pengguna lainnya.
Terdapat sedikit perbedaan pada teknik penulisan press release dan media, press release cenderung menggunakan teknik penulisan eksposisi informatif yang terstruktur, menyertakan data, dan rinci. Sedangkan pada media Instagram, masih menggunakan teknik penulisan eksposisi namun dipersingkat dan diperhalus karena menyesuaikan dengan karakteristik sosial media agar memudahkan audiens memahami konten tersebut.
Menurut saya, perbedaan teknik penulisan ini dilakukan karena kebutuhan masing-masing yang berbeda begitu juga dengan tujuan dari publikasi informasi itu sendiri. Dibuatnya press release untuk media atau stakeholder yang bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas perusaahan, sementara media Instagram bertujuan untuk bisa diterima dan lebih dekat dengan publik.

PT Wijaya Karya tetap menunjukkan “konsistensi pesan” dalam press release dan Instagram yang sama-sama berfokus pada dukungan dan bantuannya terhadap pembangunan infrastruktur Sekolah Rakyat Brebes. Kedua pesan tersebut memberikan informasi bentuk dukungan WIKA dengan melakukan beberapa upaya untuk mempercepat proses pembentukan sumber daya yang unggul.
Namun, walaupun menyajikan pesan yang sama, keduanya memiliki sedikit perbedaan gaya penulisan sehingga menurut saya keduanya tidak konsisten dalam penulisan. Tetapi, inkonsistensi tersebut tidak menghasilkan perbedaan hasil akhir yang signifikan karena keduanya bisa diterima oleh publik sesuai kebutuhannya masing-masing dengan baik.
Menurut (Abdurrahman, 2026), penulisan PR tidak hanya menuntut informasi yang akurat, tetapi juga penyampaian yang efisien dan sesuai kanal. Maka dari itu, perbedaan teknik penulisan ini terjadi karena adanya “penyesuaian” pada kebutuhan setiap jenis konten agar mencapai target yang ditetapkan.
Temuan ini memperlihatkan bahwa keberhasilan dari penyampaian informasi tidak hanya ditentukan oleh isi pesan yang disampaikan, tetapi juga cara pesan tersebut dikomunikasikan. Oleh karena itu, menurut saya yang dilakukan oleh PT Wijaya Karya sendiri sudah tepat karena teknik penulisan merupakan faktor penting dalam efektivitas komunikasi perusahaan. (*)
Referensi
- Abdurrahman, M. S. (2026). Digital Public Relations Writing: Relevansi Kemampuan Menulis Di Era Ai. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.