Ayo Netizen

Dulu Debu Pasir Kini Kapur

Oleh: bram herdiana
Debu halus dari aktivitas pengolahan batu gamping menempel di telapak tangan warga setempat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Awal warsa 1980-an, masyarakat Bandung Raya pernah mengalami fenomena alam yang sulit dilupakan, yaitu hujan abu vulkanik akibat letusan Gunung Galunggung di Kabupaten Tasikmalaya. Lebih dari empat puluh tahun kemudian, sebagian wilayah Bandung Barat kembali menghadapi fenomena serupa, meskipun berasal dari sumber yang berbeda. Jika dahulu debu berasal dari aktivitas vulkanik, kini warga di sekitar Cipatat menghadapi hujan debu kapur yang bersumber dari aktivitas penambangan dan pengolahan batu kapur.

Gunung Galunggung meletus hebat pada 5 Mei 1982 dan aktivitasnya berlangsung hingga tanggal 8 Januari 1983. Letusan berupa dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar tersebut juga mengeluarkan jutaan ton material vulkanik berupa abu, pasir, dan batuan pijar ke atmosfer. Angin membawa abu vulkanik hingga ratusan kilometer dari pusat letusan sehingga wilayah Bandung Raya turut merasakan dampaknya.

Galunggung melontarkan materi berupa abu halus sampai batu dengan diamater sampai puluhan centimeter. Lontaran itu bahkan menyebabkan pesawat milik British Airways melakukan pendaratan darurat di Jakarta. Pesawat menempuh perjalanan London-Auckland (Selandia Baru). Saat kejadian, pesawat berada di atas Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Di saat itulah satu per satu dari ke-4 mesin jetnya mati akibat kemasukan abu Galunggung.

Pada masa itu, langit Bandung sering tampak kelabu meskipun tidak setiap hari. Abu vulkanik jatuh seperti gerimis halus yang menutupi jalan, atap rumah, kendaraan, pepohonan, dan lahan pertanian. Aktivitas masyarakat terganggu karena jarak pandang menurun dan udara menjadi tidak nyaman untuk dihirup. Banyak warga menggunakan masker sederhana atau kain penutup hidung ketika beraktivitas di luar rumah. Setelah siang hari lewat langitpun terang kembali, masyarakatpun segera membersihkan halaman, kaca-kaca rumah dan genting-genting yang tebal oleh debu Galunggung.

Meski menimbulkan gangguan, abu vulkanik Galunggung memiliki kandungan mineral yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Oleh karena itu, beberapa tahun setelah letusan, lahan pertanian di sekitar kawasan terdampak justru menjadi lebih produktif. Dikutip dari berbagai sumber, letusan ini menimbulkan korban jiwa dan luka-luka, menghancurkan permukiman serta bangunan umum, bahkan memaksa sebagian penduduk untuk ditransmigrasikan ke luar Pulau Jawa. Besarnya dampak tersebut menjadikan letusan Galunggung 1982 berstatus sebagai bencana nasional.

Walaupun banyak kerusakan yang ditimbulkan, letusan Galunggung juga meninggalkan material letusan dengan nilai ekonomi tinggi. Pasir hasil muntahan gunung ini dikenal memiliki kualitas baik dan dimanfaatkan tidak hanya oleh masyarakat setempat, tetapi juga untuk berbagai proyek pembangunan di kota-kota lain, Ratusan juta meter kubik material vulkanik dari Galunggung inilah yang membentuk kontur wilayah sekitarnya menjadi ribuan bukit pasir setinggi lima hingga lima puluh meter. Bentuknya bergelombang, menyerupai lautan bukit. Fenomena letusan Gunung Galunggung, dengan demikian, tidak hanya dipahami sebagai rangkaian bencana alam, tetapi juga sebagai bagian dari proses panjang pembentukan ruang hidup masyarakat. Kekayaan alam yang melimpah serta pola kehidupan yang tumbuh di atas material vulkanik.

Berbeda dengan peristiwa Galunggung yang merupakan bencana alam, hujan debu yang kini terjadi di kawasan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, sebagian besar disebabkan oleh aktivitas industri pengolahan dan penambangan batu kapur. Dalam beberapa waktu terakhir, warga mengeluhkan debu putih yang menyelimuti rumah, jalan, kendaraan, hingga tanaman setiap hari. Fenomena ini bahkan dijuluki masyarakat sebagai "hujan salju" karena warna debunya yang putih.

Debu kapur berukuran sangat kecil sehingga mudah terbawa angin. Ketika musim kemarau atau cuaca kering, partikel debu beterbangan dan mengendap di lingkungan permukiman. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Dinas Kesehatan serta Dinas Lingkungan Hidup telah melakukan pemantauan terhadap kondisi tersebut.

Hasil pengujian lingkungan bahkan menunjukkan beberapa parameter pencemaran udara seperti TSP, PM10, dan PM2,5 melebihi baku mutu yang ditetapkan. Partikel-partikel tersebut berpotensi masuk ke saluran pernapasan dan menyebabkan gangguan kesehatan apabila terpapar dalam waktu lama. Sekilas, hujan abu Galunggung dan hujan debu kapur Cipatat memiliki kemiripan. Keduanya menyebabkan udara menjadi keruh, lingkungan tertutup lapisan debu, serta menimbulkan gangguan pernapasan.

Foto udara pada Jumat 17 Juli 2026 memperlihatkan kawasan industri pengolahan batu gamping di Kecamatan Cipatat yang memutih tertutup debu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Paparan debu dalam jangka pendek dapat menyebabkan:

· Batuk dan bersin

· Iritasi mata

· Tenggorokan kering

· Sesak napas

· Alergi kulit

Sementara dalam jangka panjang, paparan partikel debu halus dapat meningkatkan risiko gangguan paru-paru dan infeksi saluran pernapasan (ISPA), terutama bagi kelompok rentan.

Untuk melindungi diri dari dampak hujan debu, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah berikut:

  • Menggunakan Masker

Masker, terutama jenis N95 atau setara, dapat membantu menyaring partikel debu halus sebelum masuk ke saluran pernapasan.

  • Menutup Ventilasi Saat Debu Tinggi

Pintu dan jendela sebaiknya ditutup ketika konsentrasi debu sedang tinggi untuk mengurangi masuknya partikel ke dalam rumah.

  • Membersihkan Rumah Secara Rutin

Gunakan kain lembap saat membersihkan lantai, meja, dan perabot agar debu tidak kembali beterbangan.

  • Mencuci Tangan dan Wajah

Setelah beraktivitas di luar ruangan, segera cuci tangan, wajah, dan bagian tubuh yang terkena debu.

  • Menanam Pohon

Pepohonan dan tanaman dapat membantu menangkap partikel debu sehingga kualitas udara menjadi lebih baik.

  • Memeriksa Kesehatan Secara Berkala

Apabila mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, atau iritasi mata yang tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.

  • Pengendalian oleh Industri

Perusahaan pengolahan kapur perlu memasang sistem penyaring debu, melakukan penyiraman jalan secara rutin, serta memastikan aktivitas produksi memenuhi standar lingkungan yang berlaku.

Fenomena hujan debu di Bandung Raya menunjukkan bahwa kualitas lingkungan sangat memengaruhi kehidupan masyarakat. Jika pada tahun 1980-an warga menghadapi hujan abu akibat letusan Gunung Galunggung, kini sebagian warga Bandung Barat harus berhadapan dengan hujan debu kapur yang berasal dari aktivitas industri. Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa pembangunan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan kesehatan masyarakat agar generasi mendatang dapat menikmati udara yang segar. (*)

Reporter bram herdiana
Editor Aris Abdulsalam