Ayo Netizen

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Oleh: Dias Ashari
Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))

Hari Anak Nasional (HAP) kerap diperingati pada tanggal 23 Juli 2026. Sejauh ini perayaan tersebut seringkali sebagai hari kasih sayang yang didedikasikan untuk anak. Banyak juga narasi yang menyebutkan bahwa tujuan diperingatinya hari anak adalah untuk memberikan penghormatan, perlindungan serta pemenuhan hak anak.

Sekilas hal tersebut memang seperti sebuah mimpi yang menjanjikan bagi mereka yang bahkan kerap kali dirampas haknya oleh orang dewasa yang tidak bertanggung jawab. Membicarakan soal anak mungkin bagi seseorang biasa saja karena bisa saja di masa lalu pernah mendapat trauma yang berhubungan dengan anak kecil. Namun anak kecil juga bisa jadi sangat berarti bagi ibu yang melahirkannya. Namun yang jelas anak-anak adalah manusia yang patut mendapat perlindungan karena mereka belum bisa sepenuhnya berdikari.

Fitrahnya seorang anak yang dilahirkan ke dunia ini ada dalam kondisi suci dan bersih. Dan orang dewasalah yang berperan untuk memberikan warna dalam kehidupannya. Kedua orang tua memberikan warna melalui cara mengasuhnya. Lingkungan memberikan warna bagaimana dirinya berinteraksi dalam ranah sosial. Guru memberikannya warna bagaimana seorang anak bisa memahami makna belajar dan mencari ilmu. Agama memberikannya keyakinan dan pencerahan bagaimana seorang anak bisa berbakti kepada Tuhan-Nya. Dan semua siklus itu pasti diwarnai oleh orang dewasa yaitu manusia yang lebih dulu lahir ke dunia ini.

Seperti layaknya peringatan hari kemerdekaan tapi apakah kondisi negara kita benar-benar telah merdeka dalam berbagai aspek kehidupan ? begitu pun dengan peringatan hari anak nasional, apakah benar anak-anak sudah merdeka dari rasa aman, nyaman dan sejahtera ? tentu jawabannya belum tentu. Namun bukan berarti memperingati momentum sesuatu adalah hal yang salah tapi kadang kita juga perlu memahami hakikat dari sebuah perayaan itu apa ? dan bukan sekedar momentum yang lewat begitu saja tapi isu pentingnya justru terlupakan.

Kembali kepada tujuan hari anak nasional yaitu sebagai bentuk penghormatan, perlindungan serta pemenuhan hak anak-- apakah ini benar-benar sudah terlaksanakan dengan baik ? Saya rasa bukan hanya narasi tapi fakta di lingkungan yang menjawab dengan jujur tentang kondisi anak-anak di sekitar kita.

Berdasarkan data Pusiknas Bareskim Polri di wilayah hukum Jawa Barat tercatat 345 kasus kekerasan dan kejahatan terhadap anak sejak Januari hingga 21 April 2026. Saya rasa angka yang terdapat di polri pun hanya yang terlapor karena kita tidak pernah tau berapa banyak kasus seperti ini yang tidak terdeteksi dan seringnya sudah parah baru terlapor.

Meski sudah ada lembaga yang menaungi anak-anak untuk mendapatkan perlindungan tapi di ruang-ruang terkecil seperti rumah atau sekolah belum tentu semua anak mendapat perlindungan yang sama dari orang dewasa. Berapa banyak anak-anak yang dihukum oleh orang tuanya karena tidak bisa memenuhi ekspektasi orang tuanya-- ditengah orangtuanya saling berlomba agar anaknya bisa menjadi yang terbaik di mata orang lain. Juga isu yang paling menyesakkan ketika ruang-ruang sekolah tidak lagi aman bagi anak-anak karena terdapat oknum orang dewasa yang bisa saja melakukan kekerasan seksual. Banyak berita dan temuan bahwa ruang-ruang tersebut tidak sepenuhnya aman.

Selanjutnya ketika setiap anak di Indonesia seharusnya mendapat hak atau kesempatan yang layak dalam mendapatkan pendidikan demi masa depan yang layak tidak hanya secara intelektual tapi mental dan bekal untuk mengarungi masa depan. Mungkin di perkotaan sebagian besar anak-anak sudah mendapatkan kesempatan bersekolah dan fasilitas pendukung belajar yang memadai tapi Indonesia itu terlalu luas jika kita hanya mengacu pada permasalahan di kota saja.

Musibah yang menimpa Aceh misalnya hingga hari ini fasilitas disana masih belum benar-benar kondusif untuk melakukan mobilitas. Ditandai dengan pemadaman listrik dan akses jembatan menuju sekolah yang tak kunjung diperbaiki. Mereka yang masih anak-anak tetap menerjang sungai demi pergi ke sekolah untuk belajar. Padahal sudah menjadi hak mereka untuk mendapatkan akses serta fasilitas yang aman dan nyaman. Namun hingga hari ini beberapa media besar memberitakan bagaimana kondisi di Aceh yang sepenuhnya belum pulih. Banyak berseliweran seorang anak dan seorang guru yang membopong anak untuk tetap pergi ke sekolah meski ancaman nyawa berada di depan mata mereka.

Lantas apakah anak-anak sudah benar-benar merdeka ? saya rasa selama masih ada kekerasan, pembullyan, intimidasi dan hak-hak pendidikan yang belum terpenuhi maka selama itu juga mereka tidak bisa sepenuhnya merayakan hari anak nasional dengan perasan aman dan nyaman. (*)

Reporter Dias Ashari
Editor Aris Abdulsalam